Dari Ramadan ke Idul Fitri: Sebuah Refleksi

Asarpin

Ramadan baru saja usai. Puasa di bulan Ramadan ditutup dengan perasaan lega dan mengucapkan rasa syukur alhamdulillah tak terhingga. Tanda bahwa kita telah melewati satu bulan penuh cobaan, godaan, sekaligus bulan mulia, bulan penuh berkah serta bulan ampunan.

Sekarang saya ingin mengajak kita semua untuk bersama-sama merenung sejenak untuk mengetahui kualitas ibadah puasa yang kita jalani. Untuk mengetahui kadar puasa kita, tak usah jauh-jauh kita bertanya kepada Allah karena hanya orang tertentu yang akan mendapatkan jawaban langsung dari Allah. Tidak usah pula kita bertanya kepada orang lain karena mereka tidak mengetahui apakah kualitas puasa kita kemarin sudah memuaskan atau belum.

Sekarang mari tanya pada diri kita masing-masing berapa kali mata kita tergelincir melihat hal-hal yang tidak diinginkan oleh puasa itu sendiri, berapa kali lidah kita berucap atau berbisik tentang hal-hal yang justru seharusnya kita diam, berapa kali hati kita kesal, dongkol, ngomel, misuh, mencaci-maki, berapa kali kita menggunjingkan orang lain, berapa kali kita emosi, berapa kali kita tidak bisa menahan sabar, berapa kali kulit kita menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh, berapa kali kita mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kita dengar, berapa kali hidung kita mencium sesuatu yang seharusnya tidak kita cium, berapa kali kita bohong dan mendustai Allah dan menustai diri kita sendiri.

Kalau kita sudah punya jawaban, sekarang saatnya kita merenungkan hakikat Idul Fitri, yaitu hari meraih kesucian diri kembali, hari meminta agar kita taubat lagi, hari tempat kita kembali kepada Allah sang Pencipta Jagad Semesta ini..

Setiap Idul Fitri kita selalu berusaha kembali. Tapi bukan sekadar kembali dari rantau ke kampung halaman seperti yang kerap kita tonton dalam layer televisi. Apalagi kembali melakukan maksiat lagi. Kembali mengerjakan perbuatan dosa lagi. Kembali di sini adalah kembali kepada kesejatian diri, kembali merenungkan hakikat penciptaan diri, kembali meraih kesucian lagi.

Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata untuk menunjukkan makna kembali, sebagaimana dijelaskan dengan sangat fasih oleh KH. Jalaluddin Rakhmat dan M. Quraish Shihab dalam suatu khutbah Idul Fitri. Dalam bahasa Arab ada beberapa sinonim yang menunjukkan makna kembali. Yang paling kita ketahui adalah kata id atau ‘awd yang berasal dari kata ‘ada-ya‘udu-idan-awdan, yang artinya kembali. Sebagian orang mengatakan bahwa Idul Fitri artinya kembali pada fitrah. Ada yang mengatakan fithr di situ berasal dari kata futhur sehingga Idul Fitri diartikan bahwa kita kembali lagi pada kegiatan makan siang seperti hari biasa.

Masih ada kata lain untuk menunjukkan makna kembali dalam bahasa Arab, yaitu ruju’, dari kata raja’a-yarji’u-ruju’an. Di kalangan kita, kata ruju’ hanya digunakan khusus untuk orang yang setelah bercerai kemudian kembali lagi. Jadi ada nikah, talak, rujuk. Tapi di dalam Al-Qur’an, kata ruju’ lebih sering digunakan untuk menunjukkan kembalinya kita kepada Allah. Kita, misalnya, menyebut Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Orang yang kembali disebut raji’ dan tempat kembali disebut marji’. Dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 15 Allah Swt berfirman: ikutilah jalan orang yang kembali, kepada Aku-lah tempat kembali kalian semua. Dalam Surat Ali Imran ayat 55 juga dijelaskan: “Hanya kepada Aku-lah tempat kembali kalian semua (marji’ukum)”. Di tempat lain Allah terang-terangan berjanji bagi yang bersegera untuk kembali kepada-Nya. “Jika kamu kembali, Kami pun akan kembali” (QS.7’: 8), kata Allah. Allah selalu rindu akan kembalinya manusia kepada-Nya, dan sungguh aneh kalau manusia masih tidak merindukan kembali kepada-Nya. Sungguh sombong manusia yang hanya minta Allah yang kembali kepada dirinya sementara ia tidak mau kembali kepada Allah!

Sekarang kita menemukan lagi kata lain untuk makna kembali, yaitu anaba-yunibu-inabah. Karena keindahan Al-Qur’an, Kitab Suci ini tidak mengulangi kata-kata yang sama walaupun artinya sama, sehingga tidak membosankan. Seorang penulis yang bagus berusaha mengganti kata yang bermakna tertentu dengan kata-kata lain yang bermakna sama untuk menunjukkan keindahan bahasa sekaligus agar mudah dicerna. Sayangnya, Bahasa Indonesia kurang begitu kaya dibandingkan dengan bahasa Arab. Tidak ada kata lain untuk makna kembali. Kita menerjemahkan kalimat, ‘Ittabi sabila man anaba ilayyatsumma ilayya marji’ukum” dengan “Ikutilah jalan orang yang kembali, kepada Aku-lah tempat kembali kalian semua”.

Di situ kita memakai kata kembali untuk dua kata yang berbeda (anaba dan raja’a), karena tidak ada kata lain. Sebetulnya ada kata pulang, tetapi kata ini kurang enak didengar. Sementara dalam bahasa Arab, kata kembali ditunjukkan oleh kata id, ruju’ dan inabah.

Masih ada satu lagi kata dalam bahasa Arab yang sangat khas yang berarti kembali, yakni tawbah. Kata tawbah berasal dari kata taba-yatubu-tawbatan. Orang yang kembali disebut ta’ib dan yang kembalinya berulang-ulang dan terus-menerus disebut tawwab.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 222 terdapat ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang memelihara kesucian dirinya”.

Jadi, Idul Fitri dapat dipahami sebagai suatu Hari Raya bagi orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang selalu mensucikan dirinya. Ibarat pakaian yang kita kenakan saat shalat Idul Fitri, yang walau pun tidak baru, namun dijamin bersih. Kita ganti baju yang kotor dengan baju yang bersih untuk menghadap yang ilahi. Sebagai manusia, kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang penuh kotoran, dan karena itu perlu segera dibersihkan agar tidak terlanjur berkarat.

Dengan kembali terus-menerus membersihkan diri, maka pribadi kita akan seperti miskat yang bercahaya. Nur akan mendatangi kita. Pelita akan menerangi hati kita. Jiwa akan diterangi oleh oncor ketaqwaan dan kesucian. Lampu yang mulai redup di hati kita akan kembali semarak dan menyala-nyala. Jadi, Idul Fitri adalah bulan kelahiran kembali, sekaligus bulan kelahiran kedua kali untuk menepati janji, untuk memakai kiasan Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah puisi.

“Sesungguhnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci)” kata Nabi Saw. Hanya saja lingkungan tempat tinggal kita sering tak mendukung, sering tercemar dan ternodai, hingga kita pun terbawa arus kezaliman dan kekotoran. Tapi Tuhan telah berjanji. Kita telah berkjanji. Barangsiapa ingin kembali maka Tuhan kembali\. Barangsiapa tak hendak kembali jangan harap Tuhan mendatangi kita kembali.

Seorang Prof. biologi yang mengajar di Harvard University, Amerika Serikat, yang pada tahun 2004 lalu menerbitkan sebuah buku yang menyebut sudah ada “Gen Tuhan” dalam diri manusia. Profesor itu namanya Dean Hamer, yang mengarang buku “The God Gene, How Fith Is Hardwired into Our Genes”, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Gen Tuhan: Iman Sudah tertanam dalam gen kita”.

Perlu kita ingatkan kembali di sini bahwa Islam punya teori tentang manusia sebagai makhluk suci. Kesucian itu merupakan bawaan yang diberikan oleh Allah dan sudah tertanam sejak sebelum kita dilahirkan. Banyak orang tidak mempercayai kalau pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, tapi penelitian Prof. Dean Hamer dari sisi biologi menguatkan pendapat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul tadi. Dean Hamer itu memang bukan muslim, tapi ilmu biologi yang ditekuninya membimbing dia membukakan cakrawala jutaan orang Barat tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Kalau masih ada yang ragu-ragu tentang pernyataan Nabi bahwa “manusia itu pada dasarnya diciptakan dalam keadaan fitrah”, silahkan saja. Tak ada yang melarang ia ragu-ragu. Tapi mari kita renungkan apa yang sebulan penuh kita lakukan di Bulan Ramadan kemarin. Untuk apa itu semua? Mengapa kita mau menahan haus dan lapar dan lelah menjalankan ibadah puasa, shalat lima waktu dan shalat sunnah serta shalat sunnah Tarawih?

Manusia telah berjanji dengan Tuhan tanpa paksaan, yang oleh orang-orang sekolahan disebut “Perjanjian Primordial”. Mari kita ingat janji itu kembali. Menumbuh-suburkan lagi kerinduan itu dengan kembali menemui yang Mahasuci.***
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/