Jadi Penulis Spesialis atau Penulis “Asongan”?

Adian Saputra
http://www.kompasiana.com/adiansaputra

Bulan Ramadan tahun 2000. Saya tidak ingat persis tanggalnya. Mengajak seorang kawan yang tinggal di Jakarta, kami bertandang ke kantor redaksi majalah Saksi. Majalah ini satu grup dengan majalah Ummi dan Annida. Saya mau bertemu bos besarnya: Mabruri Mei Akbari atau akrab disapa Bang Mabrur. Seingat saya sekarang ia sudah menjadi Juru Bicara alias Humas DPP PKS.

Niat saya cuma satu waktu itu, membawa naskah buku tentang panduan menulis opini. Modal saya nekat aja. Bekal klipingan sekitar 40 tulisan di harian umum Lampung Post, dan beberapa di antaranya ada resensi buku yang diterbitkan majalah Saksi. Saya pede aja meminta Bang Mabrur bisa menerbitkan buku itu. Apalagi waktu itu ia aktif di Jaringan Media Profetik yang salah satu programnya penerbitan buku. Sayang, keinginan saya belum terkabul. Namun, ihwal yang akan saya tulis bukan di situ. Saat Bang Mabrur melihat klipingan tulisan saya, ia geleng-geleng. Ia berkata, “Wah, semua isu kamu tulis ya? Ada politik, ini ekonomi, ada agama. Soal perempuan dan anak juga ditulis. Saya sarankan Adian menjadi penulis spesialis aja, jangan kayak asongan, semua dijajakan atau semua ditulis.”

Buat saya yang waktu itu penulis pemula, belum seberapa cerdas mencerna apa yang dimaksud Bang Mabrur. Tapi lambat laun saya mulai paham.

Kalau mau menjadi penulis yang besar, hebat, andal, dan diakui kapasitasnya, jadilah penulis yang spesialis. Misalnya fokus pada tema politik, sosial-budaya, sastra, ekonomi, sosiologi, kriminologi, teknologi informasi, hukum, dan sebagainya. Itu pun masih umum. Masih bisa dikategorikan secara lebih sempit, misalnya ekonomi makro, ekonomi mikro, perbankan, anggaran, korupsi, politik pencitraan, ilmu pemerintahan, antropologi, budaya dan adat setempat, dan sebagainya.

Menulis spesialis memang banyak keuntungannya. Misalnya, kalau ada isu tertentu dan media massa butuh artikel, mereka sudah tahu penulis mana yang akan diminta menulis. Lihatlah koran-koran nasional, mereka sangat selektif menentukan opini atau artikel yang hendak diturunkan. Soal-soal agama mereka punya Syafii Maarif, Komaruddin Hidayat; ihwal kriminologi ada Adrianus Meliala atau Erlangga Masdiana; ilmu politik ada Bachtiar Effendy, Eep Saefulloh Fatah, Indria Samego. Belum lagi nama-nama beken semacam Ariel Heryanto, Ignas Kleden, dan sebagainya.

Akan tetapi, kalau disimak dari latar belakang akademis dan keahlian penulis-penulis di atas, mereka punya latar yang kuat untuk menjadi spesialis. Kalau boleh menyebutkan, mereka sudah menjadi ahli dahulu baru kemudian menjadi penulis. Maksudnya, mereka menjadi spesialis lantaran basis akademis dan aktivitas keseharian mendukung tema-tema tertentu dalam artikelnya. Aktivis ICW pasti fokus pada isu pemberantasan korupsi dalam setiap artikelnya, yang boleh jadi keterampilan menulis mereka tidak terlalu bagus.

Sebaliknya, ada orang yang bagus menulisnya, tapi belum bisa menemukan spesialisasinya. Komparasinya ialah banyak dokter umum yang punya pasien fanatik, ketimbang datang ke dokter spesialis yang harganya mahal dan alatnya lengkap. Setiap hari banyak juga yang ke dokter umum, ketimbang ke dokter spesialis.

Perbandingan ini tidak akurat, sekadar penggambaran, meskipun konteksnya beda. Meski demikian, penulis spesialis memang lebih punya “harga” dibandingkan dengan penulis generalis. Misalnya, seorang dosen yang memahami dengan baik persoalan ekonomi, pasti akan menjadi narasumber setiap seminar tentang hal itu. Ada kalanya juga ia diminta menjadi staf ahli pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan di sektor ekonomi. Demikian pula seorang penulis yang spesialis di bidang pertanian, bisa mendapat tawaran untuk bekerja sebagai tenaga ahli pada beberapa perusahaan atau pemerintahan. Intinya ialah, penulis yang memiliki spesialisasi peluangnya untuk maju lebih terbuka.

Coba kita bandingkan dengan penulis yang belum memiliki spesialisasi, tentu publik belum bisa memetakan yang bersangkutan itu andal di bidang apa.

Namun, kita tak perlu berkecil hati andai sampai sekarang kita belum bisa menentukan basis keilmuan apa yang paling kita kuasai. Cara paling mudah ialah, lihat apa basis keilmuan kita atau pekerjaan utama kita sekarang. Kalau kita seorang sarjana pertanian tapi bekerja di bank, saran saya ambillah spesifikasi di perbankan karena itu adalah keseharian yang dikerjakan. Kuasai tema-tema soal perbankan. Jadi, jika ada isu soal bank, misalnya bobolnya Citibank, kita bisa menulis soal itu berdasar pengalaman selama ini bekerja di bank. Kalau ada isu perbankan kita cepat menulisnya, lambat laun publik akan mengenal kita sebagai penulis yang memahami secara baik isu perbankan.
***

Menjadi penulis yang memahami secara baik semua persoalan juga tidak ada salahnya. Di blog kita bisa menulis apa saja. Di Kompasiana ini pun kalau diperhatikan, semua Kompasianer acap menulis semua tema yang sedang hangat dibicarakan. Sebagai sebuah bentuk pembelajaran, itu tentu sangat baik. Namun, untuk konsumsi media massa, koran misalnya, akan lebih baik kalau kita mengambil satu tema tertentu supaya redaktur opini media itu bisa mengenali kita sebagai penulis yang punya basis ilmu yang khas. Jadi, saat ada isu yang sedang hangat, misal soal teroris, redaktur opini sudah memiliki stok penulis yang ia minta untuk membikin artikel soal itu. Demikian pula saat APBD ada yang tidak beres, ia tinggal mengontak penulis yang spesialis di bidang itu untuk mengirim artikelnya.

Menjadi penulis spesialis bisa diawali dengan menulis generalis. Seiring waktu, kita akan menemukan di mana potensi terbesar kita dalam menulis; di mana isu yang paling kuat untuk kita tulis.

Namun, andai kita juga belum mampu menjadi seorang spesialis, mungkin sudah qadar kita untuk demikian. Lagi pula, masih mending menulis beragam tema ketimbang tak menulis sama sekali. Masih lumayan ada yang dijual meski diasong daripada tak menjual sama sekali. Namun, supaya lebih punya kompetensi, kita berupaya untuk memiliki spesialisasi tertentu. Wallahualam.

20 May 2011