Gambar Mei

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

IA yang meramalkan kematian keluarganya. Pertama ia menggambar ayahnya dan adiknya, kemudian ibunya. Usianya masih empat belas saat itu. Entah mengapa, suatu pagi, seolah dikejar keperluan mendesak, ia mencari-cari pensil dan kertas. Lalu, di atas kertas itu, dengan sangat cepat dan tanpa kedipan mata, ia menggambar sebuah kapal. Kapal itu berlayar di atas lautan luas. Dari dek kapal itu, ayahnya jatuh ke laut.

Pada kertas yang lain, ia kembali membuat gambar yang sama. Kali ini adiknya yang terjatuh dari kapal.

Ia menunjukkan gambar-gambar itu kepada ayahnya. Hal itu membuat ayahnya membisu berkepanjangan.

Keesokan harinya, ia kembali menggambar hal yang sama. Kali ini ibunya yang jatuh ke laut.

Ayahnya terlihat ketakutan ketika ia tunjukkan gambarnya itu. Dahi ayahnya berkeringat, dan dengan gemetar, ayahnya berkata, “Ini tanda tidak baik, Mei. Sangat tidak baik.”

Ia pun merasai ketakutan. Dengan khawatir ia bertanya pada ayahnya, “Apa yang tidak baik, Papi? Apa yang akan terjadi?”

Mata ayahnya terlihat murung. “Papi takut kamu akan sendiri. Papi takut Papi, Ade, dan Mami akan pergi jauh meninggalkanmu.”

Ia sungguh ketakutan mendengar itu. Ia menyesal telah membuat gambar-gambar itu. Tapi ia tidak mampu menahan dirinya. Gambar-gambar itu seolah memerintahnya untuk membuat mereka. Juga untuk menunjukkan mereka pada ayahnya.

Enam bulan sejak itu, ayahnya meninggal dunia. Sakitnya mendadak. Orang bilang ayahnya kena angin lewat.

Tiga bulan sejak ayahnya meninggal, Ade, adik satu-satunya, menghembuskan napas terakhir. Tidak ada yang pernah menyadari kalau Ade mengidap kanker otak.

Sejak itu, ibunya melalu murung. Berkali-kali ia berusaha menguatkan ibunya, tapi usahanya selalu saja gagal. Saat itu, dengan ketakutan yang sangat, ia menyadari bahwa ibunya pun akan pergi. Dan, ia, di usianya yang baru menginjak lima belas, akan menjadi yatim piatu dan sebatang kara di dunia ini.

Tiga bulan sejak Ade meninggal, bersama saudara, kenalan keluarga dan tetangga, ia pun harus kembali pergi ke permakaman yang sama untuk menguburkan ibunya.

Demikian ia menceritakan kisahnya kepadaku.

***

Namanya Mei. Aku mengenalnya jauh waktu dari kemalangan yang menimpanya itu. Kami berkuliah di universitas yang sama. Ketika baru saja bertemu, aku merasa telah mengenalnya sejak lama.

Namanya Mei. Ia bertubuh mungil, bermata sipit, dan berkulit putih susu. Rambutnya sangat halus dan tipis, berwarna kemerahan dan sedikit bergelombang. Sebuah tahi lalat menetap di dekat ujung dagunya.

Ia yang meramalkan kematian ayahku.

Ia telah menunjukkan sebuah gambarannya padaku. Tiga ekor merpati putih—dua merpati dewasa bersama seekor anak burung—di dalam sangkar, satu burung terbang keluar, melalui lautan luas dan kemudian hinggap pada sebuah masjid yang runtuh.

Mei berkata, “Akan ada alim ulama yang meninggal dunia. Ia meninggalkan istri dan seorang anaknya.”

Karena ayahku seorang penceramah dan imam masjid, juga karena aku anak satu-satunya, kata-kata Mei membuatku gundah. Dan benar saja, tak lama kemudian, ayahku meninggal dunia.

Sejak itu, bagiku, gambar-gambar yang Mei buat selalu menjadi pertanda kematian.

***

Namanya Mei. Ia suka bicara tentang apa saja. Tapi tidak tentang gambar-gambarnya. Hanya orang-orang dekat yang tahu tentang gambar-gambarnya itu. Pamannya, tempat ia menumpang hidup sejak menjadi yatim piatu, tahu tentang itu. Tapi pamannya selalu melarang ia menggambar. “Itu mistik dan bisa membuatmu syirik. Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang syirik,” demikian pamannya berkata.

Tapi Mei berkeyakinan bahwa Tuhanlah yang memberinya kemampuan untuk menggambar masa depan. Pun begitu, Mei tidak pernah bercerita tentang bakatnya ini pada orang lain. Hanya aku. Ya, hanya aku yang dipercayainya.

Namun anehnya, ada orang-orang yang mengetahui rahasia Mei. Contohnya saat Mei dan aku pergi berbelanja ke Telukbetung. Ketika melalui sebuah wihara, yang besar dan berwarna merah, seorang tua menyapa Mei. Orang tua itu terlihat ringkih dan ia menyapa dalam bahasa yang kami tidak mengerti. Mei menggelengkan kepala dan berkata ia tidak mengerti.

Orang tua itu tersenyum. “Kamu bukan orang China?” tanyanya.

Mei menggeleng.

Orang tua itu mengangguk dan berkata, “Tapi aku tahu kamu menyimpan kekuatan. Kamu punya kekuatan khusus yang besar. Beruntung sekali, sungguh beruntung.”

Mei ketakutan mendengar itu. Ia menggenggam tanganku dan mengajakku menjauhi orang tua itu.

Itu bukan yang terakhir.

Lain waktu, kali ini ketika kami berniat makan siang bersama. Seorang perempuan paruh baya, pedagang pempek di daerah Kupang Teba, tertegun melihat Mei.

“Ncik, lu tau lu bawa hoki? Lu punya kaki dan badan tidak sama besar. Kaki lu kecil. Kekecilan untuk bawa badan. Tapi lu punya kekuatan. Kekuatan besar.”

Begitu juga di waktu yang lain, seorang bapak, yang kebetulan berteduh bersama Mei dan aku di sebuah halte bus, terus memerhatikan Mei. Bapak itu mendekati Mei dan berkata santun, “Maaf, Mbak. Mbak punya simpanan ya?”

“Simpanan?” tanya Mei heran.

Bapak itu tersenyum. “Simpanan ilmu, Mbak.”

Mei terkejut dan sambil menutupi kepanikannya sendiri, ia berkata, “Ya, ada ilmu juga. Ilmu hukum. Saya kuliah di Unila.”

Bapak itu tertawa. “Ah, Mbak ini lucu rupanya. Tentu Mbak tahu yang saya maksud. Kalau Mbak asah terus, ilmu Mbak bisa makin kuat.”

Perjumpaan-perjumpaan yang aneh ini terjadi berulang-ulang, hingga kerap membuat Mei ketakutan dan khawatir akan dirinya sendiri.

***

Beberapa tahun dari kematian ayahku, Mei kembali memberiku sebuah gambar. “Jangan pergi besok, tidak baik dan berbahaya,” kata dia.

Aku mengenali gedung bertingkat lima yang ada di gambaran Mei. Di depan gedung itu, puluhan karangan bunga diletakkan. Di beberapa karangan bunga yang cukup besar, Mei mengguratkan kata “Turut berdukacita”.

“Apa artinya ini Mei?” tanyaku.

“Aku tidak tahu,” jawab Mei, “Tapi karangan-karangan bunga ini melambangkan adanya kematian.”

“Lalu apa hubungannya dengan rencanaku besok? Gambar ini kan mungkin saja berarti pemilik gedung atau yang bekerja di situ ada yang meninggal.”

Mei menggeleng. “Kamu dan kawan-kawanmu berencana march ke sana kan?”

Aku terdiam. “Tidak akan terjadi apa-apa, Mei. Percayalah.”

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 28 September 1999, aku tetap pergi. Bersama puluhan kawan-kawan, aku ikut berkumpul di lapangan parkir kampus FISIP Unila. Beberapa menit kami bergantian berorasi di depan Gedung E, mengajak teman-teman yang lain turut serta.

Di dekat gedung FH, aku melihat Mei berdiri. Matanya sedih sekali menatapku. Aku melambai padanya. Lalu untuknya, sambil tersenyum, dengan tangan kiriku, aku mengepalkan tinju.

Dari depan FISIP, kami berjalan bersama-sama menuju Markas Koramil Kedaton. Kami bersemangat sekali, tak jeda bernyanyi dan meneriakkan perlawanan. Tujuan kami adalah menolak pembentukan Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Berbahaya (RUU PKB). Dan bukan hanya di Lampung, mahasiswa di seluruh negeri turun ke jalan untuk menolak RUU ini.

Ketika melewati gedung bertingkat lima yang digambar Mei hari kemarin, gedung tertinggi kampus UBL, aku bergidik. Tak akan terjadi apa-apa, pikirku dalam hati. Hanya sebuah gambar yang bisa berarti banyak dan tidak berhubungan dengan aksi hari ini.

Kami pun mulai berorasi di depan Markas Koramil. Tak lama, entah mulai dari mana, keadaan menjadi kacau. Pelemparan batu disusul bom molotov dan gas air mata. Lalu, dari arah pekuburan umum di samping Koramil terdengar desingan peluru. Peluru karet, pikirku.

Tak diduga, seorang kawan bertubuh jangkung dan berkulit putih, yang berdiri tak jauh dariku, rebah ke aspal jalan. Aku melihat darah. Pekik ketakutan datang dari segala arah. “Peluru tajam! Mereka menggunakan peluru tajam! Lari!”

Seperti kelompok lebah yang diasapi dan diusik, kami lari berhamburan. Puluhan mahasiswa berlari menuju kampus IAIN lama dan UBL, yang berada tepat di depan Koramil, demi mencari tempat perlindungan. Namun, tentara tak lagi peduli dengan kekebalan kampus, mereka terus mengejar dan menghancurkan apa-apa yang mereka lalui, juga mobil-mobil dan kaca-kaca gedung.

Melalui kampus IAIN dan berbelok ke pekarangan kampus UBL, aku terus berlari desing peluru yang diikuti teriakan, saling susul-menyusul. Bau hangus ban menusuk hidungku. Ini pertempuran, pikirku. Ini perang. Degup jantungku berpacu langkah. Tentara memerangi mahasiswa. Kakiku sakit dan kepalaku terasa panas sekali. Kenapa bisa seperti ini? Kami bukan penjahat. Napasku sesak. Telapak tanganku basah oleh keringat. Aku teringat Mei.

Aku berbelok ke arah gedung berlantai lima. Di persimpangan, hampir saja aku bertabrakan dengan seorang mahasiswa berjilbab. Ia memegang kamera. Seorang tentara bersenjata mengejarnya. Mata kami bertumbuk, sedetik saja, di mata perempuan itu aku seolah melihat kematian. Perempuan itu terus berlari. Tentara yang mengejarnya melihatku dan berteriak, “Jangan kabur kamu.”

Setelah itu aku merasai perih dan panas yang sangat di bagian pundak. Aku merasai darah hangat merembes ke flannel kotak-kotak merah yang tak kukancing. Darah itu mengalir membasahi kaus merah bergambar Soekarno yang kukenakan. Lalu semua menjadi gelap.

***

Beberapa hari kemudian, aku diizinkan pulang dari rumah sakit. Dua orang kawan telah meninggal dunia, empat puluh empat orang, termasuk aku, terluka parah. Berita itu aku dengar dari teman-teman yang menjenguk. Teman-teman juga bilang, keadaan belum aman. Aparat masih mencari-cari mahasiswa yang dianggap think tank organisasi yang ikut berdemo.

Di hari kedua sejak aku keluar dari rumah sakit, Mei datang ke rumahku. Dari saku celana jinsnya ia mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat-lipat.

“Ini aku gambar ketika kamu masih di rumah sakit. Empat hari lalu,” kata Mei.

Aku membuka lipatan kertas itu dan tertegun. Gambar yang Mei buat membuatku sesak.

“Larilah,” kata Mei. “Pergilah jauh dari negeri ini.”

“Ke mana aku bisa lari, Mei?” tanyaku lemah.

Mei menggenggam tanganku dan terisak.

Lancaster, Agustus 2011

Catatan: Detail kronologis tragedi UBL berdarah di cerita ini adalah karangan penulis semata.