Pesona ’’Dua Dunia’’

Riyono Toepra
http://suaramerdeka.com/

SOSOK seniwati Diah Setyawati begitu membumi di Tegal. Letupannya kerap mencengangkan sejawatnya di dunia seni. Dia bahkan seperti tak puas bertumpu pada satu profesi belaka.

Dunia kepenyairan dan seni lukis dia geluti sekaligus. ’’Ya, saya menggeluti dua dunia yang saling berkait,’’ ujar dia.

Dua dunia yang kini ditekuni adalah kepenyairan dan melukis. Terkadang dalam balutan bahasa di tiap bait syair puisinya, merembet hingga ke goresan tangannya di kanvas. ’’Ini yang kadang sulit dipisahkan. Berpuisi dan melukis seperti telah menyatu dalam jiwa saya,’’ tutur Diah.

Dalam dunia kepenyairan, wanita yang sudah berusia 49 tahun ini begitu menjiwai dalam menulis puisi. Dedikasinya yang tinggi terbukti dengan diterbitkannya dua buah antologi puisi bertajuk Nyanyian Rindu Anak Pantai (1998) dan Tembang Jiwangga (2000).

Kedua antologi tersebut dia terbitkan atas biaya sendiri dari hasil kerjanya membuka salon kecantikan di rumahnya di Gang Sadewa, Dukuh Sabrang, Desa Pangkah, Kabupaten Tegal.

’’Menerbitkan antologi puisi ini bagai sebuah pertanggungjawaban sebagai seorang penyair,’’ papar dia. Selain itu, puisinya banyak pula menghiasi antologi puisi terbitan Taman Budaya Surakarta (TBS). Contohnya Kumpulan Puisi 32 Penyair Jawa Tengah, Jentera Terkasa , dan Persetubuhan Kata-kata. Juga terhimpun dalam antologi Juadah Pasar terbitan Dewan Kesenian Tegal.

Sajak Tegalan Sebagai penyair, Diah tergolong banyak melahirkan sajak tegalan. Terangkum di beberapa antologi tegalan terbitan Media Tegal seperti, Potret Reformasi dalam Puisi Tegalan, Penyair Angkatan Tegal Tegal, Ruwat Desa dalam Ruh Puisi Tegalan, dan Ngranggeh Katuranggan.

Namanya juga terpatri sebagai sastrawan Indonesia di sejumlah situs sastra Indonesia. ’’Rasa-rasanya dunia kepenyairan sudah menjadi suratan takdir. Saya seperti sulit berpaling,” ujar dia.

Wanita yang lahir di Tegal pada 17 Desember 1960 itu membeberkan, sebelum memilih hidup sebagai penyair, pernah mencicipi bangku kuliah di Yogyakarta. Namun jurusan yang diambil (Fakultas Ekonomi) tidak sesuai dengan kata hatinya.

Sebenarnya debut kepenyairannya dijajaki sejak duduk di bangku SMP. Namun namanya mulai berkibar sebagai sastrawan muda kala SMA. ’’Saat SMA saya sering kali ikut lomba cipta dan baca puisi di berbagai kota. Dikasih uang oleh guru untuk biaya ikut lomba,’’ terang ibu dari Rama Ade P, Dimas Bramantya K, dan Dinda Kharisma.

Belajar menulis puisi dari (alm) Piek Ardijanto Soeprijadi, penyair Angkatan 66. ’’Dulu Pak Piek itu dikenal sebagai poros sastra di Tegal. Saya sering ikut kumpul-kumpul di Gang Marpangat, tempat dia tinggal untuk belajar menulis puisi menajamkan imaji,’’ papar dia. Bahkan Piek sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Kiprah dia sebagai penyair, sangat berjasa. Beberapa even baca sajak kerap digelar. Paling baru dikerjakan pada 15 September lalu. Dia tidak tanggung-tanggung menggelar acara pembacaan puisi empat bahasa.

Bahasa Tegal, Banyumas, Solo, dan Aceh dengan mendatangkan 25 penyair dari daerah itu. Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka 40 hari meninggalnya WS Rendra, di pelataran Gedung Rakyat Balai Kesenian Kabupaten Tegal.

Sebelumnya, dia menggelar acara serupa dengan melibatkan para wanita parlemen dan para pejabat bertajuk Wanita-wanita Perkasa di Kota Tegal.

Seolah tak kenal bosan menimba hal-hal baru, Diah pun mendalami dunia seni lukis pada anak-anak Sanggar Putik 99 Slawi. Hampir tiap hari dia tekun melukis di Gedung Rakyat Balai Kesenian Kabupaten Tegal, tempat di sanggar itu bercokol.

Tak jarang di tengah malam, dia terbangun untuk melukis di kanvas. Jadilah lukisan-lukisan dengan objek lukisan yang dinilai cukup berani, menampilkan seorang perempuan. ’’Saya memang lebih banyak menonjolkan sosok perempuan dalam meluikis.’’

Sejauh ini koleksi lukisannya baru di bawah 20 buah. Kesemuanya berlatar belakang perempuan yang cantik dan menawan. Pada 30 Mei hingga 7 Juni 2009 lalu, Diah mengikuti Pameran Lukisan ’’Warna-warni’’ bersama Sanggar Putik 99 Slawi di Gedung Rakyat Balai Kesenian, Kabupaten Tegal. Dia merencanakan, untuk tahun mendatang menggelar pameran tunggal.

28 September 2009