Fiksi Kilat, Apa Pula Itu?

Reiny Dwinanda
Republika, 17 Juni 2007

SEOLAH mengambil inspirasi dari irama kehidupan yang serbacepat, praktis, dan memudahkan, ranah sastra sepertinya tak mau ketinggalan mengikuti tren dunia. Lantas, hadirlah fiksi kilat ke sidang pembaca. Apa pula itu?

Argumen tadi sejatinya bukan alasan yang memunculkan fiksi kilat. Faktor pendorongnya malah masih berupa tanda tanya. Sebab, karya-karya macam itu telah diciptakan dari dulu kala. Meski begitu, dunia belum juga memiliki kesepakatan tentang definisi fiksi kilat. Hal itu secara tertulis diungkapkan Nukila Amal selaku sekretaris Komite Sastra di buku kumpulan fiksi kilat yang dibacakan pada Lampion Sastra, dua pekan lalu (8/6). ”Apa sebenarnya fiksi kilat, sampai kini masih simpang-siur,” ujarnya.

Fiksi kilat dikenal dengan berbagai nama di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, sebagian orang menamai fiksi kilat dengan sebutan cerita mini atau fiksi mikro. Di Amerika, fiksi kilat punya cukup banyak julukan, cerita seketika, cerita singkat, cerita kartu pos, cerita kalap, cerita gesit, cerita kurus, dan juga fiksi mikro.

Orang Prancis mengenal fiksi kilat sebagai nouvelles. Orang Jepang menamainya cerita setelapak tangan. ”Itu karena jumlah baris-barisnya berukuran tak lebih dari setelapak tangan,” Nukila mengungkapkan. Orang Cina malah mendeskripsikan fiksi kilat dengan lebih imajinatif. Mereka menggambarkannya sebagai cerita pendek kecil, cerita semenit, atau cerita seukuran buku. ”Ada pula yang menyebut fiksi kilat ibarat cerita sebatang rokok. Artinya, sembari menghisap sebatang rokok, cerita itu habis dibaca,” urai Nukila.

Jika merujuk pada sejumlah julukan tadi, satu kesimpulan bisa didapat. Fiksi kilat merupakan cerita yang sangat pendek. Seberapa pendek?
‘Aturan main’ sepertinya masih kabur. Ada yang bilang fiksi kilat hanya memuat 250 sampai 1000 kata. Versi lain menyebut 750 kata. ”Yang lain menetapkan 1500 kata,” ujar Nukila.

Terlepas dari sederet pertanyaan tanpa jawaban yang seragam, fiksi kilat telah menjadi bagian dari bacaan penggemar sastra. Penulis asing maupun lokal bersaing merebut hati pembaca. Pengakuan sejumlah penonton dan penampil Lampion Sastra membuktikannya. Adi Kurdi amat terkesan dengan fiksi kilat yang dibacakannya. Sebelum Mandi (Ismail Kadare) memikat hatinya. ”Belum pernah saya membaca fiksi kilat sebagus ini. Saya sampai takut kurang bagus membacakannya,” celetuk pemain teater yang juga artis sinetron.

Akmal Puji Santoso yang penggemar novel menaruh hati pada fiksi kilat. Sepanjang pembacaan 36 fiksi kilat, ia lebih sering memejamkan mata. ”Lebih tergambar jalan ceritanya,” kata Akmal yang sudah tiga kali menonton Lampion Sastra.

Di mata Akmal, Kemungkinan Abstraksi termasuk cerita yang hebat. Fiksi kilat ini ditulis oleh Julio Cortazar. Dia adalah penulis besar asal Argentina yang bermukim di Paris. Cortazar merupakan penulis sastra moderen Amerika Latin yang juga seorang penyair, penerjemah, dan musisi jazz amatir. ”Cortazar berhasil merangkai kata dengan pas hingga tergambar di benak apa yang dicoba ceritakannya,” papar Akmal yang kerap menyambangi dunia maya untuk mencermati majalah sastra online dan blog sastra.

Usai menikmati Lampion Sastra, Aniqotul Ummah menarik kesimpulan tentang fiksi kilat. Baginya, fiksi kilat termasuk sastra tingkat tinggi. ”Pastinya tak semua penulis bisa menghasilkannya,” komentar Aniq yang sering menulis cerpen dan puisi. Fiksi kilat, lanjut Aniq, dibatasi oleh jumlah kata. Otomatis, penulis harus memaparkan fiksinya dengan ringkas sekaligus menawan. ”Lantas, tak seperti cerita pendek, fiksi kilat pasti ada ending-nya,” Aniq berpendapat.

Aniq juga berasumsi keringkasan fiksi kilat belum tentu dapat memikat pecinta sastra secara keseluruhan. Penikmat novel, contohnya, bisa jadi tak menyukai cerita yang begitu pendek. ”Tidak sembarang pembaca yang bisa menikmatinya,” tandas Aniq. Benar begitu?

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/06/horison-fiksi-kilat-apa-pula-itu.html