Dina, Emily, Puisi Sepi

Misbahus Surur *
http://www.lampungpost.com/

Seorang perempuan belia kelahiran Lampung telah membuktikan diri sebagai penyair matang, setidaknya dari terbitnya dua buah buku puisi penting: Biografi Kehilangan (2006) dan Hati yang Patah Berjalan(2009).

MEMBACA puisi-puisi penyair ini, dengan perjalanan ingatan dan mungkin juga masa lampaunya yang muram, menyiratkan betapa setia dan tekun ia menakik rasa, untuk menukik ke larat kata. Atau bisa sebaliknya. Sebab, barangkali hampiran berjubal-jubal kata yang cemas pada hampir di sekujur puisi-puisinya itu, lebih mengerikan dari apa yang terkata di permukaan. Puisi-puisi perempuan ini unik. Dengan kadar ekspresivitas dan efek dari skenario laratisme yang cukup emotif dan impresif. Seperti dalam dunia psikologi, subjektivitas bahasa seperti menyimpan hamparan misteri yang tak mudah dimengerti. Kendati dari untaian bait-baitnya, segera menyampaikan pada kita, beban rasa, hanya dengan selintas baca.

Dengan tema besar seputar kehilangan, kepedihan, dan denyut kecemasan. Puisi-puisi Dina Oktaviani, nama perempuan tersebut yang juga seorang cerpenis ini, secara artikulatif saya dapati sebagai eksemplar dari model tutur Emily Dickinson (1830-1886). Penyair romantik Amerika yang eksentrik. Puisi Dina yang tak terlampau takluk pada beban poetika, namun begitu cantik dan subjektif dalam mengeksplorasi bahasa rasa, untuk kemudian menarasikan puing-puing keterpecahan, kadang juga ambiguitas, menjurus ke dalam simpul-simpul yang pernah diujarkan Emily. Representasi yang hadir dan diimajinasikan dari alam bawah sadar sang penyair, dengan ledakan-ledakan perasaan, yang seolah refleks dan impulsif itu, bagi saya sangat Emily sekali. Namun, meski berlarat, pada puisi Dina, si aku lirik terlihat tegar dan kadang juga keras kepala. Bahkan, tak sekali dua, Dina menyemburkan ironi. Baca penggalan puisi Nyanyian Pemabuk ini: Aku nikmati lagi perjalanan seorang diri/ di mana cuaca juni demikian mengancam/ … aku tidak akan berhenti/ bahkan jika yang paling berharga dari masa lalu/ tiba-tiba muncul di hadapanku dengan tangan terbuka// aku tidak ingin berlari/ bahkan jika yang paling tajam dari harapan/ menguntitku dengan langkah amat menganggu//… Membacanya, saya teringat puisi Emily: This is my letter to the world,/ That never wrote to me,-/ The simple news that Nature told,/ With tender majesty. Juga puisi ini: I’m nobody! Who are you?/ Are you nobody, too?/ Then there’s a pair of us –don’t tell!/ They’d banish us, you know.// How dreary, to be somebody!/ …

Dulu, Emily banyak mempertanyakan makna-makna prinsipil ihwal sesuatu, seperti hidup, manusia, cinta, kematian, iman, dan surga, dengan menumpu pada elemen-elemen alam seperti burung, gunung, air, udara, batu, matahari, dan sejenisnya. Pendeknya melalui entitas benda, karakter alam, dan siklus hidup. Idiom-idiom itu ia gunakan sebagai citra untuk mengendapkan jawaban dari berbagai pertanyaan yang sengaja dipendamresahkan penyair.

Bahkan, dalam mengurai misteri kehidupan, Emily obsesif juga intensif untuk senantiasa menampilkan metafor alam: dari ambiguitas hidup, ihwal yang dilupakan dari aktivitas yang rutin, hal ironi yang menyehari, sesuatu yang bergeming di tengah keriuhan, rahasia tersembunyi dari yang konvensional, juga fenomena alam yang masih teka-teki di sekeliling manusia. Pasase-pasase yang ditatanya kadang mampu meninggalkan jawaban yang luar biasa jernih dan mistis meski juga kerap menyisakan tanda tanya besar yang meneror pikiran. Di mana maksud penyair sering mengeram dalam jantung imaji, mengendap kukuh dalam cangkang kata-kata. Baca penggalan puisi ini: How happy is the little stone/ That rambles in the road alone/ And doesn’t care about careers/ And exigencies never fears-/…

Banyak orang mengatakan Emily sebagai individualitas yang radikal. Seorang perempuan yang dipenjara sepi, dengan rasa kesendiriannya yang sangat. Karenanya, wajar bila sensitivitas (ber)puisinya terjaga. Gaya artikulasinya yang singkat, padat, dan imajinatif, membuat puisi-puisinya begitu inovatif. Dan seperti jamaknya penyair romantik di era itu, Emily kerap juga memaknai sesuatu dari segi kekurangan-kekurangan: suatu yang mungkin amat dekat, menjadi bagian dari sesuatu yang pokok, tapi sering disisihkan. Coba baca potongan puisi Emily berikut ini: “… love is like Life–merely longer/ Love is like Death, during the Grave/…” Atau puisi ini: Water, is taught by thirst/ Land– by the oceans passed/ Transport- by throe-/ Peace- by its battles told-/ Love, by memorial mold-/ Birds, by the snow”. Adapun Dina pada salah satu puisinya, pernah menulis begini: …tapi cinta apakah ini/ yang telah melukai/ dan mencuri kesenangan dari rasa sakit?// ..matanya penuh igauan;/ mengembara bagai musik/ yang memberi gangguan berbeda/ kepada setiap telinga//…

Pada beberapa puisi di atas, citra sebuah benda tak (wajib) ditinjau dari pandangan yang melulu objektif. Namun, terkadang bisa juga dengan memeriksa melankolia perasaan penyair. Sebab, selain ditulis melalui pengamatan yang dalam, sajak-sajak itu seperti didekati dengan cara yang aneh dan tak lazim. Dan, karena itu misterius, seolah rangkaian citra hadir menyapa pembaca, dari ruang pribadi yang begitu intim dan subjektif. Emily memang kerap menampilkan suatu yang singkat, sederhana, tapi menohok. Ini memperlihatkan tingkat intelegensi penulisnya yang matang dan imajis. Perhatikan puisi Emily berikut: “Banyak kegilaan adalah rasa yang sangat indah-/ Untuk mata yang tajam-/ Banyak rasa-/ Kegilaan yang tak diinginkan-/ Ini mayoritas….”Dan artikulasi Emily ini sangat mewarnai langgam tutur Dina Oktaviani. Keintiman Dina untuk berusaha mempelajari, mengenali, kemudian memahami deretan makna “kehilangan”, “kebersendirian”, “keterpecahan”, dan sejenisnya, di samping menyembulkan tegangan dan jarak, juga mengesankan detail karakter sebuah perburuan yang tak kenal henti. Akan hal-ihwal tragedi hidup yang romantikanya seolah melulu terjangkit wabah keterasingan dan rasa kehilangan yang dalam.

Namun, justru perasaan yang teramat dekat pada yang dianggap inferior itulah yang mampu mentransfigurasi kata-kata dalam bait-bait puisi unik dan cantik. Dengan mendasarkan pada garis kepenyairan yang ditarik dari basis eksistensial yang khas ini kendati sekali lagi teks puisi tak henti diproduksi berulang kali, dari kepingan rasa kehilangan, kepedihan, dan juga kecemasan. Baca puisi Potret Di Jendela: …mereka saling meraba kembali/ peristiwa yang cepat, waktu yang jahat/ semuanya dewasa dengan berat/ tak ada lagi darah, aku mengeluh:/ mengapa lukanya tak bisa dihapus!// musim berubah tiga kali dalam semalam/ daun-daun tumbuh dalam kebingungan/ embun mengaburkan kaca jendela seluruhnya//. Pada puisi Hati yang Patah Berjalan, Dina menulis: tak ada yang sedih dan yang indah/ semuanya cuma kenangan sekarang/ bahkan meski begitu deras hatiku tergelincir//… tapi aku telah mengerti/ yang sendiri tak bisa kehilangan.

Barangkali benar kata Julia Kristeva, hidup dengan kehilangan adalah hidup untuk mendefinisikan ulang diri-diri tekstual kita. Dalam Black Sun: Depression and Melancholia (Cavallaro, 2004: 124), Kristeva pernah memaparkan bahwa cara-cara yang kuat dalam memberi sebuah bentuk bagi pengalaman kehilangan adalah seni. Mengapa demikian? Karena ia tidak saja berperan menghambat celah-celah yang melubangi tubuh kehilangan. Yang lebih penting, hidup dengan kehilangan adalah hidup untuk membantu memberi ruang atau tempat (space) bagi perasaan kehilangan tersebut. Setidaknya, sebagai semacam momen untuk mengenangnya lagi dan lagi. Dan saya menduga, Dina pun belum mengelak dari ihwal ini.

Misbahus Surur, penyuka sastra, tinggal di Malang