Rainer Maria Rilke – Surat untuk Penyair Muda

Diterjemahkan: Sutardji Calzoum Bachri dari Letters To A Young Poet karya penyair Jerman Rainer Maria Rilke.

Kau tanyakan apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu. Kini, (karena kau izinkan aku menasehati kau), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan. Continue reading “Rainer Maria Rilke – Surat untuk Penyair Muda”

Haji Misbach: Muslim Komunis

Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004

Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan. Continue reading “Haji Misbach: Muslim Komunis”

WIRATMO SOEKITO: INI BUKAN MANIFES KEBUDAYAAN II

Suryansyah

[Wawancara yang dilakukan Majalah TIRAS (1 Juni 1995, Hal 45-50) dengan Wiratmo Soekito, Konseptor Manifes Kebudayaan 31 tahun lalu. Ia menentang pernyataan Mei 1995].

Telah lahir sebuah pernyataan, namanya “Pernyataan Mei”. Inilah pernyataan sikap sejumlah budayawan terhadap berbagai bentuk pelarangan dalam kemerdekaan mencipta. Diproklamasikan tanggal 8 Mei lalu bertepatan dengan 31 tahun dilarangnya Manifes Kebudayaan (Manikebu) oleh Presiden Soekarno “Pernyataan Mei” serta merta mendapat sambutan, baik pro maupun kontra. Continue reading “WIRATMO SOEKITO: INI BUKAN MANIFES KEBUDAYAAN II”

Mengapa Menerjemah Ulang?

Wawan Eko Yulianto *

(Di balik edisi ulang tahun emas The Tin Drum)

Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?

Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami sebagai penerjemah tamu. Continue reading “Mengapa Menerjemah Ulang?”

FLP Hong Kong dan Sastra Perempuan di Negeri Beton

Helvy Tiana Rosa
http://helvytr.multiply.com/

“Menulis, mencipta sastra, membuatku merasa menjadi orang yang lebih berarti,” itulah yang dikatakan Wina Karnie, Syifa Aulia dan Swastika Mahartika, tiga TKW di Hong Kong, yang meluncurkan dua buku kumpulan cerpen mereka: Perempuan di Negeri Beton (Haniya Press) dan Hong Kong Topan Badai ke 8 (Doyan Baca Publishing House), di Masjid Tsim Sha Tsui, 4 Juni 2006. Continue reading “FLP Hong Kong dan Sastra Perempuan di Negeri Beton”

Bahasa ยป