Puisi-Puisi Nur Lodzi Hady

Embun

sejarah sudah ajar kala jarak terlampau dekat antara manusia dan hewan, dan tetap saja ada yang tak dengar..

kebingungan dan kesederhanaan itu menjadi petaka karna ia berubah jadi mesin kristal demi kutukan. Kutukan lantaran kesederhanaan yang tak sempat bertemu titik embun… jika pun iya pasti belum tuntas tatkala ia ajarkan makna yang kadang tiada butuh retori kata kata…

dan di suatu pagi aku tak tidur, pula jaga. sorenya aku terpekur… saat embun mengerlingkan matanya yang senyap dan membunuh!: kelembutan..! ..dan gema suaranya kutangkap selayak kemustian yang tak terbendung: kau siapa dan materi apa yang tengah mempertemukan kita…

embunkah?

Malang, 5 Maret 2010

Petisi Burung Burung

Petisi ini lahir dari pertemuan burung burung
Dan hutan tergetar oleh nyanyiannya
Ketika restu langit telah pasti tiba
Burung burung kembali ke sarangnya

Matahari telah di curi dari rumah kami
Bulan pula tak pernah purnama lagi
Segera siapkan bendera kita
Besok tumpah kita serbu cakrawala

Siapa akan berjaga malam ini
Burung hantu mengerdipkan matanya yang lebar
Di mana alamat kelelawar sang penghuni sunyi
Sudah lama kepaknya tak terdengar

Petisi ini sudah ditandatangani
Burung burung telah siap menyongsong hari
Malam ini dalam hati kita berjanji
Kelak terbang merebut mimpi

Siapa tinggal
Siapa akan mati
Aku memilih bergabung
Menjadi rajawali

Malang, 11 Maret 06

Jurnal Sastra dan Budaya “Jombangana,” Edisi III 2011 [Dewan Kesenian Jombang].