Semoga Pelangi Itu Selalu Berseri

:Sebuah Esai atas Buku Kumpulan Cerpen “Pelangi Sastra Malang dalam Cerpen”
Sidik Nugroho
http://tuanmalam.blogspot.com/

“Dead Poets Society” — mungkin kita pernah menonton filmnya. Di sana ada seorang guru bahasa yang sangat bergairah dan dinamis mengajar: naik ke atas meja, penuh retorika, bahkan menggunakan pelajaran olahraga sebagai kegiatan pemantik semangat hidup. Sang guru — diperankan memikat oleh Robin Williams — disukai benar oleh murid-muridnya. Beberapa di antara mereka bahkan kemudian meniru-niru apa yang pernah dilakukan sang guru itu ketika ia masih muda: membentuk geng sastra!

Di sebuah tempat mirip gua yang jauh dari keramaian pada malam hari, berbekal cahaya remang-remang, mereka berkumpul, mengadakan perang sajak dan puisi. Jiwa muda yang penuh antusiasme dan kegairahan berekspresi — tak akan terlupakan, bukan? Apalagi ketika cinta sedang menyapa, lalu puisi tercipta, dibacakan sambut-menyambut dalam bisikan hening, sesekali pekik, dan nuansa penuh dinamika: serasa lapang nian batin kita yang kecil ini memandangi keluasan semesta raya!

“Carpe diem”, itulah salah satu ungkapan yang sering disebut dalam “Dead Poets Society”. Artinya “seize the day”, gunakan hari ini — sebaik mungkin. Hidup memang indah jikalau kita berkarya dengan hati, tak sekedar disia-siakan. Hati pun akhirnya mencari kata-demi-kata, dalam rangka upaya memaknai keindahan — juga bahkan penderitaan — hidup. Kreator-kreator lalu tampil, dan seringkali mereka bersatu, membentuk komunitas, berbagi, dan bercengkerama.

Komunitas-komunitas sastra itu penting, paling tidak dalam dua hal berikut. Pertama, ia adalah ajang di mana para anggotanya bisa berbagi dan saling membangun. Kedua, ia menjadi bukti eksistensi keberadaan minat serupa para anggotanya. Dari kedua hal ini, hal kedualah yang sedang ditampakkan oleh Pelangi Sastra Malang lewat kumpulan cerpen “Pleidooi” ini.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen berjudul “Pinanglah Aku” karya Muyassaroh El-yasin. Penulis yang rajin menulis di majalah dinding ini membuat sebuah cerpen remaja Islami yang memikat dari segi dialog dan ekspresi tokoh-tokohnya. Ia mengisahkan seorang tokoh yang ingin hubungan lawan jenis berstatus jelas. Dengan lugas penulisnya menyampaikan pentingnya tujuan sebuah hubungan. Terkesan tradisional, mirip hubungan percintaan di desa-desa yang pernah saya dengar di warung kopi: bila kau mengajak seorang gadis keluar, orang tua si gadis akan memintamu untuk melamarnya. Terkesan sedikit asing alur dan ceritanya di tengah kehidupan yang makin bebas.

Cerpen-cerpen lain bertema cinta juga ada, setidaknya dalam cerpen-cerpen berikut: “Nausea” karya Yuni Kristianingsih, “Dua Laki-laki yang Meninggalkan Memori Nyeri” karya Yusri Fajar, “Tamu dari Austria” karya A Elwiq Pr dan “Dia Belum Juga Datang” karya Aga Herman. Cerpen-cerpen ini menampilkan beraneka dimensi tentang hubungan cinta, dengan jalinan kisahnya sendiri-sendiri. Dari keempat cerpen ini, yang agak eksentrik adalah cerpen “Dia Belum Juga Datang”. Seorang wanita yang menunggu seorang pria hingga menghabiskan bergelas-gelas kopi di sebuah kafe ini terurai penuh gagasan hebat — memuat penelusuran kondisi jiwa si wanita ketika menepis kegelisahannya dalam penantian.

Cinta memang tema yang tak pernah basi. Setiap orang mempunyai penafsiran, atau pengalaman, yang khas, tentang cinta. Namun ada juga cerita-cerita lain yang tidak mengangkat cinta sebagai tema utama dalam buku ini. Contohnya adalah “Negeri Dusta” karya Abdul Mukhid. Cerpen ini menarik: Paragraf-paragraf awalnya filosofis, harus dicermati amat serius, sementara akhirnya adalah ekspresi tawa yang lugu.

“Pleidooi” karya Azizah Hefni dan “Senja” karya Titik Qomariyah adalah cerpen-cerpen situasional. Azizah Hefni, yang akrab disapa Zizi, adalah pencerita berbakat. Cerpen “Pleidooi” yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen ini pernah dibacakan pada ulang tahun kota Surabaya ke-715. Alur, penggambaran karakter dan dialog-dialognya matang.

Namun, sebuah cerpen situasional yang justru paling “nendang” rasanya adalah “Selamat Sore, Olivia!” karya Liga Alam Mukhtar. Sebabnya, cerpen ini sangat singkat dan bahasanya benar-benar efisien. Cerpen ini mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Bondan Winarno dalam kumpulan cerpennya berjudul “Pada Sebuah Beranda” (yang sebelumnya, dalam jumlah cerpen lebih sedikit bertajuk “Caf? Opera”). Kehamilan Olivia, aborsi yang dilakukannya, gelak emosinya, benar-benar tergarap maksimal oleh penulisnya.

Dua cerpen yang satiris adalah “Desa Para Dukun” karya Wawan Eko Yulianto dan “Tangan Berkolam” karya Supriyadi Hamzah. Wawan Eko Yulianto menyajikan narasi yang begitu reflektif atas kondisi warga Sidoarjo, Porong khususnya, setelah lumpur panas Lapindo tak henti-hentinya muncrat — hingga kini. Ini berhasil dilakukan Wawan karena ia memang asli orang Sidoarjo. Doa, mantra, keluh-kesah, serta haru-tangis terkisah elok dan mengharukan dalam cerpennya. Sementara itu, “Tangan Berkolam” lebih banyak memuat tema nasionalisme dalam hubungan cinta beda bangsa. Ya, selain satiris, kedua cerpen ini sama-sama reflektif. Bedanya, dalam “Tangan Berkolam” terdapat beberapa dialog yang cukup banyak mendukung jalinan kisah.

Cerpen “Tangan” karya Susanty Octavia berusaha memetakan kedalaman hubungan tokoh utamanya dengan Allah. Cerpen ini memuat nilai-nilai Islami yang kental. Mirip dengan cerpen “Tangan”, cerpenis lain bernama Lubis Grafura menyajikan cerpen religius, yang mana nilai-nilai religiusitas dalam cerpennya itu ia sentuhkan dengan budaya sebuah masyarakat di Kabupaten Donggala. Judul cerpennya “Rilara Nuadanga” — sebuah judul yang indah, bukan? Dengan bahasanya yang hening, Lubis mengisahkan tentang jembatan kematian, atau secara Islami disebut “sakratul maut”, yang terjadi pada orang-orang Suku Kaili di sana.

Nah, demikianlah tinjauan atas cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan cerpen ini. Semoga hasil kerja kolaborasi ini tak berhenti sampai di sini. Penulis-penulisnya bisa dibilang semua berbakat menghasilkan karya-karya lain yang berkemungkinan besar dinikmati dan disukai lebih banyak orang. Pelangi Sastra Malang, komunitas ini — dengan karya-karyanya yang mirip ragam warna pelangi — kiranya terus berkarya. Dan kiranya karya-karya itu tidak sirna oleh terik panas surya, tidak tersembunyi di balik awan kelam, namun tampil — lagi dan lagi — seperti pelangi yang selalu berseri. ***

Sidoarjo, 8 Juni 2009, 23:56
Sidik Nugroho, Penikmat buku dan penyuka pelangi
Sumber: http://tuanmalam.blogspot.com/2009/06/semoga-pelangi-itu-selalu-berseri.html