Kepenyairan: Sewindu Kepergian Linus Suryadi di Yogyakarta

Agni Rahadyanti
Kompas, 01 Agu 2007

PARA sahabat, keluarga, kelompok seniman, dan masyarakat umum memperingati sewindu meninggalnya penyair Linus Suryadi AG di Pendopo Karta Pustaka, Yogyakarta, Senin (30/7) malam. Selain membaca puisi karya-karya almarhum, mereka yang hadir juga saling berbagi pengalaman kebersamaan dengan Linus.

Sejumlah budayawan dan seniman yang hadir, seperti Bakdi Soemanto, Iman Budi Santosa, Suminto A Sayuti, Landung Rusyanto Simatupang, Jenifer Lindsay, dan Dorothea Rosa Herliany, berbaur bersama masyarakat umum dalam suasana penuh kekeluargaan.

Beberapa sajak Linus, seperti Borobudur, Syair Orang Hilang, dan Para Penayub, dibaca bergantian oleh para seniman. Karya-karya lainnya dalam kumpulan puisi Langit Kelabu juga turut dibacakan. Sambil menikmati menu-menu favorit Linus, seperti jadah bakar dan wedang rondhe, mereka yang hadir juga mengapresiasi karya-karya Linus dalam musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Untung Basuki dan Lono Lastoro Simatupang.

Selain mengenang karya dan kedekatan penyair kelahiran Kadisobo, Sleman, yang meninggal 30 Juli 1999 itu, kegiatan ini juga diselenggarakan untuk memberikan sumbangsih bagi perkembangan dunia sastra di Tanah Air.

“Linus Suryadi adalah sosok penyair yang sangat istimewa. Ia tak hanya dikenal di Yogyakarta, tetapi juga sudah menjadi milik dunia. Prosa lirik Pengakuan Pariyem yang merupakan masterpiece Linus, misalnya, sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing,” kata Landung.

Ia menambahkan, sangat ironis ketika masyarakat lokal terlambat mengapresiasi karya-karya Linus. “Melalui acara ini, kami berharap agar masyarakat tak cepat melupakan karya-karya Linus dan jasa-jasanya bagi sastra Indonesia,” ungkapnya.

Salah satu jasa Linus yang banyak dikenang para sahabat adalah totalitasnya dalam mengenalkan sastra kepada anak-anak muda. “Linus sangat gigih memperkenalkan puisi kepada anak-anak SMA. Dia tak pernah lelah menyelenggarakan berbagai lomba menulis puisi untuk siswa-siswa sekolah. Ketika menjadi juri, ia sangat teliti dan bekerja tanpa mengenal waktu,” ungkap Direktris Karta Pustaka Anggi Minarni yang mengenal Linus sejak tahun 1991.

Meski kemajuan teknologi saat ini mempermudah akses anak-anak muda untuk mengekspresikan diri lewat puisi, Anggi melihat belum ada sosok yang mampu menggantikan Linus dalam mendorong anak- anak muda membuat puisi yang sarat makna.

Sahabat Linus yang juga Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Suminto A Sayuti mengungkapkan, para seniman saat ini dapat menghidupkan kembali semangat Linus, berteman dengan semua pihak tanpa terjebak dalam eksklusivitas. Linus dikenal sebagai pribadi yang banyak berperan dalam memperkenalkan sahabat-sahabatnya dengan tokoh-tokoh yang sudah lebih dahulu dikenalnya. Ia menjadi simpul bagi ikatan persaudaraan di antara para seniman. “Semangat inilah yang perlu terus kita gali, bagaimana pertemuan antarseniman tak sekadar pertemuan, tetapi pergaulan pun menjadi media untuk menjaga karya dan kehidupan masing- masing,” kata Suminto.

Semasa hidupnya, Linus dikenal sebagai pribadi yang ramah dan tulus dalam berteman. Sampai akhir hayatnya, tiga fragmen epos Ramayana yang masing-masing berjudul Dewi Anjani di Sendang Grastina, Dewi Anjani di Pinggir Telaga Madirda, dan Sugriwa di Padepokan Grastina belum terselesaikan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/08/kepenyairan-sewindu-kepergian-linus.html