Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa

Ahmadun Yosi Herfanda *
Republika, 7 Sep 2008

MESKI bergerak ke arah perbaikan, negeri ini masih banyak menyisakan potret buram. Dan, itulah yang disorot oleh sastrawan Taufiq Ismail pada orasi sastranya dalam acara Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka di plasa Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di Planet Senen, Jumat, 29 Agustus 2008, yang lalu. Continue reading “Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa”

SENIMAN SENEN

Reiny Dwinanda
Republika, 4 Nov 2007

Jauh hari sebelum Jakarta berdenyut cepat seperti sekarang, kawasan Senen sudah menjadi pusat beragam aktivitas. Mulai dari perniagaan hingga kesenian. Ya, di sanalah tempat berkumpulnya para Seniman Senen. Dulu, saban hari Seniman Senen berseliweran di sekitar Bioskop Grand, pagar Proyek Senen, dan Gelanggang Olah Raga Senen. Continue reading “SENIMAN SENEN”

Konsumerisme dan Keterpinggiran Sastra

Edy Firmansyah
radarsby.com

Boleh jadi Emha Ainun Nadjib benar jika mengatakan sastra relatif tidak tercantum dalam daftar prioritas kebutuhan masyarakat. Shampoo, lipstik, kondom, T-Shirt, obat jerawat, conditioner, obat nyamuk jelas lebih dianggap penting dibandingkan dengan karya sastra. Artinya, sastra dikategorikan sebagai sesuatu yang boleh tidak ada sementara celana Jeans atau jam tangan tergolong harus ada. Continue reading “Konsumerisme dan Keterpinggiran Sastra”

Bahasa ยป