‘AOTAR’, Mengupas Tragedi yang tidak Perlu Ditangisi

Eri Anugerah
Media Indonesia, 07 Agu 2007

BENCANA alam tidak saja meninggalkan perih hati, tapi juga menelurkan proses kreatif penciptaan seni. Ketika bencana alam dihayati sebagai sumber inspirasi bagi proses kreatif, lahirlah sebuah karya seni yang menakjubkan. Karya seni tersebut di samping akan menelusuri ingatan orang pada bencana alam yang mahadahsyat, juga akan menyingkap aspek-aspek metafisis bencana alam tersebut dan mengambil hikmahnya.

Pandangan di atas mengemuka dalam acara peluncuran dan bedah novel Amuk Ombak Tanah Rencong (AOTAR) karya Chavchay Syaifullah di Gedung Sarbini, Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta, Kamis (2/8). Hadir sebagai pembicara dalam acara itu penyair Fikar W Eda, sastrawan Hudan Hidayat, dan Budi Harsoni. Sementara yang bertindak sebagai moderator ialah wartawan Media Indonesia Siswantini Suryandari.

Dalam acara yang diselenggarakan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Komunitas ILDEN (Indonesian Literary Garden) juga menghadirkan musikalisasi prosa oleh Rae and New Gen dan pembacaan nukilan novel oleh aktor DC Aryadi. Sekitar 300 anak-anak muda dari berbagai daerah Nusantara yang menjadi delegasi Jambore Pemuda Indonesia dan Bhakti Pemuda Antar Provinsi tampak antusias mengikuti diskusi ini bersama-sama kawula seniman yang hadir.

Dalam sambutannya, Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Sakhyan Asmara menjelaskan bahwa proses kreatif penciptaan karya seni semestinya bisa dilakukan dalam keadaan apa pun. Asal sang seniman tetap optimistis melihat situasi di balik adanya bencana alam.

“Optimisme seniman adalah landasan utama bagi lahirnya karya seni yang baik. Seperti novel AOTAR yang tidak mungkin lahir dengan baik bila tidak ada semangat hidup dari pengarangnya,” ujar Sakhyan.

Dalam makalahnya berjudul Totalitasi Sang Penebus, Budi Harsoni mengatakan bahwa novel AOTAR telah menghadirkan bentuk perenungan lain dari manifestasi keindahan alam yang dingin bergeming dan penuh keangkuhan.

“Alam, dengan berbagai bencananya menjadi antagonisme yang memilukan di hadapan sepasang kekasih yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini, yakni Teuku Bana dan Cut Maya,” jelas Budi.

Lebih jauh ia menegaskan bahwa novel itu mempertautkan bentuk keindahan alam lewat dunia yang terfragmentasi oleh berbagai macam bencana yang dengan piawai dirajut menjadi jalinan simbolisme pertarungan manusia untuk mempertegas eksistensinya di alam ini.

Sementara itu, Fikar W Eda lewat makalahnya berjudul AOTAR dan Tsunami Yang Mengguncangkan Itu menjabarkan bahwa novel AOTAR bisa dikatakan sebagai novel pengantar yang ringkas padat bagi pembaca yang ingin masuk ke tengah peristiwa tragis berupa tsunami di daerah yang terkenal sebagai Tanah Rencong itu.

Novel yang sarat dengan data itu, bagi Fikar, menjadi pelengkap informasi mengenai masa kejayaan Aceh dahulu hingga masa konflik bersenjata yang memakan waktu puluhan tahun lamanya.

“Tsunami di Aceh yang didahului gempa berkekuatan 8,9 skala Richter adalah puncak dari serangkaian dukacita yang berlangsung berpuluh-puluh tahun sepanjang gejolak bersenjata. Aceh seolah ditakdirkan menjadi wilayah yang tak pernah sepi dari gejolak. Beragam cerita lahir dari sana,”jelas Fikar.

Pada kesempatan sama, Hudan Hidayat melihat bahwa AOTAR merupakan novel tragedi yang tidak lagi melihat tragedi sebagai sesuatu yang perlu ditangisi, melainkan harus dihadapi dengan perasaan biasa.

“Gaya bahasanya cair. Karenanya, pembaca seperti digiring pada sikap bagaimana mengenang tsunami di Aceh dan Nias yang menewaskan hampir 300.000 orang dalam sekejap sebagai peristiwa takdir yang harus diterima secara lapang dada,” ujarnya.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/08/sastra-aotar-mengupas-tragedi-yang.html