“In Memoriam” Soedarpo Sastrosatomo

Rosihan Anwar *
Kompas, 23 Okt 2007

SELAMA dua jam, saya di sisi ranjangnya di RS Medistra, Jumat (19/10/2007). Empat tahun ini kesehatannya turun-naik, penyakit orang tua, keluar masuk rawat inap, malah berobat ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Lebaran lalu kena demam berdarah. Lelap-lelap ayam dia mengenal saya saat tiba. “He Tjian,” katanya. Dia minta saya memijit-mijit ibu jari tangan kirinya, agar bisa tidur. Lalu bangun lagi dan berbicara tentang “rakyat yang kini susah hidupnya”. Continue reading ““In Memoriam” Soedarpo Sastrosatomo”

Industri Warisan Budaya

Zacky Khairul Umam*
Media Indonesia, 25 Okt 2007

Bangsa kita sulit menjadi ‘tuan’ di rumah sendiri. Sadar atau tidak sadar, kita bukan lagi ‘pemilik’ dan ‘penentu’ nasib bangsa ke depan jika rasa handarbeni atau kepemilikan atas sumber daya alam dan kultur hilang perlahan-lahan. Rasanya, saking kayanya potensi segala sumber daya di negeri ini, segalanya dibiarkan begitu saja hingga tidak ada kepekaan untuk merasa kehilangan. Padahal, setelah kecolongan sumber daya dalam negeri, kita baru geger dan kehilangan. Continue reading “Industri Warisan Budaya”

Mari Berbahasa dengan Baik

S Sahala Tua Saragih*
Suara Pembaruan, 25 Okt2007

“Kami Poetra dan Poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Andaikata tokoh-tokoh pencetus tiga ikrar dalam Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928) kini hidup kembali mungkin mereka menangis, sedih sekali, karena perilaku berbahasa Indonesia sebagian (?) orang di negeri ini. Betapa tak sangat sedih, mereka menyaksikan orang-orang Indonesia sekarang, dari kalangan tertinggi hingga terendah, yang tidak menjunjung tinggi bahasa nasional kita sendiri. Continue reading “Mari Berbahasa dengan Baik”

Doris Lessing: Dari Persia Sampai Swedia

Anton Kurnia
Pikiran Rakyat, 27 Okt 2007

Jalan hidup Doris Lessing terbentang berliku antara Kermanshah dan Stockholm, dari Persia sampai Swedia.

Perempuan panjang umur ini dilahirkan 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Persia (kini disebut Iran), sebagai Doris May Tayler. Nama belakang Lessing berasal dari nama keluarga suami keduanya yang hingga kini terus disandangnya. Continue reading “Doris Lessing: Dari Persia Sampai Swedia”

Bahasa ยป