Menggelintar Menuju Matahari

Ilham Q. Moehiddin

tanah dibakar api, gersang
api ditiup angin, arang
angin diburu gelombang, tumbang
gelombang ditelan tanah, garang

bulan jatuh ke bumi, diam.
(Malam Memanggang Rindu : hal 33)

Sebuah petikan sajak dari buku Surat dari Matahari, menandai tangkapan saya pada arah kepenyairan Syaifuddin Gani. Membaca 66 sajak Penyair Syaif—demikian dia dikenal—seolah kita dihubungkan dengan titik-titik animatif yang merangkum semua perjalanan hidup kemanusiaan, yang dimanifestasikannya secara kontemplatif pada dirinya.

Kita tidak hanya disodori kemurungan, kegembiraan, keseimbangannya, kritikannya, bahkan kesaksiaannya yang dirangkum sedemikian indah lewat kata-kata maknawi pada satu buhul simpulan saja: kerinduan.

Ya, Penyair Syaif memang rindu. Kita akan dibawanya pada perjalanan yang penuh juang seorang anak manusia. Dari berbagai tempat, sang penyair melukiskan pada kita geliat peradaban di Wondulako, melintasi Konawe, hingga menjaring kabut di gang-gang panjang Sleman-Yogyakarta, kembali melebur di benteng Keraton Butuni, dan ke tempat-tempat berikutnya, menggelintar dari kota ke kota lainnya. Dia memotret keengganan, kegamangan, dan lanskap alam yang berlapis, demi untuk mengantar kita pada kerinduan.

airmata langit/ dan gerimis yang jatuh bersuara parau/ mengguyur serambi ini/ yang tinggal batu-batu/ dan sebiji peluru// pabila malam pulang/ hanya udara yang datang sempoyongan/ bercerita tentang sepucuk surat dari matahari/ yang berlabuh di meulaboh//

Pada sajak Surat dari Matahari (hal 36) di atas, yang terpilih sebagai tajuk buku ini, sejujurnya, sajak-sajak penyair Syaif hendak menabalkan premis tunggal bahwa girah kemanusiaan itu demikian ringan. Hidup yang singkat, sukar didominasi kepura-puraan. Bahkan terlalu singkat, sehingga sebuah perjalanan hidup dengan mudahnya berakhir di sebuah ‘dermaga’. Penyair Syaif secara luar biasa berhasil mengeksplorasi lapisan dimensi keinginan manusia, menggalinya dalam-dalam dengan beliung kata—yang tak sekadar indah, dan mengalirkannya ke wilayah personal manusia.

Manusia yang tualang tergambar begitu akrab dan murung dalam 66 sajak dalam buku ini.

“Kesaksian Syaifuddin Gani dapatlah diangkat sebagai kemurungan sosial-kemanusiaan. Kemurungan yang menggeliat pada manusia kini, dan secara cerdas dan bernas ditangkap sang penyair.” Demikian konklusi yang digambarkan sastrawan dan penyair Agus R. Sarjono, dalam bedah buku ini beberapa waktu lalu.

Buku Surat dari Matahari, rupanya sedikit-banyak, dapat menjawab pertanyaan perihal apa di balik realitas hidup manusia kini; sebagaimana sepucuk surat yang dilabuhkannya menuju matahari.

Judul: SURAT DARI MATAHARI Sebuah Antologi Sajak
©Karya: Syaifuddin Gani
Hak cipta dilindungi undang-undang. All right reserved.
Desain Sampul: T. Ramadhan Bouqie
Visual Isi: Tim KomodoBooks
Cetakan ke-1, April 2011 100 hlm. 14 x 20,5 cm
ISBN 978-602-95983-4-6

*) Resenser adalah penggagas Perhimpunan The Indonesian Freedom Writers, dan aktif menulis di berbagai media. Penulis Kitab & Tafsir Perawan Nemesis (2000), Unabomber: Gadis Kecil di Elliot House (2002), dan Kabin 21 (2003). Kini bermukim Kendari (Sulra).
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/07/menggelintar-menuju-matahari/