Teknologi dan Seni

Jakob Sumardjo
Pikiran Rakyat, 29 Sep 2007

ADAKAH hubungan antara seni dan teknologi? Seni dan teknologi adalah ekspresi budaya suatu masyarakat. Seni mempersoalkan manusia, masyarakat, dan kehidupan. Begitu pula teknologi mempersoalkan manusia, masyarakat, dan kehidupan serta ekonomi, ilmu pengetahuan, politik. Teknologi itu kebudayaan dan seni juga kebudayaan. Teknologi dan seni sama-sama bertanya tentang dirinya: apakah seni itu, apakah teknologi itu, apa makna seni, apa makna teknologi, untuk apa seni dan untuk apa teknologi.

Kebudayaan membuat manusia semakin manusiawi. Kebudayaan membuat kehidupan ini lebih bermakna. Manusia menghargai teknologi dan seni karena bermakna bagi kesempurnaan hidupnya. Hanya mereka yang melihat seni dan teknologi secara wadah, hardware belaka, tidak mampu melihat hubungan seni dan teknologi. Di belakang yang hardware selalu ada software. Pada setiap yang tangible selalu ada yang intangible. Dan yang nampak itu selalu digerakkan oleh yang tak nampak. Semua kebudayaan itu, seni dan teknologi, terwujud akibat munculnya gagasan, idea, imajinasi pada diri manusia. Jadi, perbedaan seni dan teknologi sebenarnya hanya pada wujud saja, pada hardware teknologi dan seni. Namun keduanya bertolak dari sumber yang sama: otak manusia.

Penemu-penemu ilmu pengetahuan dan teknologi bukan jenis manusia yang “dingin budaya”. Rata-rata mereka penikmat seni yang tidak sembarangan, artinya karya-karya seni yang mengangkat harkat budaya manusia. Mereka mampu memilih karya-karya seni yang sejajar dengan kecerdasan teknologinya. Mereka yang kreatif dalam teknologi menghadapi kretivitas seni. Sebab, ada teknologi “pertukangan” dan seni “pertukangan”. Tingkat pertukangan itu cuma “menghafal” kreativitas orang lain. Mereka ini tidak peduli apakah berdampak merugikan manusia atau membahagiakan manusia. Sedangkan teknologi kreatif selalu berdasarkan pertimbangan kreativitas budaya.

Intinya adalah persamaan software, intangible, dan imajinasi pikiran. Keduanya membutuhkan kreativitas. Teknologi sejati itu kreatif, dan seni sejati itu kreatif. Kreatif itu menemukan nilai-nilai baru yang positif bagi perkembangan manusia. Teknologi dan seni yang tidak kreatif itu cuma tingkat craft belaka. Mengulang-ulang apa yang diciptakan dan ditemukan orang-orang lain yang lebih orisinal.

Jadi persamaan teknologi dan seni ada pada kerja kreatifnya. Teknologi tukang dan seni tukang tidak akan nyambung. Keduanya akan aman-aman saja hidup bertetangga tanpa menghiraukan satu dengan yang lain. Yang membuat bom nuklir sibuk dengan dirinya, dan yang memikirkan makna manusia dan dunia juga tak peduli tetangganya sedang membuat benda yang akan membinasakan sekian juta umat manusia. Ketika bom itu benar-benar buat sengsara begitu banyak manusia, ilmuwan dan teknologi mulai berpikir mendalam tentang makna temuan mereka.

Ada anak tetangga saya yang kuliah mesin. Dia sering datang pada saya untuk belajar sastra, khususnya cerita pendek. Ia mulai mencoba menulis cerpen. Imajinasinya tidak umum. Saya pun sulit memahaminya. Anak ini ketika ujian akhir tidak mau mengambil tema yang “gampang” dan tersedia dalam buku-buku teknik mesin yang telah ada. Ia mengambil tema yang orisinal. Memciptakan rem mobil dari jenis yang belum ada. Putar otak dan coba-coba. Akibatnya teman-temannya sudah pada lulus dan dapat kerja, dia masih pusing dengan proses kreatifnya.

Anak-anak yang belajar teknik tidak sedikit yang tertarik pada seni. Ketertarikannya mereka pada seni bukan jenis yang suka iseng dengan seni, tetapi serius dan kreatif dalam berkesenian, seperti layaknya mahasiswa seni. Mereka ini justru sering bikin kaget dunia seni, akibat disiplin otaknya yang sudah matematis. Mahasiswa seni sebaliknya bukan hanya berurusan dengan imajinasi. Hanya peduli software karena teknik seninya memang sederhana saja. Mahasiswa seni juga perlu software teknologi. Mereka perlu matematika.

Kebudayaan

Kembali lagi, bahwa dasar keberagamaan dan kesamaan antara teknologi dan seni adalah kebudayaan. Dan kebudayaan itu pada akhirnya bermuara pada filsafat, atau setidak-tidaknya pertanyaan filosofis. Apakah mesin itu? Apa makna mesin bagi saya? Apa bagi manusia? Untuk apa mesin ada? Pertanyaan-pertanyaan yang sama ini tak pernah disatukan. Bahwa keduanya saling membutuhkan.

Pada suatu kali dosen filosofis mesin dapat mengajar di jurusan desain produk. Dan dosen kreativitas seni dapat mengajar di mesin. Itu hanya mungkin terjadi kalau orang mesin memikirkan filosofi mesin, dan orang seni memikirkan budaya seninya. Kalau keduanya hanya tukang yang profesional tingkat tinggi, maka keduanya akan berpalingan.

Masalahnya tiadanya taksonomi ilmu-ilmu teknologi dan taksonomi ilmu-ilmu seni. Seni itu memiliki sejumlah besar cabang-cabang ilmu, begitu pula teknologi dan ilmu-ilmu lain. Dalam jabaran taksonomi ilmu masing-masing itulah akan ditemukan relasi antara ilmu-ilmu teknologi dan seni. Pada waktu itulah dosen teknik mengajar di fakultas seni, dan fakultas seni membutuhkan segi tertentu ilmu teknologi. Keduanya saling mengisi dan keduanya saling memperkaya. Bukan lagi minyak dengan air. Kebudayaan, teknologi dan seni, tujuannya sama, yakni untuk kesejahteraan umat manusia, kesejahetraan bangsa.

Penyakit universal masih menghuni benak intelektual Indonesia. Makna terdekat seni dan teknologi adalah masyarakat bangsa sendiri. Setiap ilmuwan dan seniman suatu bangsa mengalamatkan karya teknologi dan seninya pada bangsanya sendiri. Keduanya ingin memecahkan masalah-masalah lingkungannya yang riil, bukan untuk umat manusia yang hanya ada di imajinasinya. Meskipun hasil kreasinya mungkin bermakna pula secara universal.

Kebudayaan, teknologi, dan seni, adalah dunia tanggapan terhadap realitas kehidupan. Dan realitas kehidupan itu berdenyut di sekitar mereka menghirup kehidupan. Teknologi dan seni itu menjawab realitas. Indonesia sekarang ini mungkin lebih membutuhkan becak bermesin dari pada jenis mobil modern Proton. Lebih murah, lebih praktis, lebih bermakna bagi bangsa. Tetapi siapa yang peduli?

Realitas kita adalah realitas Indonesia, dan kita dilahirkan di sini dan dalam abad ini. Itulah tugas kita untuk membangun bangsa dan negara ini. Bukan ikut membangun bangsa dan negara yang tak jelas karena imajinasi mondialnya. Kita harus berani beda!

Masalah Indonesia itu bukan masalah Eropa atau Amerika. Dengan demikian, harus dijawab secara Indonesia pula. Tentu saja kita tidak boleh terus menimba yang universal itu. Namun, tidak kita telan mentah-mentah sebagai bagian dari jawaban persoalan kita sendiri. Tugas intelektual Indonesia itu dobel, menimba ilmu-ilmu mutakhir mondial, dan menerjemahkan untuk persoalan kita sendiri.

Teknologi dan seni itu hubungannya adalah kreativitas. Indonesia memerlukan seniman teknologi, dan seniman membutuhkan teknologi-seni.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/09/khazanah-teknologi-dan-seni.html