Qiu Shui Yi

Lan Fang
Jawa Pos, 20 Feb 2011

AKU menekukkan punggung seperti panda yang malas bergerak. Angin menggasak dada. Dingin menghajar kulit. Kunaikkan retsliting jaket tipisku, agak macet. Jaketku tampak tua, pudar dan lepek. Warna birunya sudah tidak sempurna seperti tarikan retslitingku yang tersendat-sendat.

Dengan kesal, kutarik retsliting jaket sekuat-kuatnya. Seketika itu juga gigi retsliting lepas dari relnya. Aku tidak tahu apa sebabnya. Apakah aku yang terlalu kuat menariknya atau jaket yang kukenakan ini….

Tiba-tiba aku teringat kata-kata si pramuniaga toko ketika ia memajang sebuah jaket yang tampak begitu sempurna.

“Jaket ini terbuat dari kulit kualitas nomor satu. Kulitnya halus, kencang dan gemerlap. Tidak berserat, retas atau kerut. Jahitannya rapi sampai ke pelipit. Bagian sebelah dalam dilapisi wol tipis sehingga menghangatkan.”

Hm…, jaket kualitas satu…. Artinya ada jaket kualitas dua, kualitas tiga…. Lalu jaket yang kukenakan ini termasuk katagori kualitas ke berapa ya? Atau sama sekali tidak berkualitas…?

Aku sudah lupa kapan dan dimana aku mulai mengenakan jaket bulukan ini. Tetapi yang pasti jaketku bukan dari toko, plaza apalagi butik. Aku mendapatkannya dari seorang perempuan tua pedagang kaki lima—seperti diriku.

Ketika itu kami sama-sama berjualan di trotoar Zhongzhan Beilu. Perempuan tua itu bertubuh pendek, gempal dengan banyak bercak di wajahnya. Ia memakai sweater dekil yang benang-benangnya sudah banyak terlepas. Ia jarang sekali mengajakku bercakap apalagi berbasa-basi menawariku bakpao hangat. Ia hanya bertanya satu kali “siapa namamu?”

“Qiu Shui Yi,” jawabku sambil mengamati betapa giatnya ia menawari para pejalan kaki yang lewat.

Ia menjual jaket-jaket. Ada yang terbuat dari jeans, kaos, katun tipis atau kulit sintetis. Ada yang panjangnya sampai selutut, sepinggang atau cuma menggantung di dada. Model dan warnanya juga bermacam-macam. Menurutnya, jaket-jaket itu semua baru. Dijualnya dengan murah, hanya 15 RMB [1] karena ada diskon besar dari perusahaan garmen.

Bah! Dipikirnya aku bisa dibohongi dengan mudah?

Aku tahu jaket-jaket itu adalah stok lama yang sudah ketinggalan model. Itu barang yang sudah tidak laku dijual di toko. Parahnya lagi, warnanya sudah luntur dan baunya apek. Banyak calon pembeli yang mengeryitkan kening ketika membolak balik jaket yang mereka pilih. Mereka menemukan kancingnya yang lepas, lubang di lengannya, kerahnya yang sobek, dan banyak cacat ini itu sehingga mereka batal membelinya.

Ia ulet sekali merayu calon pembeli. Ia tidak hanya memuji-muji barang jualannya saja, tetapi ia juga setengah merengek sekaligus setengah memaksa. Bahkan kadang-kadang ia mengejar pembeli yang sudah menjauh. Bila kebetulan kami bertemu pandang, ia segera melengos seakan-akan aku kuman menular yang menjijikkan.

Sebagai sesama pedagang kaki lima, aku merasa lebih berkelas dibanding penjual jaket loakan itu. Sebab aku tidak menjual barang bekas. Aku menjual gantungan kunci dan gantungan handphone dengan berbagai macam bentuk yang lucu dan menggemaskan. Ada bentuk mickey mouse, pucha, amor, teddy bear, peluit, pengantin Cina, dan lainnya.

Para pembeliku kebanyakan gadis-gadis muda dengan penampilan trendi. Saat musim panas mereka lalu lalang dengan mengenakan rok mini, stoking jala laba-laba, sepatu boot pendek, tank top yang ditutupi jaket pendek penuh rantai-rantai yang bergelantungan. Ketika musim dingin mereka hilir mudik dengan memakai celana legging ketat, rok berimpel, sepatu boot setinggi lutut dan syal yang berjuntai di tengah jaket panjang. Aku berharap suatu saat aku juga bisa tampil secantik mereka.

Zhongzhan Beilu adalah sebuah jalan protokol di Quanzhou. Di sepanjang jalan ini banyak butik yang memajang pakaian pengantin. Ada pakaian pengantin ala Cina dengan model kerah Shanghai yang menutupi leher, berwarna merah dengan belahan rok samping sampai ke atas paha. Ada juga berbagai macam model baju pengantin Eropa berwarna putih gading, bahu terbuka dengan bagian bawah yang mekar bertumpuk-tumpuk. Butik itu menamai koleksi gaun pengantin untuk musim dingin kali ini The Winter Bride. Di emperan butik itulah aku meletakkan meja kecil untuk menata jualanku.

Tetapi pada suatu malam ketika lampu-lampu toko di sepanjang Zhongzhan Beilu belum dipadamkan, tiba-tiba serombongan polisi menyisir trotoar dari ujung terminal. Segerombolan pengemis dan orang-orang yang pura-pura mengemis, pemulung dan orang-orang yang pura-pura memulung, pencopet yang belum atau sedang sungguh-sungguh mencopet langsung bubar dengan menggerutu.

Biasanya mereka berkumpul dan mengorek-ngorek tong sampah mengambil sisa burger dan soft drink. Kalau ada mangkuk mie instan bekas, mereka pergunakan untuk menyeruput teh panas atau kuah mie. Kemudian mereka merokok sambil menghitung pendapatan mereka. Bila lewat tengah malam, barulah mereka mengambil plastik dan kardus untuk dipakai alas tidur.

Rupanya para polisi tidak hanya menangkapi pengemis, pencopet dan pemulung yang menjajah Zhongzhan Beilu dengan merdeka. Mereka juga mengobrak-abrik pedagang kaki lima, sudah tentu termasuk diriku. Mereka bergerak secepat angin puting beliung menggulung semua yang tercecer di trotoar. Tetapi jangan pernah ada yang meremehkan pedagang kaki lima. Kami mirip para triad yang mempunyai kemampuan mengendus kemana arah angin bertiup.

Tanpa perlu dikomando, aku segera meraup barang-barang daganganku. Tanganku sudah terlatih seperti tangan pesulap. Hanya dalam hitungan detik, gantungan-gantungan kunci dan handphone yang tidak seberapa banyak itu sudah aman berada di dalam kantung plastik kecil. Meja kecil yang kupergunakan untuk menata barang dagangan kudekap bagaikan memeluk lelakiku. Punggungku disergap dingin ketika menempel di etalase The Winter Bride.

Pada saat itu ada sesuatu melayang menutupi kepalaku. “Kau bawa dulu!” aku hanya mendengar suara perempuan tua penjual jaket itu.

Ketika aku berhasil melepaskan diri dari timpukannya barulah kusadari bahwa ia melemparkan sebuah jaket bulukan kepadaku.

“Ingat, besok kembalikan padaku!” perintahnya sambil menyelamatkan seluruh harta bendanya. Ia menarik dua kardus besar yang belum sepenuhnya tertutup dengan rapi. Banyak lengan jaket yang masih bergelantungan di bibir kardus, berjuntai seperti mengepel trotoar.

Tetapi besok, lusa dan hari-hari selanjutnya kami tidak pernah bertemu lagi. Sebab di sepanjang Zhongzhan Beilu, polisi rajin mondar mandir seperti setrika merapikan trotoar dari pengemis, pemulung, pencopet dan pedagang kaki lima. Sejak itu maka jaket bulukan ini kukenakan. Memang jaket ini tidak lebih bagus dari kain pel tetapi lumayan juga untuk menahan gempuran angin yang menabrak dada.

Lalu pindahlah aku ke jalan di sebelah Zhongzhan Beilu, yaitu: Dong Jie Lu. Sepanjang jalan ini ada toko-toko kecil, depot mie, bank, hotel, rumah teh, juga pangkalan angkatan laut. Sebuah kios pulsa, toko handphone dan rombong jagung rebus ada di tikungannya. Aku menggelar daganganku di pinggir sebuah toko pakaian besar yang menjual berbagai macam pakaian laki-laki dan perempuan. Kaca etalasenya lebar. Di sana berdirilah banyak manekin dengan pakaian-pakaian model terbaru.

Aku naksir sebuah jaket berkerah tinggi. Kerahnya terbuat dari bulu lembut bagaikan ekor musang yang meliliti leher. Aku jatuh cinta pada jaket itu pada pandangan pertama. Jaket itu tampak jinak, tidak mematikan.

Pada bagian depan ada empat kancing besar seperti jas para pajabat saat mereka disorot kamera televisi. Warnanya bukan shocking pink, atau putih suram yang mudah menampakkan kotor, juga bukan hitam gelap seperti pada saat lampu-lampu toko dipadamkan. Warna jaket itu coklat maroon, necis dan elegan. Warna yang selalu mengingatkanku pada saat-saat perpindahan musim. Aku sempat melirik bandrol harga yang ditautkan di belakang kerah. 1.250 RMB.

Sejak dipajang, banyak orang tertarik pada jaket itu. Setiap hari ada saja orang yang melihat, menyentuh, mencoba dan mematut-matut diri dengan mengenakan jaket itu. Dari emperan toko, kupandangi mereka dengan sengit dan perasaan tidak rela. Semakin kupandang, aku kian merasa jaket itu adalah milikku.

Aku bahagia sebab sudah tiga bulan tidak ada seorang pun yang membeli jaket itu. Jaket itu tetap dikenakan si manekin yang berada di balik kaca tebal. Ia berdiri dengan tubuh miring ke belakang, posisi salah satu kakinya tersilang di depan dan berselimut jaket idamanku. Ia mengulum senyum. Aku sirik sekali dengan nasib baiknya!

Kularikan pandangan kepada jalanan yang basah. Dalam hati kusumpahi langit yang sejak pagi membuat jualanku belum ada yang laku satu pun. Sampai malam begini, hujan masih terus membuat orang-orang sibuk mencari tempat berteduh daripada membeli gantungan kunci.

Tiba-tiba seorang perempuan singgah dengan terburu. Ia merapat padaku untuk ikut berteduh di bawah teras toko. Harum jagung rebus menguap dari kantong kecil yang ditentengnya. Ia menepis bulir-bulir yang belum terlalu banyak membasahinya. Bulir-bulir itu menimpaku. Betapa kurang ajarnya dia!

“Hey!” seruku. Aku sedang ingin membuat persoalan.

“Ups! Dui bu qi [2]….” jawabnya dengan logat yang aneh. Aku jadi ingin lebih memperhatikannya.

Rambutnya hitam, tidak kuning seperti surai-surai jagung. Warna kulitnya seperti sari kedelai, tidak putih juga tidak coklat. Bentuk matanya seperti kuaci. Ia mengenakan jaket katun yang dipenuhi gambar.

Gambar-gambar di jaketnya semarak, tetapi aku belum pernah melihat gambar-gambar seperti itu sebelumnya. Seperti gambar kuntum bunga persik, tetapi lebih mirip kelopak awan. Mirip kelopak awan, tetapi lebih menyerupai tanduk menjangan. Serupa tanduk menjangan, tetapi persis sekali ekor phoenix. Persis ekor phoenix tetapi bagaikan …

“Ni hao [3]?” ia tersenyum menyapaku karena merasa kuperhatikan.

“Kau bukan orang Cina ya? Kau darimana?” aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku.

“Indonesia,” sahutnya dengan langgam Mandarin yang terdengar aneh di telingaku.

“Oh, Indonesia….” seruku.

Belakangan ini, aku sering melihat berita Indonesia muncul di televisi. Ini negara yang banyak mengirim orang bekerja ke Hongkong. Dan semalam kudengar ada banjir tsunami, gempa dan gunung merapi yang meletus di sana. Lalu apakah perempuan ini sedang mengungsi ke Quanzhou? Atau ia adalah salah seorang dari perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di Hongkong? Aku menerka dalam hati.

“Iya, aku dari Indonesia,” tegasnya.

Lalu ia nyerocos seperti petasan kampung dengan bahasa Mandarin yang patah-patah. Ia berusaha keras membuatku mengerti apa yang dimaksudkannya dengan mimik wajah yang membuatku teringat pemain opera layar tancap di desaku. Ia kelihatan bersemangat walaupun penontonnya cuma aku seorang.

Diam-diam aku terus memperhatikan jaketnya yang penuh gambar itu. Menurutku, jaket manekin di dalam etalase itu jauh lebih keren. Tetapi entah kenapa jaket yang dipakainya begitu menarik perhatianku. Atau aku sedang terpesona dengan gaya bicaranya?

“Hei, apakah kau menjual gantungan kunci yang bertulis Quanzhou?” tanyanya sambil meneliti gantungan-gantungan kunci di meja kecilku.

Aku langsung bersukacita. Seharian belum ada satu pun gantungan kunci yang terjual. Kusodorkan gantungan kunci berbentuk sepasang boneka pengantin yang berciuman. “Ini bagus, murah dan lucu sekali. Cuma 10 RMB.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Ayolah, sepasang boneka pengantin ini cocok untuk gantungan kunci. Kau satu dan kekasihmu satu. Kalian adalah sepasang yang saling mengunci.” Aku meniru perempuan tua penjual jaket itu pada saat merayu calon pembeli. Aku terkejut dengan kata-kata manis yang terlontar begitu saja. Rupanya pada saat membutuhkan uang, orang bisa berbicara sangat manis.

Ia tetap menggeleng-gelengkan kepala. Tetapi kali ini gelengannya tidak sedashyat gelengannya yang pertama.

“Bagaimana kalau gantungan kunci peluit ini saja?” aku mulai mengeluarkan jurus setengah memaksa. “Pada saat kau merindukan kekasihmu, tiuplah. Begini…,” kutiup peluit kecil itu sampai mengeluarkan suara mendenging.

“Apakah suaranya bisa sampai ke Indonesia?” tanyanya.

“Oh, bisa! Coba saja….”

Ia mengambil sebuah gantungan kunci peluit. Ia mengembangkan dada untuk menghimpun udara sebanyak-banyaknya. Lalu pipinya menggelembung seperti balon. Ia meniup peluit sekuat tenaga.

Bunyi peluit terdengar panjang membelah gerimis. Berkelok di setiap tikungan jalan, berputar di lampu setopan, memantul dari dinding-dingin gedung, menggelinding di trotoar pejalan kaki, mampir sejenak di badan bis kota, kemudian menempel pada biji-biji hujan, diterbangkan angin, menembus awan, langit, laut…

…. bunyinya panjang…, tidak meratap, tidak merintih, tidak meraung. Tetapi melengking. Seperti suara jantung yang diiris dengan pecahan beling. Itu suara kerinduan yang menggelepar sekarat sendirian.

Setelah selesai meniup peluit, ia berkata, “Aku menginap di Golden Star Hotel. Tetapi sudah dua malam aku tidak bisa tidur. Anginnya kencang sekali seperti berteriak-teriak kehausan. Padahal bukankah ia membawa banyak kantung-kantung air? Ia menabrak kaca jendela kamarku sampai berderak-derak. Kamarku di lantai lima. Aku kuatir kalau hotel itu ambruk dan aku terperangkap di dalamnya,” sambungnya dengan ketololan yang tidak tertolong lagi.

Bagaimana tidak? Hotel yang disebutkannya adalah hotel berbintang empat di belokan pertama Dong Jie Lu. Hotel itu berada di depan pangkalan angkatan laut. Logikanya, ia aman dan nyaman menginap di sana.

Tiba-tiba ia bertanya, “Ng…, apakah besok kau ada waktu mengantarku berjalan-jalan? Lusa aku pulang ke Indonesia….” ia setengah bergumam sambil mengangsurkan sebongkol jagung rebus.

Aku tidak mau bergengsi-gengsi lagi untuk menolak tawarannya. Sejak tadi harum jagung rebus itu begitu menggiurkan. Apalagi saat dingin dan basah begini. Aku membutuhkan sesuatu yang bisa menghangatkan kulit dan darahku.

“Dui bu qi, besok aku harus berjualan,” ujarku sambil mengerokoti biji-biji jagung, mengunyah ampasnya, memamahnya sampai halus dan sari jagung meluncur, menyumpal dingin di perutku. Sekarang aku merasa jauh lebih baik.

Sebenarnya aku ingin menanyakan berapa ia akan membayarku untuk mengantarnya berkeliling Quanzhou. Tapi kulihat ia tidak berpotongan perempuan kaya. Jika ia perempuan kaya, saat ini ia makan di meja jamuan dengan cucuran red wine. Atau keluar masuk mal sambil menenteng tas belanjaan yang berisi baju dan sepatu bermerk, membeli perhiasan, minum teh sepat panas di tea house, kemudian memilih gelang giok yang kilau hijaunya berkualitas nomer satu….

Aku mendadak teringat jaket kualitas nomer satu yang dipakai manekin di dalam etalase toko….

“Begini saja, besok antarkan aku dan aku akan membeli semua barang jualanmu…,” kata-katanya membuatku terkesiap.

Ia akan memborong barang daganganku…?! Apakah telingaku tidak salah mendengar? Wow, rejeki nomplok!

***

Tepat seperti dugaanku semula, ia bukan perempuan kaya. Sehari penuh kami berkeliling Quanzhou tapi ia tidak berbelanja apa-apa. Ia justru membawaku ke tempat yang belum pernah kudatangi. Kami pergi ke komplek kuburan suci di Bukit Ling Zhan.

Di sana ia mencatat dan memotret batu-batu bertitik, bergaris, berlengkung dan berbujur, yang dibaca dari atas ke bawah dan dari kanan ke kiri. Titik, garis, lengkung, bujur yang mengguratkan sejarah perjalanan mulia, yang mencetak keindahan abad demi abad, yang menuliskan nama manusia di dalam sepetak tanah, yang dibaca manusia lain ketika debu kembali ke abu, yang bila ditarik lebih panjang akan menjadi catatan baru.

Sampai petang datang, barulah kami mengakhiri perjalanan. Gerimis menderas. Angin kian keras menampar dada. Kami terdampar di emperan toko, di depan etalase manekin yang mengenakan jaket kualitas nomor satu. Ia mengibaskan bulir-bulir yang membasahi tubuhnya. Aku bersidekap melawan dingin.

Lalu aku mengeluarkan kantung plastik yang berisi semua gantungan kunci dan gantungan handphone. Kuserahkan padanya. Seharusnya ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya, bukan?

Aku tidak mau berkata apa-apa seperti, “Ini semua barangku, kau berjanji akan membelinya. Untuk siapa saja sih? Kok banyak sekali? Ini cukup berat loh.” Kurasa, kata-kata ini itu hanya akan menciptakan suasana sentimental. Bahkan aku kuatir bisa membatalkan niatnya memborong semua jualanku.

Ia mengangsurkan 2.000 RMB. “Ini uang yang kujanjikan kemarin. Xie-xie [4] untuk sepanjang hari yang menyenangkan ini….”

2.000 RMB! Uang yang lebih dari cukup untuk membeli jaket kualitas nomor satu itu…

Tetapi ia tidak mengambil semua barang yang kuserahkan padanya. Ia hanya mengambil sebuah peluit. “Aku hanya ingin peluit ini, peluit kerinduan….” kantung plastik yang masih penuh berisi gantungan kunci dan gantungan handphone dikembalikannya lagi kepadaku.

Aku terkejut, terkesima dan semakin melongo ketika tiba-tiba ia melepaskan jaketnya yang penuh gambar itu. Ia menyorongkannya kepadaku. “Wo song gei ni [5]… Aku tidak punya apa-apa untuk kenang-kenangan. Aku ingin kau mengingatku. Nah, bila kau memakai jaket ini, maka kau akan ingat padaku….”

Aku terperangah karena mendadak rasa sedih menyergapku. Walau pun aku hanya pedagang kaki lima, tetapi aku cukup cerdas untuk mengerti sebuah kalimat perpisahan. Kata-katanya membuat mataku terasa panas. Ada sesuatu hampir tumpah dari sana.

Aku terdiam. Ia pun terdiam.

Aku memandangnya. Ia pun memandangku.

“Zai jian [6]….” ia menghela nafas, bangkit dan melambaikan tangan.

“Hei…, tunggu….” aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Juga belum sempat menanyakan siapa namanya, apa pekerjaannya, kapan ia akan datang lagi, nomor handphone-nya, atau bagaimana caranya agar kami bisa bertemu lagi….

Tetapi ia sudah menerjang hujan. Bayangannya diterkam malam.

Sedangkan di etalase, si manekin masih mengenakan jaket kualitas nomor satu, masih berdiri miring, masih tersenyum.

Sayup-sayup kudengar lengking peluit. Panjang menjeritkan kerinduan. (*)

Catatan:
[1] RMB: Ren Ming Bi = mata uang China. 1 RMB setara kurang lebih Rp. 1.300,-
[2] Dui bu qi = maafkan saya
[3] Ni hao? = apa kabar?
[4] Xie-xie = terima kasih
[5] Wo song gei ni = aku memberikan (ini) untukmu
[6] Zai jian = sampai jumpa lagi
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2011/02/21/qiu-shui-yi/