EKSPERIMENTASI DJENAR MAESA AYU DALAM “SMS”

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Djenar Maesa Ayu mencuat namanya bersamaan dengan maraknya isu sastra wangi, sebuah ungkapan bernada miring yang ditujukan pada beberapa artis cantik yang terjun ke dunia sastra. Maka, selepas terbit antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003), nada miring itu pun sepertinya melekat begitu saja. Namanya juga isu. Ia masih saja bergentayangan. Bahkan, ketika cerpennya “Waktu Nayla” terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2003, publik sastra masih juga belum begitu yakin atas prestasi Djenar. Keberhasilan sebelumnya yang menempatkan cerpennya “Menyusu Ayah” sebagai Cerpen Terbaik 2002 versi Jurnal Perempuan, seolah-olah tak berarti apa-apa.

Publik terkadang memang kejam. Tudingan tanpa dasar bisa menggelinding seperti bola liar. Isu yang dilontarkannya kemudian bergeser: dari sastra wangi karena kecantikan penulisnya, ke isi cerpen yang nyerempet-nyerempet, sensasional dan mengobral kata-kata nakal. Resensi yang ditulis Danarto di harian Republika, mewartakan, betapa Djenar sangat terampil dalam membangun narasi, menghancurkan tabu-tabu untuk kepentingan mengusung ideologi gender, dan menyelusupkan eksperimentasi tanpa berkesan pretensius. Ia sekadar bercerita, mengangkat potret sosial yang aktual, dan memosisikan dunia lelaki dengan mitos superioritasnya ke dalam simbolisasi perilaku kebinatangan. Ia membalikkan mitos itu dan menggiring dunia laki-laki ke dalam wilayah kaum pecundang.

Kiprah Djenar tegas tak sekadar mengisi waktu luang atau cari sensasi. Ia serius dan itu dibuktikan lewat sebuah antologi lagi Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004). Dalam waktu empat bulan, buku ini tiga kali dicetak ulang. Seperti juga antologi cerpen pertamanya, Jangan Main-Main termasuk kategori buku-buku laris. Bukankah itu bukti keberhasilannya? Lalu, masihkah publik sastra meragukan kepiawaiannya?
***

Secara iseng, saya coba bertanya pada sejumlah mahasiswa, kawan, dan beberapa orang yang tak saya kenal. Dari kedua buku antologi Djenar Maesa Ayu, cerpen manakah yang paling sederhana? Pilihan pertanyaan model itu sengaja untuk coba menangkap sejauh mana kekuatan Djenar pada cerpen yang paling sederhana menurut pandangan orang. Jika cerpen itu lemah, masih agak wajar jika muncul kontroversi. Sebaliknya, jika dari cerpen yang paling sederhana itu saja terkandung kekuatan, maka tak ada alasan lagi bagi publik untuk bertindak skeptis atas kepengarangan Djenar. Itulah dasar pemikirannya.

Beberapa ada yang menjawab “Tidak tahu” lantaran belum membaca semua cerpen dalam kedua antologi itu. Tetapi, sebagian besar yang sudah membaca kedua buku itu, memilih cerpen “SMS” yang terhimpun dalam antologi Mereka Bilang, Saya Monyet! sebagai cerpen yang dianggap paling sederhana. “Kok, orang ber-sms saja bisa jadi cerpen. Bukankah kini setiap hari kita nyaris tak dapat meninggalkan sms? Kalau begitu, saya juga bisa menulis cerpen!” demikian beberapa komentar mereka, yang mengingatkan jawaban yang sama ketika saya membacakan dua puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Luka” dan “Kalian.” Dari mana SCB punya ide menulis puisi dari ha ha dan pun, jika bukan dari sebuah kecerdasan. Hal yang sama tentu berlaku pada Djenar yang membangun cerpen dari kirim-balas sms. Itulah yang belum dapat dipahami publik. Maka, terima saja jika beberapa di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa mereka bisa menulis puisi atau cerpen yang jauh lebih bagus dari ha ha dan pun atau “SMS”.

Itulah publik! Terkadang lucu, sering pula naif. Selalu, mereka baru ngeh –sadar— ketika orang lain sudah memulai. Tetapi, di balik itu, saya takjub pada kesadaran mereka. Itulah kejujuran publik. Menjawab tanpa pretensi, menilai tanpa punya kepentingan apa pun. Benarkah “SMS” sebagai cerpen yang paling sederhana?
***

Secara tekstual dan sekilas pintas, ada benarnya juga jawaban publik itu. Tak ada narasi, tak ada deskripsi. Padahal, yang namanya cerpen –cerita pendek—di dalamnya mesti ada sesuatu yang diceritakan. Di sana, tak ada orang yang bercerita. Tak jelas pula, tokoh-tokohnya itu ganteng, cantik, atau jelek. Semuanya wujud dalam bentuk sms. Jika begitu, apakah “SMS” termasuk cerpen?

Masih ingatkah cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayam yang kemudian mendapat hadiah dari majalah sastra Horison, 1966/1967? Cerpen itu dibangun lewat dialog. Seolah-olah, di sana tak ada deskripsi, tak ada narasi. Semua nyaris disajikan dalam bentuk tanya-jawab. Dari dalam dialog itu, lahir narasi tentang rindu lelaki Jawa (Marno). Dari dialog itu pula, muncul deskripsi tentang suasana malam di Manhattan yang dibayangkannya seperti seribu kunang-kunang di desanya. Bukankah itu sebuah cerpen yang mumpuni? Dengan sebagian besar dialog, pembaca digiring pada suasana batin tokoh Marno dan Jane yang galau. Marno rindu kampung halaman, terbayang istri, sementara di depannya tergolek perempuan bule, Jane, yang rindu pada mantan suaminya. Jane siap melayani dan mengobati kegalauan Marno. Sebuah gangguan kesetiaan dihadapi Marno. Cinta pada sang istri atau berkhianat? Sebuah konflik batin yang dahsyat!

Bagaimana dengan cerpen “SMS” karya Djenar Maesa Ayu? Betul, cerpen ini tampaknya begitu sederhana. Tetapi cobalah cermati setiap kata dalam keseluruhan teks itu. Di situlah kita seperti berhadapan dengan teka-teki tentang dua gambar yang serupa tapi tak sama. Sebuah teka-teki yang mengasyikkan. Kita tidak hanya disuruh menghubungkaitkan sms yang satu dengan sms lainnya, mencermati sendiri tokoh-tokohnya, tetapi juga menciptakan sendiri segala peristiwa yang terjadi di balik sms itu. Sebuah puzzle dengan potongan-potongan gambar yang berserak, dan kita bebas merangkaikan sendiri menjadi sebuah gambar yang utuh.

Dilihat dari konteks eksperimentasi, semangatnya hampir sama dengan Danarto ketika ia hendak mengembalikan cerita sebagai cerita. Di dalam cerita, logika formal tidak diperlukan. Yang dipentingkan di sana adalah cerita tentang sesuatu. Logis tidaknya cerita itu, bukan urusannya. Danarto sekadar bercerita. Lalu mengapa orang harus repot-repot mencari hubungan kausalitas dan mencoba memahaminya dengan hukum logika formal.

Semangat Djenar sejenis itu. Ia tak hendak bercerita, karena ia menyerahkan segala ceritanya kepada pembaca. Yang ditekankan Djenar adalah memberi kebebasan kepada pembaca untuk bercerita menurut persepsi masing-masing. Djenar sekadar memberi tanda-tanda. Silakan kaitkan sendiri hubungannya, silakan ciptakan sendiri peristiwanya. Dalam hal ini, Djenar coba berisyarat, bahwa di balik rangkaian sms itu ada peristiwa dan cerita yang terjadi dan dialami tokoh Boim, Vira, Tyana, Jo, Armand, dan Robert. Dari tanda-tanda yang disinyalkannya, kita dapat menangkap, dua pasang manusia (Armand—Vira dan Boim—Tyana) gagal berkencan karena suami mereka (Jo dan Armand) ada di sana..

Bagaimana cerpen yang secara konvensional dipahami hakikatnya cerita, dijungkirbalikkan menjadi tanda-tanda. Lalu apa ceritanya? Itulah tugas pembaca. Djenar memahami, pembacanya adalah masyarakat yang tak lagi gegar teknologi. Jadi, sms (short messages service) bukanlah hal asing. Ini bagian dari kehidupan modern. Maka, dengan sms itu, Djenar memperlakukan pembacanya sebagai bagian dari masyarakat modern yang cerdas dan sangat paham tetek bengek sms. Sebagai pengarang, Djenar tak memanfaatkan kekuasaannya secara absolut. Ia liberal, demokratis, dan berbagi kekuasaan dengan pembacanya. Bukankah berbagi kekuasaan merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan pengarang kepada pembaca?
***

Jika disederhanakan, cerpen “SMS” bercerita tentang rencana perselingkuhan tokoh Boim—Tyana, Armand—Vira, dan sesama jenis Jo—Robert. Mula-mula Boim berkirim sms pada Vira. Di antara itu, Vira menerima sms dari Armand yang lalu mengajaknya bertemu di satu tempat. Boim yang katanya mau meeting, ternyata kirim sms pada Tyana. Keduanya juga sepakat jumpa di satu tempat. Sebagaimana lazimnya seorang istri yang hendak menunjukkan kesetiaan kepada suami, Vira minta izin pada Jo, suaminya. Begitu juga Tyana. Suami Tyana (Armand), tentu saja mengizinkan, lantaran ia punya janji dengan Vira. Ketika mereka hendak sampai ke tempat yang dituju, Vira dan Tyana melihat mobil suaminya masing-masing. Bubarlah rencana mereka. Tetapi Jo tidak. Ia memilih berkencan dengan sesama jenis, dengan Robert yang gay.

Dilihat dari waktu ceritanya, yaitu lama peristiwa itu berlangsung dalam cerita, semua peristiwa dalam “SMS” terjadi kurang dari satu setengah jam, dimulai dari jam 12:29:18 sampai 13:58:2. Jadi, dalam waktu yang kurang dari 90 menit, Djenar berhasil mengangkat berbagai peristiwa dan itu dirangkai dalam hitungan detik per detik. Dalam banyak prosa, waktu cerita bisa sangat panjang bisa sangat singkat. Serial silat Kho Ping Ho misalnya, waktu ceritanya berlangsung selama beberapa generasi, sementara Sitti Nurbaya dimulai dari masa remaja Samsul Bachri sampai ia tewas di tangan Datuk Meringgih. Jadi berlangsung sekitar tiga puluhan tahun.

Waktu cerita yang singkat seperti dalam “SMS” juga bukan hal baru. Tetapi, itu harus didukung oleh teknik dan kepiawaian yang tinggi dalam menciptakan berbagai hal dan rangkaian peristiwa. Sebutlah novel Sehari dalam Hidup Ivan Denisovitch karya Alexandre Solzhenitsyn. Kisah satu hari kehidupan Ivan berhasil dieksploitasi, dieksplorasi pengarang menjadi kisah dahsyat penghancuran nilai-nilai kemanusiaan. Ia membongkar kekejaman di kamp konsentrasi Siberia. Remah-remah roti dan kerak bubur adalah nafas yang dapat memperpanjang hidup. Kelaparan adalah denyut jantung mereka. Di sana, maut menempel di setiap pundak para tahanan yang terus membayangi mereka setiap detik.

Dengan kemampuan deskripsinya yang sangat terinci, Alexandre Solzhenitsyn berhasil memotret suasana dan latar kehidupan di kamp konsentrasi Siberia. Teknik yang sama dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam Keluarga Gerilya. Kehidupan yang berlangsung selama tiga hari itu, dimanfaatkan Pram untuk mengangkat suasana khaos akibat perang dan berantakannya kehidupan sebuah keluarga. Ibu yang jadi pelacur, ayah berkhianat, adik diperkosa, dan kakak-beradik yang jadi gerilyawan, terpaksa harus membunuh ayahnya sendiri. Sebuah tragedi kemanusiaan yang bisa terjadi di mana saja ketika manusia berhadapan dengan pilihan: bertahan hidup atau mengabdi pada negara.

Teknik yang digunakan Putu Wijaya dalam Stasiun lain lagi. Ia bermain dalam tataran pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Seenaknya ia mondar-mandir menciptakan peristiwa apa saja, jungkir-balik, masa lalu dan masa depan. Semua bisa dihadirkan pada saat yang sama, pada satu tokoh lelaki yang duduk di peron stasiun. Jadi, peristiwa yang sebenarnya terjadi beberapa jam saja, dapat mengungkapkan banyak peristiwa. Mengingat pikiran dan perasaan tak terikat ruang dan waktu, apa pun bisa hadir dan terjadi di sana.

Peristiwa yang tak terikat ruang dan waktu, bisa juga hadir dalam mimpi. Itulah yang dimanfaatkan Taufik Ikram Jamil dalam Hempasan Gelombang untuk menguak sejarah masa lalu puaknya. Mimpi sekadar alat, pintu masuk untuk mengangkat peristiwa sejarah masa lalu menjadi peristiwa masa kini. Peristiwa mimpi juga dimanfaatkan Hudan Hidayat dalam cerpennya “Mimpi yang Mematikan”. Karena yang terjadi dalam mimpi, maka peristiwa kanibalisme dan penyimpangan seksual mempunyai dasar legitimasi.

Begitulah waktu cerita yang digunakan pengarang bisa sangat panjang bisa sangat singkat. Bergantung pada tuntutan ceritanya. Cerpen “SMS” yang waktu ceritanya kurang dari 90 menit, juga sebenarnya mengungkapkan banyak hal. Hanya, Djenar tak melakukan deskripsi atau narasi, sebagaimana yang terdapat pada karya-karya yang disebutkan tadi, tetapi justru menyerahkan peristiwanya kepada pembaca. Di sana banyak ruang kosong yang dapat kita masuki, kita isi dengan rangkaian cerita, kita hadirkan dengan berbagai peristiwa. Itulah salah satu kebaruan dalam “SMS”. Itulah eksperimentasi Djenar yang berbeda dengan cara yang pernah dilakukan para pengarang sebelumnya.
***

Yang juga menarik dari cerpen “SMS” ini adalah semangat Djenar yang tetap konsisten mengusung ideologi gender. Lihatlah tindakan Vira dan Tyana. Keduanya batal berselingkuh karena di sana ada suami mereka. Itulah bentuk penghormatan pada ikatan perkawinan. Tetapi apa yang dilakukan Jo, suami Vira? Ia memilih bermain dengan Robert, makhluk sejenis. Bukankah itu wujud kerakusan laki-laki? Lalu apa yang dikatakan si gay, Robert? “OK. Now let’s get rid of your wife!” Satu penghinaan luar biasa yang memperlakukan istri Jo sebagai sampah yang harus dicampakkan! Itulah cermin arogansi dunia laki-laki. Djenar seperti hendak meledek: laki-laki memang rakus, apa pun bisa dimakannya! Dan di balik itu, laki-laki tunduk pada ketidaknormalan, menikmati penyimpangan. Jadi, Jo (baca: laki-laki) itu tidak normal, menyimpang. Dengan kata lain, perempuan masih jauh lebih baik, karena ia masih menghargai kenormalan dan tak mau melakukan penyimpangan. Apa iya? Itulah yang terjadi dalam cerpen “SMS”.

Begitulah, cerpen “SMS” yang tampak sederhana itu ternyata menyimpan begitu banyak makna. Seperti puisi, ia kaya imaji, dan pembaca diberi ruang yang luas untuk masuk ke dalamnya. Dari mana Djenar punya ide menulis cerpen seperti itu? Niscaya itu datang dari kepiawaian yang cerdas atau dari kecerdasan yang piawai!

(Maman S. Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok)