Goenawan Mohamad Cs Bangun Komunitas Salihara

Maya Saputri
Kompas, 8 Agus 2008

Jakarta punya komunitas budaya baru. Komunitas Salihara yang bertempat di Jalan Salihara 16 Pejaten Barat Jakarta Selatan diresmikan Jumat (8/8) pagi.

Peresmian komunitas yang menempati lahan 3.000 meter persegi ini diawali penanaman pohon bodhi di halaman depan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Pinondang Simanjuntak mewakili Gubenur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan pendiri komunitas Salihara Goenawan Mohamad.

“Ini memang idenya untuk mengetengahkan komunitas di tengah masyarakat Jakarta yang padat, kami dapat lokasinya di sini, ya kita bangun di sini,” kata Goenawan.

Selain itu, karena lokasinya dekat kampus, maka Goenawan ingin mengajak mahasiswa untuk lebih menghargai seni dan dapat berkesenian di komunitas ini. “Semangatnya akan sama dengan komunitas Utan Kayu untuk merawat kebebasan, tetapi kan beda sejarahnya,” kata mantan Pemimpin Redaksi Tempo itu.

Kompleks gedung Komunitas Salihara ini terdiri dari teater dengan atap terbuka, teater Black Box, galeri bundar untuk pameran lukisan, kantor, perpustakaan dan ruang serba guna untuk diskusi. Kompleks Komunitas Salihara ini digarap oleh tiga arsitek Marco Kusumawijaya, Adi Purnomo dan Isandra Matin.

Menurut arsitek Isandra Matin, teater Black Box yang tidak memakai panggung dan lebih fleksibel sesuai dengan ekspresi sang seniman dan sengaja dibangun dengan komposisi batubata tak teratur untuk meredam suara. “Kelebihan lain, posisi panggung bisa digeser sesuai kebutuhan dan didukung lighting system yang memadai serta kapasitas penonton sekitar 400 orang,” kata Isandra.

“Di Singapura ada enam jenis teater ini, di Jakarta ya baru ini,” kata kurator Komunitas Salihara Nirwan Dewanto.”Komunitas masyarakat juga dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di sini seperti ruang serba guna dan perpustakaan, tapi buku hanya bisa dibaca di tempat,” kata Nirwan.

Komunitas ini, kata Nirwan, akan menampilkan bakat-bakat baru dan menampilkan karya seniman terkenal tapi dari aspek lain yang belum ditampilkan. “Kami tidak antipasar, kami akan sesuaikan dengan selera pasar dengan menjaga kreativitas. Selain itu sebagai komunitas baru dengan orang-orang lama, kami akan bangun kerja sama dengan komunitas lain ke depannya,” kata sastrawan yang tinggal di AS tersebut.

Kurator lain yang terlibat di antaranya untuk teater dan sastra Sitok Srengenge, musik dan tari Toni Prabowo, serta bidang film Hasif Amini. Pembukaan besar, menurut Toni Prabowo, akan digelar dengan pameran besar pada 17 Oktober 2008 dengan menampilkan kesenian desa komunitas Gunung, akapela Mataraman, musik jazz dari Vivi Aksan, Didik Nini Towok dan tari kontemporer.