Cerpen Terbaik Kompas 2010, Cerpen Plagiat?

Gibb
sinekdoke.blogspot.com

Saya bukan orang yang terjun di dunia sastra, bukan penulis, apalagi kritikus. Sebagai orang yang awam seperti itu, seperti ada semacam persetujuan di dalam benak saya. Sebuah persetujuan bahwa Kompas adalah salah satu barometer sastra Indonesia, melalui cerpen-cerpen yang diterbitkan tiap hari minggu. Pendapat ini tentu tidak tepat, maklumi saja, kompas adalah media yang sangat besar, dan saya adalah penikmat awam. Continue reading “Cerpen Terbaik Kompas 2010, Cerpen Plagiat?”

Cerpen Pilihan Kompas: Dodolitdodolitdodolibret Cerpen Terbaik

Pepih Nugraha
Kompas 27 Juni 2011

“Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma terpilih sebagai cerita pendek (cerpen) terbaik Kompas 2010 yang diumumkan pada penganugerahan Penghargaan Cerpen Kompas 2011 di Bentara Budaya Jakarta, Senin (27/06/2011) malam. “Dodolitdodolitdodolibret” menyisihkan 17 cerpen lainnya yang dipilih dari 52 cerpen sepanjang tahun 2010. Continue reading “Cerpen Pilihan Kompas: Dodolitdodolitdodolibret Cerpen Terbaik”

Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?

Linda Sarmili
suarakarya-online.com

Dalam rangka mengaktualisasikan kembali sastra dan bahasa Sunda – yang selama ini dinilai terancam punah – digelarlah baru-baru ini Kongres Bahasa dan Sastra Sunda di Cibulan, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut menghadirkan sejumlah pemerhati sastra dan bahasa Sunda dari seluruh daerah Jawa Barat, Banten, dan Jakarta, juga hadir komunitas masyarakat pecinta sastra dan bahasa Sunda dari berbagai daerah. Hadir dalam kesempatan itu pengurus lembaga sastra dan bahasa Sunda, juga budayawan sekaligus praktisi bahasa Sunda Ayip Rosidi. Continue reading “Mungkinkah Sastra dan Bahasa Sunda Bangkit?”

K e c e w a

Chairul Abshar
http://www.suarakarya-online.com/

Bila tidak karena mempertimbangkan kegaduhan yang mungkin timbul, Darwis hendak berteriak sekeras kerasnya dan berlari keliling perkampungan itu. Ia ingin memproklamirkan kegembiraannya kepada semua warga bahwa dia siap bekerja lagi. Semua utangnya akan dibayar lunas. Mang Karta pemilik warung rokok, Mpok Milah pedagang nasi uduk tak perlu was was kalau ia kabur. Kalau perlu, bayar sekalian berikut bunganya. Dan, terakhir, akan dipasangkan di depan rumahnya pengumuman: “Dilarang memandang Darwis sebelah mata”. Pedih rasanya dilecehkan karena menganggur. Continue reading “K e c e w a”

Bahasa »