Dua Kota Dua Kepala

Deddy Arsya
http://www.harianhaluan.com/

Pernahkah kau mendengar sebuah lagu, atau beberapa lagu, dengan begitu banyak nama kota disebutkan di dalamnya? Ketika lirik-lirik dalam lagu itu dibuat, kota-kota itu masih berupa dusun-dusun kecil dengan orang-orang yang saling mengenal satu sama lain. Dan kini, ketika kau mendengar nyanyian itu (secara kebetulan atau sengaja kau menca­rinya di toko-toko kaset di kota-kota kami, kota-kota yang menjual nyanyian yang mencatat dirinya sendiri) maka dusun-dusun itu telah menjadi kota yang ganjil, kota besar atau kota kecil, atau di antaranya?

Kota dalam dendang, kota kecil dalam nyanyian, kota di daratan!

Pernahkah kau mendengar begitu banyak nama kota disebutkan dalam sebuah nyanyian, sebuah nyanyian saja? Kota-kota itu, dua di antaranya akan kuceritakan.

Kota Pertama

Kota yang kini masih menyim­pan gema derit rantai di kaki-kaki pekerja tambang. Kota hitam arang, hitam batubara. Lubang-lubang tambang itu, masihkah ada kira-kira? Atau kereta yang membawa batu­bara, seperti membawa luka masa silam manusia, masihkan terdengar peluitnya?

Aku berjalan suatu kali, di pinggiran kota itu, kota yang seperti kuali raksana, ke arah hutan yang menyimpan jejak kenangan orang-orang tentang buruh tambang yang dikirim dari pulau seberang. Dari Jawa, Jawa, Jawa, seperti kami sekarang, perantau yang pulang-malang. Kota yang masih larut dalam kenangan tentang batu yang serupa arang itu. Apa yang berbeda kiranya jika warna hitamnya diga­riskan di muka kita kini ketika semua telah dilupakan begitu lama?

Aku seret tangan kecil Marissa. Kami menatap hutan di tepi jalan lintas kabupaten, membelakangi kota yang seperti kuali raksasa itu. Aku tukilkan pandangan ke arah hutan pinggiran kota itu sekali lagi, dan menemukan sungai mengalir di bawah jalan utama. Sungai itu jernih airnya, bayangan sendiri akan tampak dengan jelas, jelas sekali serupa asli. Suara riak sungai itu mengingatkan tentang jejak buruh tambang dan derit rantai di kaki yang terngiang-ngiang di telinga sampai kini. Masih serupa gema, menguapkan gema. Sungai di mana dahulu kala, perlukah aku catatkan tahunnya, jasad-jasad kurus pekerja tambang dihanyutkan.

Tak berapa lama, aku kembali mengelilingi kota, kota yang seperti kuali raksasa. Menumpangi sebuah angkutan kota, menyeret tangan Marissa, dan menyadari tangan itu betapa kecilnya, barangkali sejak ayahnya tiada. Kami turun di jalan utama kota, mengunjungi pasar satelit tanpa membeli apa-apa, naik ang­kutan kota lagi, melihat-lihat kota la­ma. Benar ada bekas tambang ba­tubara itu kiranya, lubang hitam yang kini telah diberi cahaya, 15.000 rupiah kalau aku tak salah jika kau ingin masuk ke dalamnya.

Aku juga melihat lori-lori yang dulu katanya pernah diperjalankan di atas kawat besi yang kini tak lagi beroperasi. Tetapi semua masa lalu itu kini, juga kereta hitam dan beberapa gerbong-gerbong kayu, pabrik-pabrik pengolahan batubara, jejak-jejak kamp konsentrasi pekerja, dan tansi, telah menjadi bagian dari museum raksasa. Museum kota. Jejak-jejak kota tambang, kota yang seperti kuali raksasa.

Apakah kau ingin kuingatkan tanpa perlu aku berkata, tapi cukup hanya dengan mengunjungi kota-kota yang dicacat dalam sebuah nyanyian? Kota-kota yang selalu menyedihkan? Tidakkah nyanyian di daerah itu lebih sering digunakan untuk mengingat kesakitan, cemas, dan rusuh yang tak tertahankan? Maka inilah kota kedua, cukup dua saja, seperti buklet pariwisata yang membuatmu me­mutuskan berkunjung.

Kota Kedua

Sebentar lagi kami akan sampai di kota tujuan kami berikutnya dan mendapati masalalu. Sebentar lagi, tetapi kami merasa tak akan sampai-sampai. Entah bila, mungkin benar-benar tak akan tiba aku di sana. Aku menujunya, kota yang se­nantiasa dirindukan, tetapi tak seorang pun yang benar-benar ingin ke sana (mungkin ayah Marissa sebelum mati dulu pernah ber­mimpi).

Tetapi, kau tahu, aku tak bisa membayangkan sesuatu yang mampu mengembalikan ingatanku pada kampung halaman kami itu, kam­pung halaman yang bukan sebuah pemandangan atau gambaran yang kau perkirakan tentang negeri-negeri eksotik di pedalaman, seperti orang Eropa membayangkan dunia timur kita. Tetapi ia sebuah kampung yang kota, atau setidak-tidaknya berlagak serupa kota.

Ketika kota itu masih serupa kampung, ketika aku masih gadis muda dengan pipi kuning-tua, aku pernah mendengar kota kami disebutkan dalam lagu pada sebuah pesta perkawinan seseorang entah siapa. Dalam dendang mana, dalam dendang mana saja, aku lupa ju­dulnya. Aku pernah mendengarnya, dan itu pasti. Dan kini, aku sudah sebelas tahun tak pernah ke kota itu dan nyaris tidak tahu apa-apa tentang keadaan kota itu hari ini. Hal itu membuatku menunda-nunda untuk sampai ke kota itu, mencoba singgah di beberapa kota dalam perjalanan pulang. Tetapi aku tak juga men­dapatkan suatu gambaran yang menggembirakan tentang bagaimana aku harus menghadapi kota itu.

Aku naik bis lagi dan turun tidak sampai dua jam kemudian bersama Marissa di pusat kota berikutnya. Kau ingat, kota dalam dendang selalu akan mengingatkanmu untuk pulang. Benar-benar celaka semua nyanyian yang diciptakakan jika hanya untuk membawa larut atau menyuruh bunuh diri perlahan-lahan. Tapi begitulah adanya. Di kota kami, untuk tujuan itulah kiranya nyanyian diciptakan, untuk membunuh pen­dengarnya belaka atau melarikan diri dari nasib pahit bumi seumpama batu yang ditelan lubuk dalam.

Dan kami memutuskan berjalan kaki menuju danau di pinggiran kota, mengacuhkan keramaian, menyabai­kan warna-warni iklan di kota kecil yang berantakan. Kami lalu menaiki sebuah kereta kuda yang disewa tak melebihi uang kertas duapuluh ribu, meminta pada kusirnya untuk mengantarkan kami ke tepi danau hijau dan luas, seluas lautan jika seandainya kau lupa bahwa kau sedang menghadap ke sebuah danau saja.

Kami berkeliling danau sejenak dan memutuskan turun dari kereta kuda. Kami memutuskan berjalan kaki dan mengisi tabung air Marissa dengan air perasan tebu yang dijajakan di pinggir danau. Kami, aku dan Marissa, kenapa aku sampai lupa memper­kenalkan anak itu ke­padamu?

Marissa yang baru terbangun dari tidur di atas bis, tentu masih merasa belum mengerti di mana kami sekarang. Tetapi ia telah berada di atas kereta kuda selama beberapa menit dan menikmati lejutan-lecutan ekor kuda yang kasar. Dan merasa untuk pertama kali dalam hidupnya menaiki kereta kuda. Ia hampir selalu berada di sampingku selama tujuh tahun sehingga aku tahu pasti apa ia pernah naik kereta kuda sebelumnya atau tidak. Jadi, tidak perlu kau meragukan pengetahuanku tentang anak bisu itu.

Aku membawa Marissa menu­runi tebing jalan menujut tepi danau, terus ke tebing landai ke arah danau, lebih dekat lagi, untuk sampai di tepi danau itu dengan perasaan lega. Aku menyentuhkan tangan Marissa ke air. Ketika tangannya dan tanganku sampai di permukaan danau dan merasakan sejuknya air, seluruh pori-poriku bangkit dan ternganga, seperlu luka yang kembali muda.

Danau hijau itu, danau yang tersebut dalam dendang, juga dalam buklet Dinas Pariwisata. Jika kau datang, kau bisa membuka bajumu dan berenang telanjang di tempat yang tersembunyi dari orang-orang tentu saja. Tak akan ada yang melarangmu selagi kau tak dilihat siapa pun. Kau juga bisa berenang sambil membayangkan kau sedang berenang dengan semacam sirip yang perlahan-lahan ada dan menyumbul dari bawah ketiakmu. Atau jika kau tidak pandai berenang karena berat tubuhmu yang aneh dan mem­buatmu menjadi serupa batu, maka di tempat tertentu di pinggir danau itu kau bisa menyewa perahu atau pelampung dari ban dalam mobil yang tak akan menghabiskan sepuluh ribu uangmu.

Ketika aku berada di pinggir danau, setelah membasahi muka Marissa, aku kemudian juga mem­basahi mukaku, dan wajahku terkejut mendapati air danau yang dingin itu. Ya, air danau yang terus dingin meskipun kau datang tepat ketika matahari sedang berada di puncak kepalamu dan langit ketika itu begitu cerlang. Karena ikan-ikan di sana, menurut cerita, pernah besar, pernah begitu besar melebihi kekuatanmu untuk merangkul seluruh diameter tubuhmu sendiri. Sehingga kau tak akan pernah percaya sampai kapan­pun kalau ikan itu adalah ikan purba yang datang dari kutub utara entah selatan ke danau itu ketika seluruh dunia mencair, sehingga dingin kutub terbawa dingin tubuh ikan-ikan itu dan mengkontaminasi air di danau itu sekujurnya. Kau tidak akan percaya jika cerita itu benar adanya, seperti juga aku dan mungkin anakku, yang mendapatkan cerita tentang ikan besar dari kutub itu dari perempuan penjual air peras tebu yang mendirikan lapak-lapak di pinggir danau. Tak apalah.

Tapi dari perempuan penjual air peras tebu yang lain kau akan mendengar yang lain pula, kalau danau itu buah dari celaka, dari kutuk perempuan buta terhadap sembilan anak bujang mereka. Sembilan anak bujang yang kemu­dian menjadi ikan. Sembilan ekor ikan raksasa. Serupa Malin Kundang dalam versi yang berbeda. Seketika kutuk perempuan buta itu berlaku, seketika itu pula sembilan anak bujang yang melanggar pantang itu menjadi ikan. (Haruskah aku mence­ritakannya sedemikian mendetail kepadamu tentang pantang itu? Kau ingat saja bahwa cerita semacam itu berlaku untuk hampir seluruh dongeng-dongeng kuno di dunia kita, bukan?)

Beberapa waktu kemudian, aku sudah mendapati diriku berjalan dengan ransel berat di punggung mengelilingi danau itu hendak kembali ke kota, sementara Marissa menarik-narik ujung kemeja ba­wahku, membentuk gerakan tangan mengatakan kalau ia haus. Aku keluarkan tabung yang berisi perasan air tebu yang sudah tak lagi dingin dari dalam ranselku dan dengan gerakan tangan pula aku menyuruh Marissa menghabiskannya.

Marissa mungkin dapat merasa sangat lega dan, sepertiku kini, men­da­pati danau dan hamparan gunung-gu­nung yang melingkarinya begitu me­nawan dan memanjakan hati, mem­buatku melupakan do­ngeng-dongeng pilu yang mence­ritakan asal-mula terbentuknya danau itu di masa lalu.

Kami terus berjalan dan belum merasa letih meskipun kami telah hampir dua hari satu malam turun-naik bis yang berbeda (Kami perantau yang pulang dari Jawa, ah, sudahlah). Aku kadang tidur sejenak dan terbangun kembali oleh gun­cangan jalan, dikebat insomnia be­berapa lama, sementara Marissa men­dapat banyak tidur sepanjang per­jalanan

Setelah merasa lelah berjalan mengelilingi danau, kami berhenti di sebuah kedai nasi dengan menu utama ikan khas danau itu. Aku berpikir, adakah sembilan ekor ikan jantan itu telah kawin dengan sembilan ikan betina yang mungkin juga ada karena kutuk dan celaka ibu mereka, dan mereka, pasangan-pasangan ikan yang terkutuk itu melahirkan begitu banyak ikan kecil di danau ini?

Marissa makan dengan lahap, aku kehilangan selera untuk men­cicipi apa pun. Ketika mendapati senja jatuh ke danau, aku menarik tangan Marissa, kami memutuskan naik bis lagi. Bis dengan tujuan kota lain lagi, kota dalam dendang.

Tapi bukan kota kami. Kami tak akan pernah pulang-pulang lagi ke kampung halaman kami, ke kampung yang berlagak seperti kota. Kami terus saja me­ngunjungi kota lain, kota-kota yang pernah tersebut dalam dendang yang lain, kota-kota kecil yang lain yang bukan milik kami, yang hanya akan mengingatkan kami pada kota kami yang sesungguhnya.

Pernahkah kau mendengarnya? Jika kelak kau berkunjung ke kota-kota yang pernah kami kunjungi, kau bisa mendapati nyanyian itu di toko-toko kaset dengan menanyakan: adakah kaset dengan nyanyian yang memuat begitu banyak nama kota di dalamnya?

08 Januari 2011