Maaf, Supir Itu Suami Saya!

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 156, 11 Juli 2010

“Mbak, Mbak sudah siuman? Syukurlah kalau Mbak sudah siuman”, lamat-lamat Reni mendengar suara setengah cemas di sampingnya. Perempuan muda seumurny, yang kira-kira dalam taksirannya, tiga tahun lebih tua dibanding dirinya. Ia juga melihat ruang tempatnya terdampar putih semua. Sekeliling, hanya warna putih yang menyapa retina-pupil matanya.

“Ada apa ini? Saya di mana?”, Reni minta kepastian pada perempuan muda, yang dua jam lalu, dilihatnya. Perempuan yang duduk bersebelahan dengannya sejak di terminal Joyoboyo. Perempuan yang membuatnya sedikit tenang naik angkot Lyn G jurusan Lidah nomor 40. Reni masih ingat, ia sebenarnya enggan untuk naik lyn G jurusan Lidah nomor 40. Reni masih agak ngeri melihat supirnya yang item. Rambutnya berukuran satu centi. Bermodel ala kadarnya. Dan mata yang agak memerah. Reni selalu ingat ngrumpi teman-teman kosnya.

“Ren, hati-hati Ren kalau sama orang item. Sudah jelek! Biasanya perangainya tak baik”, ujar Santul sutu sore.

Waktu itu Reni juga ingat dengan para pemain sepak bola Afrika: Samuel Eto’o, Drogba, dan lainnya, yang menurutnya walaau hebat cetak gol, tapi tetaaap kasar dan suka marah. “Ya Tul. Matanya supir itu lirak-lirik. Aku jadi ngeri. Deg-degan. Cuma berduaan lagi waktu itu”

Hana yang baru datang dari luar, juga ikut nyambung. “Ohw… supir Lyn G jurusan Lidah nomor 40 toh?”, tanpa menunggu respon dari teman-temannya, Hana menyerocos, “Oalah, ya Ren hati-hati aja kamu. Dia supir paling jelek yang pernah saya lihat lho. Makanya bawa motor ja kamu”
“Hahahahah” semuanya tertawa.

Mengingat ngrumpinya dengan teman-temannya tentang supir item itu, Reni merinding. Reni selalu menghindari angkot Lyn G jurusan Lidah nomor 40 itu. Bahkan, demi menghindari angkot nomor 40 itu, demi tidak bertemu dengan supir paling item itu, Reni kadang rela menunggu setengah jam lebih untuk nomor antrian angkot berikutnya.

Tapi hari ini, Reni terpaksa naik angkot Lyn G jurusan Lidah nomor 40 karena terpaksa. Waktu itu, hari sudah menjejak senja. Seperti nenek yang sudah menginjak usia senja, Reni membayangkan kerentanan nasib. Reni membayangkan yang bukan-bukan. Apalagi gerimis seolah ingin mempercepat kelam. Reni tanpa panjang lebar pun, terpaksa naik Lyn G jurusan Lidah nomor 40.

“Mbak juga jurusan Lidah?”, tanya Reni waktu itu basa-basi pada perempuan satu-satunya dalam angkot itu. Bahkan penumpang satu-satunya yang bersamanya.

“Tidak. Saya Menganti. Bentar lagi berangkat kok”
“Mbak tidak ikut Lyn M. yang warna cokelat?” Reni memastikan bahwa teman barunya itu tidak salah naik.

Perempuan itu hanya tersenyum. Ia mendekap lebih erat bayi yang bergelantungan di lengannya. Reni bersyukur. Angin semakin menusuk sumsum. Dan gerimis semakin menghapus sisa cahaya matahari yang setengah angslup mungkin. Dan angkot pun melaju.
Dan supirnya, supir item itu…
***

“Saya kenapa Mbak? Saya di mana?” kembali Reni mengulang pertanyaannya. Perempuan muda dengan seorang bayi itu hanya tersenyum. Senyum yang dua jam lalu membuatnya bersyukur. Membuatnya tenang.

“Mbak pingsan. Tiba-tiba pingsan tadi” perempuan muda itu bercerita. Setelah angkot melaju, dan melintasi rolak, angin dan gerimis semakin bersekutu-ria. Dingin tidak hanya menusuk. Cuaca yang lembab pun, benar-benar hendak membekukan kulit. Waktu itu, Reni, kata perempuan muda itu, batuk-batuk. Reni seperti merasa ketakutan. Reni seolah selalu menghindar setiap pak supir menoleh ke belakang. Sampai-sampai Reni memilih mojok untuk menghindari kontak langsung dengan pak supir.

“Tiba-tiba Mbak pingsan. Untung di dekat Rumah Sakit Tali Asih”, dengan suara lemah perempuan muda itu bercerita. Wajahnya polos. Senyumnya yang sesekali mengembang di sela ceritanya, mengesankan perempuan muda itu cantik dan anggun. Rasa kagum Reni semakin bertambah, saat ia membayangkan kalau perempuan muda ini yang menolongnya.

“Nama Mbak siapa?” Reni berusaha menghilangkan kikuk. Ia bimbang.
“Seraddhin. Orang-orang biasa panggil saya Raddhin”
“Saya Reni. Terima kasih Mbak telah menolong saya”

Perempuan muda itu tersenyum. “Bukan saya yang menolong Mbak. Saya hanya menunggui Mbak. Orang yang menolong Mbak orang itu”, perempuan muda itu menunjuk ke sosok yang bersandar lesuh di ruang tunggu. Dari celah kaca pintu kamar, Reni melihat sosok item yang memejamkan mata. Mulutnya menganga. Garis-garis wajahnya mengingatkan Reni pada pemain sepakbola Afrika: Samuel Eto’o.

“Maksudnya, Mbak?” setengah kaget Reni kembali meminta kepastian cerita perempuan yang untuk kesekian kali berusaha menenangkan bayinya.

“Kenapa Mbak? Emangnya ada apa?”, perempuan muda itu kembali bercerita. Pak supir itulah yang membopong Reni dari angkotnya ke kamar UGD ini. “Pak supir itu pula, yang menghubungi nomor keluarga atau teman Mbak tadi.”

“Ssssst. Mbak”, Reni menyilangkan tegak-lurus telunjukknya di depan mulutnya. “Saya pingsan karena alergi dengan pak supir itu Mbak. Saya takut dengan kulitnya yang item. Entahlah Mbak, saya juga tak mengerti kenapa mesti takut”

Perempuan muda itu hanya tersenyum. Ia membetulkan letak bayinya yang sudah terlihat pulas.

“Menurut teman-teman saya, orang item seperti pak supir itu sering jahat. Bahkan, kalau penumpangnyaa sendirian, bisanya orang item itu ngajak temannya tuk malak. Saya sebenarnya tidak mau naik angkot ini. Untung ada Mbak”, Reni seperti ingin menepis rasa ngerinya dengan menumpahkan segala uneg-unegnya.

Perempuan muda yang dari rautnya sudah tampak lelah menunggui Reni, hanya tersenyum. Senyum yang dua jam lalu membuat Reni tenang.

“Yang menanggung biaya perawatan ini siapa?”, rasa khawatir seolah menjalari sekujur tubuh Reni. Suaranya tampak bergetar.

“Saya Mbak. Tapi hanya sebagian”, kembali senyum perempuan itu mengembang.

“Syukurlah”, seperti terlepas dari bayang-bayang yang menghantui, Reni mengusap wajahnya. Ia tersenyum menatap perempuan muda yang kini berdiri mendiamkan bayinya yang mungkin tergagnggu dengan celoteh Reni.
Perempuan muda itu balas tersenyum.
***

“Ren, kamu kenapa Ren?”, jam sudah menunjuk pukul pukul 20:46, ketika teman-teman Reni muncul dari balik pintu. Hana, Santul dan Aida mengambil posisi di samping tempat tidur Reni.

“Tidak apa-apa kok! Hanya kelelahan”, Reni bangun membetulkan bajunya yang kusut. Reni lalu bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Tidak lupa, dengan setengah ngeri dan jijik, Reni juga menceritakan kalau yang membopong dirinya ke kamar UGD ini adalah pak supir yang tidur duduk dengan pulas di ruang tunggu.

“Kamu ditolong Mester item itu?” Santul melongok keluar kamar. “Ich, nggak ngeri kamu Ren?”

“Tapi tenang kok Tul. Yang jaga dan bayarin biaya perawatanku, Mbak Raddhin ini”, setengah berusaha tenang, Reni menunjuk Mbak Raddhin. Mbak Raddhin hanya tersenyum menanggapi tatapan teman-teman Reni.

“Mbak, berapa biaya perawatan teman kami Mbak?” Hana buru-buru mengalihkan perhatian.
Raddhin hanya tersenyum. Senyum yang membuat mereka tenang. “Ohw… hanya biaya administrasi. Obatnya belum Mbak beli, maaf ya?!” Raddhin hendak bergegas. Dengan melempar senyum, sambil membetulkan letak bayinya, Raddhin pamit pada mereka. “Maaf, Mbak tidak bisa bantu lebih”.

“Mbak, biaya administrasinya berapa Mbak?” setengah memaksa, Santul menyodorkan uang lima puluhan. Tapi Raddhin hanya tersenyum. Ia menolak uang yang disodorkan Hana.. “Tidak usah. Semoga cepat sembuh”, Sejenak Raddhin memandang keluar. “Mbak pulang dulu ya?”

“Mbak pulang sendirian? Saya anter ya?”

Raddhin hanya tersenyum. Matanya mengisyaratkan ‘terima kasih’ yang tulus. Raddhin menolak tawaran mereka dengan halus. Dan mengatakan bahwa ia akan pulang bersama suaminya.

“Suami Mbak di mana?”, Reni berusaha turun dari ranjang. Dengan berpangku pada lengan Hana dan Aida, ia berusaha berjalan menghantar Raddhin.

“Itu suami saya. Tertidur pulas. Ia sangat lesuh”, sambil menjinjing tas, dan sesekali berusaha mendiamkan bayinya, Raddhin menghampiri Pak Supir yang tidur duduk dengan mulut menganga.

Sedang Reni dan teman-temannya hanya melepasnya dengan bibir kelu. Dengan cerita yang menusuk waktu: supir item itu yang menolongnya. Samuel Eto’o itu yang mencetak gol kemenangan timnya!

Lidahwetan, mar 2010
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=447871217274