Kultur Literasi Mahasiswa

Dewi Wulansari *
http://suaramerdeka.com/

UPAYA meningkatkan mutu pendidikan saat ini terus digalakkan. Namun sering terjadi kontradiksi antara harapan dan kenyataan. Kemajuan teknologi dan modernisasi semestinya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi ternyata mutu pendidikan malah turun. Kualitas pendidikan di negeri ini belakangan jauh tertinggal dari negara-negara tetangga. Continue reading “Kultur Literasi Mahasiswa”

Jadi Penulis Spesialis atau Penulis “Asongan”?

Adian Saputra
http://www.kompasiana.com/adiansaputra

Bulan Ramadan tahun 2000. Saya tidak ingat persis tanggalnya. Mengajak seorang kawan yang tinggal di Jakarta, kami bertandang ke kantor redaksi majalah Saksi. Majalah ini satu grup dengan majalah Ummi dan Annida. Saya mau bertemu bos besarnya: Mabruri Mei Akbari atau akrab disapa Bang Mabrur. Seingat saya sekarang ia sudah menjadi Juru Bicara alias Humas DPP PKS. Continue reading “Jadi Penulis Spesialis atau Penulis “Asongan”?”

Tangga Spiral Nona Armstrong

The Spiral Staircase My Climb out of Darkness
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Alfred A. Knopf, New York, 2004
Tebal: 336 halaman
Peresensi: Ihsan Ali-Fauzi *
http://majalah.tempointeraktif.com/

Karen Armstrong dikenal sebagai penulis buku agama yang hampir semuanya menjadi buku terlaris. Ia mendekati subyeknya dengan simpatik dan menuliskannya secara segar dan mudah dicerna. Continue reading “Tangga Spiral Nona Armstrong”

Biografi singkat Ignas Kleden

Nama: Ignatius Nasu Kleden
Lahir:Larantuka, Flores Timur, 19 Mei 1948
Agama: Katolik
Pendidikan:-Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores,1972.
– Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (MA Filsafat), 1981.
– Universitas Bielefeld (doktor sosiologi), Jerman, 1995 Karir:- Penerjemah buku-buku teologi pada penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Continue reading “Biografi singkat Ignas Kleden”

Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

Ignas Kleden *
majalah.tempointeraktif.com

TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok. Continue reading “Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis”

Bahasa »