Sang Mesias di Layar Putih

Donny Anggoro*
http://www.sinarharapan.co.id/

Sosok Yesus sudah lama menjadi tokoh sentral yang sering dipanggungkan, mulai dari pentas drama kecil untuk Paskah dan Natal di gereja, pentas opera (Jesus Christ Superstar), bahkan sampai ke layar lebar. Tercatat film Yesus pertama, menurut Mark Goodracre, 2005, adalah film Jesus Devant Pilate (1898), sedangkan menurut Flickerings.com adalah The Passion Play of Oberam Mergau (1897).

Selain sosoknya yang menarik karena digambarkan secara fisik Yesus adalah pria berjenggot, gondrong, tapi tampan, maka berbagai tafsir muncul perihal keberadaannya, selain dari Kitab Suci. Film-film tentang Yesus rata-rata sukses secara komersial, walau ada juga yang melenceng dari Kitab Suci.

Misalnya film The Last Temptation of Christ (1988) karya sutradara Martin Scorsese yang diangkat dari novel Nikoz Katzanzakis. Film ini menurut penulis dibuat dengan gaya bercerita seperti membaca buku harian tukang kayu yang sedang mewujudkan cita-citanya menjadi penyelamat (Mesias).

Film yang dibintangi aktor Willem Dafoe (Spider-Man, Mississipi Burning, Platoon) sebagai Yesus dan penyanyi kondang David Bowie sebagai Pilatus ini dulu banyak diprotes karena menggambarkan Yesus bak manusia biasa.

Yesus menikah dan punya anak dari Magdalena setelah diselamatkan dan dikawinkan malaikat. Yesus tak mati di kayu salib! Dalam film ini bahkan digambarkan Yesus melakukan hubungan seks dengan Magdalena. Magdalena lalu mati saat hamil tua, kemudian Yesus menikahi dua bersaudara, Maria-Martha, beranak-pinak bersama, dan menua.

Dalam film lain, King of Kings (1961), Yesus digambarkan sebagai sosok pahlawan seperti dalam Kitab Suci, kendati ada bagian lain yang ditambahkan karena tidak ada di Kitab Suci, misalnya perkataan Yesus dalam debat dengan Ponsius Pilatus: ?There?s only one truth and its written in the commandments: Be true to God?.

Kata-kata itu tidak ada di Injil namun tak menimbulkan protes, karena pada awalnya film ini memang penuh dengan ?siraman? rohani. Tapi meskipun film ini adalah petuah agama Kristen, uniknya sosok Yesus menurut penulis juga digambarkan sebagai pahlawan yang terperdaya tokoh-tokoh antagonis, seperti Yudas, orang Romawi, dan Herodes.

Film terakhir tentang Yesus adalah Passion of The Christ (2004) arahan sutradara Mel Gibson dan dibintangi salah satunya oleh aktris cantik dan seksi Monica Belucci. Film yang peluncurannya menjelang Paskah 2004 ini dibuat semirip mungkin dengan kejadian yang tertulis di Kitab Suci.

Yang paling penting adalah bahasanya, yaitu menggunakan bahasa Aram, bahasa yang digunakan Yesus semasa hidup, sehingga menyaksikan film ini benar-benar bak rekonstruksi kehidupan Yesus sungguhan menjelang penyaliban, selain adegan penyiksaan dan penyalibannya yang dibuat sedetail dan semirip mungkin.

Film ini menurut Claudia Puig di situs internet USA Today disebut sebagai ?film yang paling berdarah di antara film Yesus yang lain? karena adegan penyiksaannya yang vulgar.

Dari ketiga film Yesus yang dibahas dalam buku ini, hampir semuanya bercerita dalam plot yang sama, yaitu kelahiran, masa menjadi penyelamat, dan kematian. Hanya Passion of The Christ yang paling pendek, yaitu mengangkat proses kematian Yesus saja di kayu salib.

Selain ketiga film tersebut ada film lain seperti Jesus (1979), Jesus from Nazareth (1977), Godspell (1973), The Day Christ Died (1980), Jesus of Montreal (1989), Jesus Christ Superstar (1973), dan banyak lagi. Menariknya, film parodi Yesus yaitu pemuda bodoh bernama Brian yang kehadirannya dianggap seperti Yesus juga ada, yaitu Monthy Python?s Life of Brian (1979).

Hadirnya buku ini menjadi semacam ?oase? bagi para penonton film Yesus, khususnya umat Kristiani yang merindukan telaah kritis atas film-film Yesus yang dibatasi dari produk Hollywood sebagai ?surga? film dunia. Uniknya, sang penulis adalah seorang muslim lulusan FISIPOL Ilmu Komunikasi UGM yang sekarang juga berkarier di bidang musik elektronik dengan membentuk band NOEL di Yogyakarta.

Sangat jarang ada buku yang membahas film Yesus dengan sangat teliti mulai dari plot, karakterisasi, sampai dialog. Hadirnya buku ini tentunya menjadi satu-satunya studi pustaka yang mumpuni tentang dunia perfilman.

*) Peresensi adalah wartawan dan anggota komunitas Meja Budaya, Jakarta.
Judul: Jesus di Hollywood
Penulis: Imam Karyadi Aryanto
Pengantar: Budi Irawanto, MA
Isi: 287 halaman
Penerbit: Kanisius, 2011
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/sang-mesias-di-layar-putih/