Bulan Kertas

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 121

Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.

Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku”

Seperti kotak-kotak yang lalu, sepotong pesan singkat menghantar ketibaannya. Sepotong pesan yang akan begitu lekat dan mengikat ingatan Amoi. Seperti bulan kertas-bulan kertas yang lalu, Amoi meremasnya, lalu membuangnya di tong sampah depan pagar rumahnya. Dan berharap tukang sampah mengirimnya ke tempat paling jauh.

Dan seperti kejadian-kejadian yang lalu, setelah bertemu Pak pos, menerima kotak mungil, meremas bulan kertas, membaca pesan singkat dengan “cihh!”, dengan raut muka bergayut mendung, Amoi akan mendapati dinding rumahnya berkilauan: bulan kertas-bulan kertas bergelantungan di dinding kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, dapur.

Di atas pintu, di atas meja, di atas ranjangnya, di bawah lampu kamar tamunya…
Di tengah kegelisahannya akan ketibaan bulan kertas, Amoi sering mencoba kembali membuka lipatan ingatannya akan potongan peristiwa demi peristiwa hidupnya. Amoi hanya menduga. Terus menduga: siapa pengirim bulan kertas itu? Amoi terus mengira: apa maksudmu, hei pengirim bulan kertas?
***

“Apa kabar cinta?”
Bulan-kertas pertama diterimanya di siang hari. Menerima bungkusan kecil berisi bulan kertas yang dihiasi namanya, Amoi hanya tersenyum kecut. Matanya tak menyiratkan akan sesuatu yang mengancamnya. Dalam hatinya, Amoi menghapus bintik penasarannya dengan tawa kecil sedikit kesal: dasar tak ada kerjaan…

“Cinta, aku berharap kejujuran sejarah, keiikhlasan waktu, serta ketulusan nasib mempertemukan kita”

Bulan kertas kesebelas diterimanya waktu Amoi di sekolah. Waktu itu, Amoi berkumpul dengan teman-temannya: Nini, Ninok, Dulkar, Tomen. Maka, seperti hujan di awal kemarau, menguarlah kabar bulan kertas. Tersiarlah kegelisahan Amoi.

Sejak itu, misteri bulan kertas menjadi bahan pembicaraan di antara orang-orang sekitar Amoi. Bahkan tidak bisa dipungkiri, kehadiran bulan kertas telah menimbulkan berbagai spekulasi dan warna percakapan beragam: kegelisahan di hati Amoi, kecemburuan di hati orang-orang yang menyimpan kasih-sayang untuknya, serta setitik kegembiraan di hati sang pengirim. Meski begitu, Amoi masih terbatas dalam berbagi kegelisahan, kegundahan serta kekesalannya akan bulan kertas pada teman-temannya. Ninok, teman seia-sekatanya, menyarankan untuk mengingat segala kejadian yang telah menjelma renik-renik kenangan.

“Semuanya berawal dari kita” kata Ninok dengan wajah penuh simpati. Wajah yang membuat Amoi tenang memandangnya. Lalu, dengan penuh tekanan empati Ninok melanjutkan “mungkin ada ucapan, tingkah lakumu yang mengundang semua ini?”

“Entahlah?” jawab Amoi pasrah. Lalu meluncurlah kata-katanya yang beterbangan seperti kapas. Mengalir laksana air dari puncak mata air. Berceritalah Amoi tentang kebiasaannya: “ambilkan aku bulan dan bintang” katanya pada setiap pangeran yang mencurahkan isi hatinya. Amoi pun tak mengira bahwa kata-katanya yang seringan udara memenuhi rongga dadanya, kini akan menjadi muasal badai jiwanya. Menjadi mata air kegundahannya.
***

“Bulan kertas ini sungguh indah Amoi” kata ibunya di suatu malam. Di ruang tamu. Amoi terkesiap. Bulan kertas keempat puluh satu, ternyata diterima ibunya. Hatinya pun makin berkecamuk. Apalagi mata ibunya menyiratkan ketulusan dan rasa suka yang dalam akan bulan kertas yang ditimangnya.

Di sini, Amoi tak kuasa untuk menahan gejolak perasaannya, membuka lipatan peristiwa demi peristiwa yang dijalaninya. Peristiwa yang telah merenik dalam alam bawah sadarnya. Peristiwa yang menandai usianya semakin lampau dan lanjut. Sorot mata ibunya, seolah-olah memintanya menemukan sosok yang bersembunyi di balik kota lain bulan kertas: sosok rahasia!
“Apa ini dari pacarmu Amoi?”

Amoi tersenyum gamang. Pertanyaan ibunya menggantung. Untuk menghilangkan berbagai rasa yang berkecamuk: gundah, gelisah, kesal dan …, Amoi mencoba merangkai cerita akan kebiasaan teman-temannya: saling berbagi hadiah!

“Tapi bulan kertas ini kulihat menghias kamarmu. Lemari riasmu, ranjang tidurmu, bahkan di kamar mandi pun, bulan-bulan kertas ini bergelantungan. Sungguh indah Amoi”
“Tapi Ibu…” Amoi hendak menepis bahwa bulan kertas itu tidak ada. Bulan kertas itu telah diremas dan dibuang ke tong sampah depan rumahnya. Tapi suaranya tersekat.

Kata-katanya beku. Bulan kertas-bulan kertas berwarna emas, tiba-tiba menyembul di dinding, di bawah gemeriap lampu 80 waat ruang tengah. Juga di setiap sudut rumahnya. Bulan kertas-bulan kertas itu terus menyembul. Bersinar. Bercahaya gilang-gemilang. Membuat matanya begitu silau. Matanya berkunang-kunang. Amoi pun kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kesadarannya, ah entah di mana?
***

Pagi tersaji dengan rancak-ria. Burung menebar riang, terbang melanglang buana ke langit lepas. Matahari mengerling dengan sapuan cahaya murni. Seluruh panorama pagi ini, direguk habis oleh Amoi. Sejak kejadian malam itu. Kejadian Amoi tak sadarkan diri, seorang dokter menyarankan Amoi untuk istirahat total. Amoi disarankan untuk mengurangi dan menepis segala beban yang menggayutinya selama ini. Terutama beban pikiran.

Amoi, kini sejak kejadian itu, di bawah pengawasan keluarga, melepas hari-harinya dengan duduk di depan rumah. Menghitung orang-orang yang bergegas di kejar waktu. Diburu nafsu. Sambil sesekali membaca buku.

Lambat laun, rutinitinas yang berkisar di area yang begitu familiar di otaknya: kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, buku, nonton televise, membuat Amoi lebih cepat menemui kesuntukan. Amoi mudah tersinggung. Bahkan sikapnya yang ramah, penuh senyum dan dengan tutur yang halus, pun mulai pudar.

“Istirahatlah Moi. Bebaskan semua beban pikiranmu. Biar cepat sembuh! Biar cepat kembali ke sekolah” Ninok datang menjenguk di hari ke sepuluh Amoi menjadi ‘tahanan rumah’. Ini kali ketiga Ninok mencoba mengurangi penat dan beban Amoi.

“Tapi Nok, aku tidak kuat dengan semua ini. Apa salahku?” tangis Amoi tumpah. Ninok hanya menyambut kepala Amoi yang rebah di pangkuannya. Di tengah isaknya, Amoi mulai mengenangkan segala peristiwa yang selama ini menindih kepalanya. Peristiwa yang akan membuka kemungkinan pengirim bulan kertas yang masih bersembunyi di kotak hitam hidupnya.

Amoi mengawali ceritanya dengan pertemuannya dengan Andra. Pemuda tetangga desanya. Ia merupakan orang pertama yang menyatakan cintanya pada Amoi. Mereka bertemu pertama kali dalam acara festival musik tujuh belasan. Cerita cinta Amoi dengan Andra berakhir, tatkala Andra memutuskan memilih orang tuanya: Andra dijodohkan dengan saudara jauhnya!

Setelah Andra, berturut-turutlah beberapa nama: Kordos, Dedy, Rasyid, Encek. Yang semuanya seperti pelancong dalam dermaga cinta Amoi. Mereka datang hanya berbagi keluh kesah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa ingatan kapan akan memenuhi janji. Mungkin hanya Kordos yang pergi dengan sepenggal jejak: bulan itu akan kuraih!

Amoi pun patah arang. Hidup kini menjelma lautan yang hanya menjanjikan badai. Tak ada rasi bintang. Tak ada tepi. “Kita hanya perahu yang mesti memainkan diri seirama gelombang dan hembusan angin” batinnya.

Hidup telah mengajari Amoi untuk bermain. Menerima dan melepas segala sesuatu tanpa beban. Amoi mengisi hari-harinya dengan tetasan airmata. Sejarah yang bersijingkat seperti anak kecil.

Danto pun, yang datang dengan senampan ketulusan, hanya disambut dengan senyum dingin. Amoi telah terlanjur mematri kata-katanya: semua lelaki busuk! Begitu pun Danto. Di mata Amoi, lelaki, siapa pun dia, tetaplah pelancong yang hanya bisa melepas penat dan lelah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa alamat kepastian. Dan berulang Danto menepis mitos Amoi. Meyakinkan akan ketulusannya.

“Dulu seorang pangeran merayuku dengan bulan dan bintang. Apakah kau bisa mengambilkannya untukku?” mata Amoi begitu ceria dan jenaka menatap Danto. Danto hanya menanggapi dengan raut segar. Kerling retinanya tajam. Senyumnya menebar aura kesabaran. Ah Danto? Kau pun menghilang.

Hilangnya Danto pun seakan menjadi titik klimaks Amoi menerima laki-laki. Lelaki, baginya tak ubahnya para penumpang bis yang menunggu di peron. Para turis atau pesiar, yang sekadar singgah melepas lelah. Selebihnya mereka hanya meninggalkan jejak di pasir, hilang disisir ombak.
***

Semalam, sehabis tertidur dalam tangisnya, dalam pangkuan Ninok, Amoi bermimpi. Ia melihat seribu bulan mengitarinya. Berhias bintang-gemintang. Dan suara kidung mengalun lirih. Semacam erang kerinduan. Semacam bait-bait nawala yang menusuk ulu hati. Lalu dihadapannya terbentang taman. Penuh bunga warna-warni. Kupu-kupu menjadi isyarat kedamain dan kesyahduan taman. Dan yang paling melekat dalam benak Amoi: Kordos! Lelaki yang ditolaknya dengan penuh sarkasme. Bahkan mengingatnya pun, Amoi begitu jijik. “Iih, mending cari tema lain dech” cibir Amoi setiap teman-temannya memperbincangkan Kordos.

Tapi malam itu, di lubuk mimpi paling nanarnya, Amoi melihat Kordos bak peri turun dari langit. Kedua matanya berbinar. Cahaya retinanya sebening embun pagi. Dan kata-katanya terasa sejuk dan lembut menyapa Amoi, “Apa kabar Amoi?”. Amoi hanya menanggapi dengan raut muka tersapu malu. Yang paling membuat Amoi bergidik dan mengigau, Bulan emas yang diberikan Kordos. “Amoi, sayang aku bukan seorang pangeran, atau dewa atau… ah, aku hanya anak seorang petani”. Setelah memberikan bulan emas, tubuh Kordos menjelma asap. Menggulung. Lalu menghilang.
“Kordos…” Amoi tersentak.

Pagi ini, wajah Amoi sumringah. Di depannya segulung karton, gunting, spidol. Amoi membuat bulan kertas. Dan dengan sepotong pesan singkat bulan kertas itu digantungnya di atas pintu kamarnya: Datanglah wahai pengembara. Hatiku kini gubuk kecil teduhmu!

Suarabaya, Maret 2009

*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=196366447274