Indonesia (Tentu) Bisa Samai Korsel

Nelson Alwi *
http://www.ambonekspres.com/

Dalam rentang waktu relatif singkat, Korsel (baca: Korea Selatan), negeri yang porak-poranda sehabis Perang Korea (1950-1953) itu, muncul sebagai macan Asia yang menakjubkan.

Sekarang negara itu berada di posisi negara ke-11 terbesar di bidang perekonomian dunia. Sepuluh tahun ke depan diprediksi para pakar menembus peringkat ke-7, dengan 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun dan US$ 40.000 pendapatan per kapita.

Luar biasa. Sementara banyak negara semisal Indonesia masih terseok-seok dan terus-menerus berkutat dalam lingkar sebuah negara berkembang, Korsel berhasil melepaskan diri dari tradisi masyarakat agraris, menjelma menjadi negara modern.

Pertanyaannya adalah, apa gerangan ”resep” yang dipakai Negeri Ginseng itu sehingga begitu cepat menjadi negara dan bangsa yang sejahtera?

Koh Young Hun, Profesor di Program Studi Malay-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korsel, lewat tulisan berjudul “Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia” (2008) menengarai bahwa musuh terbesar yang harus ditaklukkan negara berkembang adalah kebodohan dan kemalasan, cikal bakal yang melahirkan kemiskinan.

Konon inilah yang disadari sepenuhnya oleh para pemimpin (di) Korsel dalam meletakkan dasar-dasar pembangunan bangsa dan, sejak awal 1970-an mereka bekerja ekstra keras mengubah sekaligus membentuk karakter rakyatnya menjadi manusia-manusia yang memiliki empat sifat utama.

Pertama “rajin”, lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu ketimbang bicara muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya. Kedua “hemat”, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi.

Ketiga “self-help”, yang dijabarkan sebagai usaha mengenal diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat di samping berupaya mengembangkan sifat mandiri serta rasa percaya diri. Keempat “kooperasi” atau kerja sama, yang bermakna mempersatukan individu dan masyarakatnya dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan rasional.

Sebagaimana dikemukakan Steven J Rosen melalui buku The Logic of International Relation (2000), dalam teori pembangunan dikenal dua aliran pendapat-yang secara prinsipal saling bertolak-belakang-menyangkut maju serta tidak kunjung majunya sebuah negara berkembang.

Aliran yang pertama memandang keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor internal. Sementara itu, yang kedua beranggapan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan disebabkan dominannya pengaruh eksternal.

Terkait ini Korsel berpendapat bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisienan sosial.

Sementara itu, aliran yang kedua disimpulkan sebagai teori yang selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayunya, kata Profesor Hun, “karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.”

Bangsa Indonesia, menurut hemat kita, cenderung menganut paham yang kedua. Sadar tidak sadar kita memang (pe)malas, manja dan sering berkilah, menyesalkan campur tangan atau eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang.

Kecuali itu, untuk melegitimasi kekuasaan (baca: membela diri dari kegagalan dan atau ketidakmampuan) para pemimpin kita pun tidak segan-segan menuding kondisi geografis, pluralisme, atau heterogenitas suku bangsa dan budaya-sebagai kendala.

Sementara itu, di sisi lain potensi yang dimiliki diabaikan alias tidak dan atau belum teroptimalkan. Sangat mungkin, sumber daya alam yang berlimpah membuat bangsa kita lupa diri.

Kelupadirian, yang juga tercermin dari mentradisinya upaya penekanan dan pembodohan, disinyalir para peneliti identik dengan pembunuhan karakter yang membuat mayoritas anak bangsa semakin kehilangan nilai-nilai serta rasa percaya diri, sehingga memandang orang (berikut produk) asing lebih berharga dari (hasil usaha) diri sendiri.

(Entah kenapa, praktik-praktik yang barangkali diwarisi dari kaum feodal atau sistem perpolitikan kolonialisme Belanda dan Jepang, sampai setelah 65 tahun lebih Indonesia merdeka, tetap berlanjut seolah tak terelakkan.

Hal ini dapat ditelusuri, umpamanya, dari sikap krusial penjajahan budaya yang diterapkan, dari dan terhadap bangsa sendiri, dari yang mayoritas ke minoritas, dari yang kuat ke yang lemah).

Justru karena itu, jika ingin makmur menyamai Korsel dan atau keluar dari kekeliruan yang mengungkung kita dalam pusaran bingkai sebuah negara-yang selalu disebut-berkembang, kita mesti bangkit. Melakukan introspeksi. Mengadakan evaluasi. Merevitalisasi dan memandang segala sesuatunya secara lebih dewasa dan terbuka.

Sekadar ”Ngomong”

Harus diakui bahwa dewasa ini kita punya kebiasaan sekadar ngomong berbual-bual, tak hendak menyelusup masuk ke jantung persoalan yang (sesungguhnya) diomongkan.

Sekian banyak ungkapan di negeri ini sudah kehilangan makna, tidak pernah diaplikasikan atau diimplementasikan secara benar dan tepat guna. Keanekaragaman (ke)budaya(an) yang tiada tepermanai nilainya kini tak ubahnya sebuah monumen kebanggaan yang cuma dielus-elus, belum dijadikan cemeti pemersatu anak bangsa atau pemicu semangat untuk kebaikan dan perbaikan ke depan.

Toh, bila dicermati keempat butir nilai yang menjiwai etos kerja bangsa Korsel sesungguhnya telah lama hidup di tengah-tengah kita. Dalam keseharian kita sangat akrab dengan ungkapan “rajin pangkal pandai” dan “hemat pangkal kaya”.

Sementara sikap self-help, kalau dikaji dan direnungkan, mengacu pada nilai religi yang tak asing lagi bagi 90 persen lebih masyarakat Indonesia: “tak akan kenal engkau Tuhanmu sebelum engkau mengenal dirimu sendiri” atau “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengusahakannya”.

Adapun konsep kerja sama atau gotong royong, jelas, merupakan produk asli budaya Indonesia yang tetap dipelihara alias dilestarikan dan, akhirnya malah diimplementasikan dalam “koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa”.

Ya, seperti halnya bangsa Korsel, kita, seyogianya kembali dan mulai dari pangkal. Mensyukuri sekaligus memesrai potensi keberagaman budaya dan kekayaan alam yang berlimpah-ruah-sebagai rahmat Tuhan Yang Maha kuasa-sembari terus-menerus membenahi dan menata faktor-faktor internal yang membuat negara ini seakan-akan berjalan di tempat atau, bahkan surut ke belakang.

25 JUNI 2011
*) Budayawan, tinggal di Padang.