Samuel Beckett: Oh, Calcutta! (Menunggu Godot dan Hadiah Nobel)

Nelson Alwi
Riau Pos, 24 Juli 2011

DI atas panggung orang-orang yang nyaris bertelanjang berbaur dengan tumpukan-tumpukan sampah yang membusuk. Penonton terkesima, hening dalam pesona magis ketemaraman (pen)cahaya(an). Keheningan itu kemudian berkembang, menegangkan, dipuntal dinamika ilustrasi serta sorot lampu yang kian dan semakin benderang. Mendadak, suasana pun jadi mencekam, sayup-sayup terdengar sipongang teriakan dan tangisan. Sesudah itu hening kembali, diam. Penonton menarik dan mengembuskan napas dengan desahan panjang, lantas, serempak memberikan applause. Continue reading “Samuel Beckett: Oh, Calcutta! (Menunggu Godot dan Hadiah Nobel)”

Oase Estetik di Tengah Modernitas: Sebuah Spirit Festival Kampung Cempluk 2011

Denny Mizhar *

Kampung, dengan adanya modernitas yang salah satunya ditandai dengan pembangunan membuatnya terpinggirkan. Lahan-lahan pertanian yang dijadikan mata pencaharian masyarakat kampung berubah menjadi perumahan mewah , rumah toko bahkan mall. Begitu pula dengan semangat gotong royong menjadi terkikis dengan sifat individualis masyarakat modern. Kesenian tradisional yang menjadi spirtualitas ekpresi masyarakat pun sudah jarang ditemui karena media-media yang lahir dari modernitas bermunculkan yang menawarkan kesenangan sesaat dan populer. Continue reading “Oase Estetik di Tengah Modernitas: Sebuah Spirit Festival Kampung Cempluk 2011”

Aku Menunggumu di Lospalos *

Ahmad Ikhwan Susilo

I
Udara kering dini hari ini masih membuatku terjaga. Dan sudah menjadi kebiasaanku untuk duduk di beranda bilamana aku terjaga dari tidur dan ingin menyendiri. Dua hari yang lalu istriku menerima sepucuk surat yang diantar oleh tukang pos ketika aku pergi ke Pairara. Istriku tak tahu menahu surat itu. Dia hanya berkata dari jauh. Tak ada nama pengirim. Hanya sebuah amplop kuning kecoklatan dengan tempelan dua perangko bergambar tiga kawanan Kanguru sedang berlarian yang bertuliskan; untuk kawan lamaku di Tanah Timor.
Aku mulai menduga… Continue reading “Aku Menunggumu di Lospalos *”

Puisi-Puisi Nur Lodzi Hady

Embun

sejarah sudah ajar kala jarak terlampau dekat antara manusia dan hewan, dan tetap saja ada yang tak dengar..

kebingungan dan kesederhanaan itu menjadi petaka karna ia berubah jadi mesin kristal demi kutukan. Kutukan lantaran kesederhanaan yang tak sempat bertemu titik embun… jika pun iya pasti belum tuntas tatkala ia ajarkan makna yang kadang tiada butuh retori kata kata… Continue reading “Puisi-Puisi Nur Lodzi Hady”

Bahasa »