Posted by PuJa on September 30, 2011
A Rodhi Murtadho http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/ Nekromansi menggejala. Banyak orang percaya akan perkataan Ilyas. Masa depan. Ketertarikan pengetahuan membuat pasien mendatanginya. Terutama mengenai jodoh, rezeki, bahkan kematian. Ihwal yang seharusnya hanya diketahui Tuhan. Keberanian Ilyas sudah melebihi batas. Mendahului Tuhan. Banyak Kyai, pendeta, biksu, dan banyak tokoh agama bersatu mengenyahkannya. Memusnahkan perbuatan Ilyas bahkan bisa jadi Ilyas [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Berbicara Tentang Kotamu yang Terlelap berbicara tentang kotamu yang terlelap aku bangkitkan mayat mayat yang berbaris di lenganmu kesunyian di alismu perlahan bangkit dengan sungai yang lahir melalui wujud menara tapi bulan tumbuuh di rambutmu dan perlahan kawanan pemabuk menyentuhku mencekikku lewat keabadian goa yang terkutuk ribuan cahaya segera aku mati tanpa jasad dan segala [...]
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on
Yusuf Ariel Hakim Sebut saja ia perempuan. Entah mengapa aku suka sekali menyebutnya begitu. Satu yang pasti, aku tidak tahu persis pernah bertemu di mana. Barangkali ingatanku yang tak begitu cakap mengingat kenangan. Tapi mataku mengatakan kalau ia benar-benar perempuan, tak usah kau tanyakan yang logis kepadaku mengapa aku suka menyebutnya demikian, karena ia sendiri [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Arfan Fathoni dimuat di Gema Seperti tersambar petir. Ingatan letusan pistol selalu menyiksa. Aku hanya cuma bisa berdiri. Keyataan berkata lain, aku tak bisa berkata-kata. Dan bukan masanya lagi aku tetap menatap meja itu terus. Gelas masih penuh dan mengepul. Aku harus berlari.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Mahmud Jauhari Ali Tabloid Serambi Ummah 21 Nov 2008 Pagi itu Hamid berdiam diri dengan mata tertutup. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kedua kakinya kadang-kadang digerakkannya untuk menghindari keram. Tangan kanannya memegang tasbih, tetapi tidak ia fungsikan. Bibirnya kerap digerakkannya. Sementara ibunya sedang menyiapkan makanan di ruang makan untuk mengganjal perut mereka.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Rindu Matahari Sekujur tubuh terasa bagai ditusuk jarum, sakit tak kunjung pergi tinggalkan derita berkepanjangan. Gigil membungkus embun tak lepas membalut diri terbaring didekap bulan sabit menjelang siang.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on
Damhuri Muhammad http://cetak.kompas.com/ Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?
Filed under: Esai
Posted by PuJa on
Bandung Mawardi * http://www.seputar-indonesia.com/ Filsafat abad XX mewarisi mozaik pikiran ganjil dan radikal ala Michel Foucault (1926–1984). Tokoh ini mengantar suguhansuguhan filsafat impresif,mendulang gagasan aneh, dan mengucap dalam bahasa pekat. Foucault membeberkan pelbagai ihwal lakon peradaban abad XX mengacu babakbabak historis.Konon, semua gagasan itu bermula dari pandangan sejarah ala Foucault. Sejarah itu selalu berupa genealogi [...]
Filed under: Esai