Prosa

Hasif Amini
Kompas, 6 Juni 2010

Puisi dan prosa sering dianggap sebagai sepasang ”lawan kata”. Bahkan, tak hanya itu, puisi dianggap lebih tinggi dari prosa. Yang ”puitis” umumnya berkonotasi positif, sedangkan yang ”prosaik” sebaliknya. Mengapa bisa demikian? Dan betulkah puisi dan prosa adalah sepasang ”lawan kata”? Continue reading “Prosa”

Realisme Cerita Pendek

Asarpin *

Koran, tempat lahirnya banyak cerita pendek di negeri ini, tampaknya tak ragu-ragu memuat cerita pendek dengan narasi yang memang pendek. Jika awalnya banyak menuai kritik, lantaran berbaur dengan realisme berita koran yang cepat dan jelas–seperti kritikan yang muncul dengan sebutan ‘sastra koran’ yang sinis beberapa tahun terakhir. Cerpen koran bagaimana pun telah menyita energi sebagian pemerhati sastra di tanah air. Ia sering dihakimi sebagai cerita yang melulu tunduk pada realisme berita. Continue reading “Realisme Cerita Pendek”

Kritik dan Emansipasi: Kontribusi bagi Pendasaran Epistemologi Politik Kiri

Sebuah Kritik Umum atas Goenawan Mohamad

Martin Suryajaya *

EMANSIPASI  telah lama dikaitkan dengan sikap kritis. Tapi apa itu emansipasi dan apa itu sikap kritis? Apa artinya emansipasi bila ia berarti pembebasan individu dari totalitas kolektif dan apa artinya sikap kritis jika itu berarti sikap berjarak terhadap daya kritis untuk melakukan perombakan total? Selama emansipasi dan sikap kritis masih dipahami dalam kerangka ini, maka kita sebetulnya berbicara tentang kebalikannya: pembelengguan dan dogmatisme. Kedua hal inilah yang kita jumpai dalam tulisan-tulisan Goenawan Mohamad. Keseluruhan karyanya merupakan testamen yang mengisahkan secara diam-diam bahwa esensi dari emansipasi dan kritik adalah pembelengguan dan dogmatisme. Continue reading “Kritik dan Emansipasi: Kontribusi bagi Pendasaran Epistemologi Politik Kiri”

KOREKSI UNTUK SAUT SITUMORANG

Mohamad Guntur Romli
kesusastraan.wordpress.com, 19 Okt 2007

Makalah Saut Situmorang, “Politik Kanonisasi Sastra”, yang ditulisnya untuk Kongres Cerpen V di Banjarmasin, menjelang akhir Oktober 2007 ini, membidik sebuah sasaran utama: TUK. Bagi Saut, TUK adalah biang keladi “politik kanonisasi sastra” yang tidak sehat yang berlangsung sekarang. Tetapi Saut tak mengerti apa sebenarnya TUK. Dia mengatakan, TUK adalah sebuah “kelompok teater”. Katanya pula: inilah “kelompok Teater yang tidak pernah mementaskan produksi teater”. Continue reading “KOREKSI UNTUK SAUT SITUMORANG”

Bahasa »