Buyung dan Upik

Asarpin

Ada sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang tak sempat diberi nama. Bahkan hingga dewasa kedua anak itu tak sempat punya nama. Orang tuanya merasa tak pernah memberi nama. Tapi karena setiap manusia mesti dipanggil dengan sebuah nama, maka keduanya dipanggil Buyung dan Upik. Sebuatan Buyung dan Upik tidak hanya terdapat dalam masyarakat Minang. Orang Lampung juga menggunakan sebuatan itu, hanya saja kalau dia perempuan disebut Opek dan laki-laki sama, disebut Buyung. Continue reading “Buyung dan Upik”

BOM MANUSIA BERSUARA TETES EMBUN

Wawan Eko Yulianto *

Bahan-bahan pokok: 1 orang lelaki/suami/pemuda yang baru menikah 1 orang istri yang sedang hamil muda Bahan-bahan bumbu: 1 momen khusus yang mewajibkan seseorang jalan-jalan mengunjungi teman (disarankan Idul Fitri) 1 unit sepeda motor Jalanan kota di Indonesia (yang terlihat mulus padahal bergelombang dan banyak bekas galian) Bahan-bahan pemoles dan pemanggangan: 1 orang dokter spesialis obstetri ginekologi (disarankan lokal dan menguasai bahasa lokal) 1 unit alat ultrasonografi (USG). Continue reading “BOM MANUSIA BERSUARA TETES EMBUN”

Nobel Sastra: Tahun Ini Giliran Doris

Anton Kurnia*
Pikiran Rakyat, 27 Okt 2007

Di negeri kita, bulan Oktober dinyatakan sebagai bulan bahasa dan sastra.

Nun di tanah Inggris, bulan ini ditandai pengumuman pemenang hadiah sastra paling terkemuka di negeri itu dan segenap bekas wilayah jajahannya, Booker Prize (sekarang namanya menjadi Man Booker Prize setelah berganti sponsor), yang tahun ini diraih pengarang Irlandia, Anne Enright, lewat novelnya The Gathering. Sementara itu, di Swedia sana bulan Oktober adalah saat pengumuman para pemenang Hadiah Nobel, termasuk di bidang sastra. Continue reading “Nobel Sastra: Tahun Ini Giliran Doris”

Fauna Bahasa

Hasif Amini
majalah.tempointeraktif.com

Bahasa Indonesia punya koleksi cukup banyak binatang yang menjadi kata umpatan atau makian: anjing, babi, badak, bangsat, buaya, kampret, monyet, sapi…. Kata binatang sendiri, setidaknya dalam beberapa pemakaiannya, memang sudah berkonotasi negatif. Istilah binatang ekonomi atau binatang politik menunjukkan pandangan betapa tak ada yang luhur pada makhluk yang disebut binatang, dan betapa mengerikan bila perangainya diamalkan di lapangan hidup manusia. Continue reading “Fauna Bahasa”

Bahasa ยป