Kura-Kura Kritikus dalam Perahu?

Binhad Nurrohmat*
Media Indonesia, 12 Agu 2007

SAYA dan Taufiq Ismail adalah dua penyair yang memiliki pandangan dan sikap yang berbeda mengenai tubuh dan seksualitas dalam karya-karya sastra pengarang mutakhir kita. Taufiq gencar menistanya dan saya menolak penistaannya dan menghendaki apresiasi yang proporsional-signifikan.

Saya memandang tubuh dan seksualitas dalam kesusastraan kita sebagai kewajaran dan malah memperkaya jamahan tema kesusastraan kita. Dalam kesusastraan, urusan tubuh dan seksualitas bisa sejajar dengan urusan Tuhan, trem yang berklenengan, politik, binatang, agama, maupun gairah asmara. Rendra, Motinggo Busye, Dorothea Rosa Herliany, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, Ahmad Tohari, Goenawan Mohamad, Acep Zamzam Noor, Linus Suryadi AG, dan Wing Kardjo juga menggarap urusan tubuh dan seksualitas dalam karya sastra mereka.

Demikian juga dalam karya sastra tradisional, Babad Tanah Jawa misalnya, ada cerita mengenai Syaikh Maulana Maghribi yang bertafakur di atas pohon rimbun. Karena tak tahu ada sang Syaikh, Dewi Rasawulan melepas semua pakaiannya dan mandi di telaga di bawah pohon itu. Sang Syaikh tergiur melihat sang Dewi dan ingin menidurinya. Seusai mandi, sang Dewi melihat bayangan sang Syaikh tampan itu di permukaan telaga dan sang Dewi juga merasa menidurinya. Sepulang dari telaga sang Dewi bunting. Karena merasa dipermalukan, ia mendatangi sang Syaikh. Sang Syaikh turun dari atas pohon dan mencabut kemaluannya dan menjelma tombak sakti braja sangkuh.

Namun, bila urusan tubuh dan seksualitas dalam karya-karya sastra mutakhir kita maupun masa sebelumnya, menurut Taufiq, ‘bermasalah’, sebaiknya Taufiq menempuh cara yang senonoh dan bukan menistanya dengan jargon-jargon yang dipropagandakan ke publik dengan memanfaatkan pengaruhnya sebagai tokoh papan atas. Memang ironis, petinggi majalah sastra Horison itu tak melakukan apresiasi yang proporsional-signifikan dan selalu semena-mena menghakimi serta memerangi karya-karya sastra mutakhir kita yang menyoal urusan tubuh dan seksualitas.

Taufiq mengobarkan propaganda ke publik luas tentang adanya karya-karya sastra mutakhir kita yang didakwanya sebagai komponen Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mahzab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Saya menampik propaganda Taufiq itu melalui pendapat saya yang juga saya siarkan ke publik. Saya menyatakan GSM, SMS, dan FAK itu sebenarnya tak ada dan jargon-jargon itu adalah karangan orisinal Taufiq belaka. Saya menyikapi ‘apa’ yang dipropagandakan Taufiq dan bukan ‘siapa’ yang mempropagandakannya. Bila jargon-jargon itu dipropagandakan Madonna, saya pun bakal menolaknya.

Namun, Maman S Mahayana di Media Indonesia (5/8) gegabah menganggapi pendapat saya mengenai propaganda Taufiq itu menggiring perkara seks sebagai wilayah publik menjadi urusan individu. Maman (yang kerap dijuluki kritikus itu) memang bisa bicara apa saja. Tapi ketahuilah, anggapan itu murni anggapan subjektif Maman belaka untuk mereduksi substansi pendapat saya mengenai propaganda Taufiq itu. Sadarilah, substansi pendapat saya adalah menolak ‘propaganda’ Taufiq yang menista karya sastra dan melabelinya dengan julukan GSM, SMS, dan FAK. Hanya dasar objektiflah yang saya pakai untuk menghadapi propaganda Taufiq itu dan membuang semua alasan individual-subjektif ke laut.

***

Mestinya karya dijawab dengan karya, bukan dengan penampakan perangai eksibionis-narsistis. Maman pun menyatakan demikian dalam tulisannya itu. Selain itu, menurut saya, mengapresiasi karya tak perlu dengan menggalang massa, menebarkan jargon nista, atau menghunuskan tuduhan subjektif.

Namun saya terpaksa menahan rasa prihatin teramat dalam karena dalam apresiasi maupun polemik masih saja terselenggara kekhilafan yang tak senonoh lantaran turut pula memerkarakan sebuah pendapat dalam polemik berdasarkan usia si penyampai pendapat maupun menghunuskan tuduhan apriori yang individual-subjektif terhadap si penyampai pendapat, contohnya tulisan Maman itu. Bahkan, Maman juga membawa asumsi urusan perut dan popularitas untuk menanggapi pendapat saya mengenai propaganda Taufiq itu.

Betapa rasa prihatin saya kian dalam terasa lantaran tulisan Maman itu penuh simpati mengapresiasi propaganda Taufiq dan mereduksi pendapat saya karena saya dianggapnya mualaf dan belia. Apakah karena Taufiq sudah tua membuat Maman gentar menghadapinya dan memilih ? Atau cari aman dengan mengapresiasi propaganda Taufiq itu penuh simpati? Ah, kura-kura kritikus dalam perahu.

Fakta membuktikan karya sastra mutakhir begitu banyak di depan mata dan menunggu apresiasi yang proporsional-signifikan dan mestinya kritikus menyambutnya tanpa cara pandang ruwet maupun tuduhan individual-subjektif. Fakta pun memberitahukannya melalui koran, sarasehan, dan forum pidato (kebudayaan) Akademi Jakarta, Taufiq mempropagandakan slogan GSM, SMS, dan FAK untuk menista karya dan mengubur apresiasi yang proporsional-signifikan.

Teranglah sudah, propaganda Taufiq (yang menurut Maman sebagai bentuk kepedulian atas nasib bangsa itu) telah mengajarkan teladan sempurna cara membumihanguskan apresiasi dan Maman begitu bagus meneladani melalui tulisannya itu.

* Binhad Nurrohmat, penyair.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/08/kura-kura-kritikus-dalam-perahu.html