RIBUAN PENONTON SAKSIKAN NYANYIAN ANGSA TEATER GENDHING

Jajang R Kawentar
http://jajangkawentar.blogspot.com/

Kota Muaraenim

Pada hari Sabtu (20/2) pukul 17.00 sampai di Kota Muara Enim yang baru beberapa hari sebelumnya tertimpa banjir dan angin putting beliung tepatnya di depan gedung kesenian Putri Dayang Rindu, rencananya menonton pentas teater yang tercatat di spanduk dan baliho depan gedung ini drama musikal Nyanyian Angsa karya Anton Chekov yang digarap Komunitas Gendhing Muaraenim sutradara Fikri Ms jam 19.00 pentas terakhirnya. Tercatat di Spanduk dan balihonya mereka pentas mulai hari Jumat-Sabtu 19-20 Februari 2010 terbagi menjadi empat kali pementasan setiap hari dua kali. Pentas pertama pagi jam 09.00 WIB dan pentas kedua jam 19.00 WIB.

Kabar ada pementasan ini didapat dari Arpan Rahman wartawan okezone di Palembang pada tengah malam sebelumnya, antusias tentunya untuk dapat menyaksikan karya Chekov dengan actor dan sutradara dari desa Muaraenim. Apakah terjadi akulturasi antara budaya Rusia dengan budaya Muaraenim Sumatera Selatan yang kental dengan budaya lisan.

Dari dalam Putri Dayang Rindu keluar yang angkut-angkut property dari atas panggung, dan beberapa orang melucuti dekorasi panggung. Jangan-jangan pertunjukan sudah usai. Jauh dari Lahat dibela-belain hujan-hujanan tak dapat menyaksikan pentas teater yang jarang terjadi di Sumatera Selatan ini apalagi di Muara Enim, sebuah kota kabupaten yang sepi aktifitas seni. Baru kali ini mulai menggeliat dengan munculnya Komunitas Gendhing yang dimotori Fikri Ms.

Setelah ditanyakan pada laki-laki paruh baya yang ikut berkemas, rupanya yang sedang melucuti panggung itu pesta khitanan. Kenapa bisa terjadi seperti ini, apakah ada miskomunikasi antara spanduk dan baliho yang terpampang besar di gapura halaman Putri Dayang Merindu ini dengan pementasan Drama Musikal Nyanyian Angsa.

Mencari informasi yang pasti, jangan sampai kesempatan nonton Nyanyian Angsa menjadi nyanyian sunyi. Mencoba mengelilingi Putri Dayang Rindu itu, ada beberapa anak muda bergerombol membuat lingkaran kecil duduk di aspal halaman gedung sebelah kiri yang dipayungi tenda pesta, membicarakan sesuatu. Kupandangi mereka dari kejauhan siapa tahu ada yang kenal, jangan sampai kekecewaan menjadi nyata. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghampiri, berperawakan kecil berambut pendek bulat.

Dia mengatakan bahwa Nyanyian Angsa pementasannya diundur karena gedungnya dipakai untuk pesta khitanan putra pejabat. Kita sebagai masyarakat biasa tidak punya jabatan, mengalah. Disamping itu karena kepengurusan Gedung Kesenian ini ada dua, di Kepala Bagian Umum Pemerintah Daerah dan di Kepala UPTD Dinas Pariwisata.

Hal ini sempat dibahas beberapa elemen masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mengembalikan Gedung Kesenian Putri Dayang Merindu ini pada fungsinya yaitu sebagai tempat kegiatan berkesenian dan dibicarakan pada Bupati serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Tetapi Komunitas Gendhing memulainya dengan aktifitas teater dan merencanakan menampilkan beberapa naskah drama. Hasil kerja perdananya Drama Musikal Nyanyian Angsa naskahnya Anton Chekov siap digelar, yang semestinya mulai Jumat (19/2) diundur menjadi Minggu (21/2) karena ada pesta khitanan.

Sontak kerja menjadi dua kali karena harus mengkonfirmasi ulang para undangan dan para penonton yang telah memesan tiket ada sekitar 2000 tiket yang sudah terjual. Tetapi ada baiknya karena dengan adanya kejadian ini pemesan tiket menjadi bertambah 1000 tiket, jadi jumlah keseluruhan 3000 tiket terjual.

Fikri Ms sutradara Nyanyian Angsa yang saya kenal dua tahun lalu, dia tidak menyangka kawannya dari Lahat datang disaat hujan deras membasahi Bumi Serasan Sekundang, karena dia sendiri tidak mengundangnya. Terakhir berjumpa saat Teater Gaung mementaskan Gadis Perawan di Sarang Jabalan adaptasi dari Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana di gedung RRI Sumatera Selatan di Palembang setahun lalu. Tetapi dia mendapat kabar dari Arpan Rahman karena dirinya berhalangan dan mengatakan bahwa kawannya ini bakal datang.

Jadwal pementasan yang seyogyaya pukul 09.00WIB menjadi pukul 15.00WIB dan untuk malam hari tetap pada pukul 19.00 WIB. Akhirnya menunggu pementasan satu hari semalam di Putri Dayang Rindu.

Kisah Angsa

Nyanyian Angsa mengisahkan dua tokoh penting dalam dunia peran (actor) panggung yang sudah menginjak usia senja kira-kira 60 tahunan. Dua tokoh tersebut Nikituskha yang bertugas sebagai pembisik dalam pementasan drama dan Svietlovidoff pernah menjadi pemeran utama dalam beberapa drama karya William Shakspiere seperti King Lear dan Badut, Othello, Hamlet dan Pembisik

Karena usia tua yang menyerangnya, Svietlovidoff sering merasa ketakutan. Kesepian semakin ia rasakan ketika disadarinya tiada seorang pun yang peduli dengannya. Sehingga masa lalu mengingatkannya, segala sesuatu yang pernah diraihnya begitu indah menghiasi hati dan pikirannya. Kini Svietlovidoff menganggap dirinya seperti angsa putih yang ditinggalkan kelompoknya karena usia senja dianggap sudah tak mampu lagi memberikan apa-apa kecuali membebani orang lain.

Sementara Nikitushka si Pembisik yang sama-sama sudah uzdur kembali mendapatkan kawan. Kesepian angsa putih sedikit terobati segala keluh kesah ia kabarkan, tentang masa lalunya yang gagah dan betapa energiknya sewaktu dirinya muda, tampan, dan berani, serta menjadi pujaan wanita. Beberapa lakon yang pernah ia mainkan, diperankannya kembali, dan Nikitushka hanya mengikuti karena merasa kasihan terhadapnya.

Kesedihan Svietlovidoff memuncak ketika si Pembisik ikut sedih dan menangis mengingat masa lalunya. Akhirnya mereka hanyut dalam keterasingannya, usia senja menjadi kendala dalam mempertahankan profesinya sebagai Aktor. Namun seperti yang mereka katakan, “Di mana ada kejeniusan dan kekuatan ekspresi tentu tak ada tempat bagi kesepian atau kesakitan”. Mereka pun bangkit menatap ke depan.

Dua Tokoh

Teater Gending dalam menggelar Drama Musikal Nyanyian Angsa ini menampilkan David Mulya sebagai Nikituskha dan Novan Furwansyah sebagai Svietlovidoff. Kedua actor yang baru saja menitikan karirnya ini, mengakui baru pertamakalinya memerankan tokoh di atas pentas dan baru pertama bermain teater. Walau begitu aktingnya cukup memukau para penonton. Mereka kagum terhadap penampilanya.

Pentas perdana ini telah melampaui kawan-kawan teater sebayanya yang pernah saya saksikan. Karena mulai dari tata panggung, lighting, ilustrasi musik, make up, serta kemampuan actor sendiri betul-betul tergarap. Meskipun masih ada kelemahan dari teknis penampilan, volume soundnya kebesaran, lightingnya beberapa kali lepas control dan vocal yang belum mampu mengimbangi 800-an penonton dalam satu kali penampilan. Banyak penonton kurang memahami kekurangan pertunjukannya karena mereka memang awam, hanya masalah vocal dalam beberapa dialog yang banyak di keluhkan, karena tertutup suara musik pengiringnya. Sepertinya bagi penonton, kedua tokoh Nyanyian Angsa itu menjadi penentu dalam pementasan itu.

Namun secara keseluruhan Teater Gendhing mampu menyuguhkan pertunjukkan yang cukup fantastic bagi masyarakat pelajar, mahasiswa dan guru di Kota Muara Enim. Sebuah tontonan yang unik dan baru mereka kenal, sehingga mereka antusias serta takjub. Beberapa anak SD setelah keluar dari gedung pertunjukan mengatakan pada temannya, “wah seru ya!” entah apa yang mereka rasakan.

Ilustrasi musik yang mempengaruhi emosi penonton, dan mengatur ritme pementasan digawangi Rizal: Gitar, Dodi: Keybord, Nando: Bass, Titin: Gong, dan Adita: Jimbe. Karena drama musical maka musik sangat dominant dalam pertunjukan ini. Mereka cukup mahir dalam memainkan alat sehingga sejuk didengar dan penonton ikut menghentakkan kakinya ketika musik Blues mengiringi nyanyian yang dibawakan Nikituskha dan Svietlovidoff .

Ribuan Penonton

Ribuan pelajar dan mahasiswa Muaraenim memadati Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu, menonton Nyanyian Angsa Naskah Drama Anton Chekov disutradarai Fikri Ms yang didominasi anak perempuan hamper 90 persennya. Menakjubkan. Ada ibu-ibu membawa anak-anaknya perempuan yang masih balita, mereka duduk di kursi sabar menunggu pintu masuk dibuka.

Ya menakjubkan sebab perempuan yang akan melahirkan kembali dan kembali menceritakan kepada ribuan anaknya yang kelak lahir. “Nak dulu ibu pernah menonton naskah drama Nyanyian Angsa karya Anton Chekov yang disutradarai Fikri Ms. Orang Muara Enim, ya asli Orang Muara Enim. Menyenangkan, menarik, kali itulah ibu pertama menonton pertunjukan teater. Dan kata nenek dulu tidak pernah ada yang namanya pertunjukan teater seperti yang digelar kelompok Teater Gending. Nah jadi kamu boleh menonton pertunjukan teater, itu bagus sekali. Atau kamu coba menjadi actor dari pementasan drama itu. Ibu sangat bersyukur, kalau kamu senang dengan seni, karena seni itu indah nak,” kata seorang anak perempuan yang kelak menjadi ibu.

Demikian juga seorang anak perempuan lainnya yang kelak menjadi ibu mengatakan pengalaman menonton Teater Gendhing pada anaknya, “Waktu itu ibu menonton sama kawan-kawan ibu di gedung kesenian sesama anak sekolah, ibu juga ketemu dengan kawan-kawan ibu yang dari sekolah lain. Masuknya dorong-dorongan, waktu itu beli tiket harganya cuman Rp3000. Murahkan? Pulangnya ibu bercerita sama nenek bagaimana Nyanyian Angsa karya anton Chekov yang dimainkan Kak David sama Kak Novan. Begitu mempesona. Rasanya ibu pengen sekali berkenalan dengan para pemainnya dan kru dari Teater Gending ini apalagi sama sutradaranya. Tapi ibu malu, masih terlalu kecil. Waktu itu ibu kelas 3 SD umur ibu kira-kira 9 tahun.”

Demikian sekelumit gambaran harapan dari sebuah pertunjukan Nyanyian Angsa dari Teater Gendhing. Penampilan perdana dapat menyirami ruhani para perempuan yang menyaksikan pertunjukan ini dan bersemi di hatinya serta berkembang pada keturunannya kelak. Masyarakat Muaraenim bersahabat dengan dunia teater, karena kota ini sangat potensial terhadap perkembangan seni. Kalau pertunjukan perdana sudah ditonton 3000 orang maka ke depan lebih dari 5000 orang.

“Sebuah pintu yang besar ini tidak bisa oleh satu dua orang untuk membukanya tetapi harus sama-sama. Pintu itu kini sudah terbuka, kita sudah pegang kuncinya. Bagaimana supaya pintu itu tidak rusak. Gerbang itu barusan saja kita buka. Apa yang ada dihadapan kita ketika pintu itu sudah terbuka kita harus siap menghadapinya,” ungkap Fikri Ms dihadapan 23 kru Nyanyian Angsa.

Teater Gending Aset Daerah

Sekitar 20-an orang tergabung dalam lingkaran Komunitas Gendhing di halaman gedung kesenian Putri Dayang Rindu mempersiapkan pementasan Nyanyian Angsa. Mereka cukup sabar, serta telaten menyusun rencana untuk memecah kesunyian kota dari hiruk–pikuknya kekakuan dengan hangatnya kesenian. Mereka siap menghidupkan atmosfir berkesenian dan membangunkan semangat berkesenian yang telah lama tidur di Kota Muaraenim.

Tidak mudah membangun sebuah komunitas yang solid, apresiatif dan kreatif seperti yang dilakukan Komunitas Gending. Inilah yang menjadi berharga dari sebuah komunitas. Mereka selalu menyandang daerahnya dimana komunitas itu berkembang dan bersemi berkarya. Selayaknya mereka mendapatkan bantuan moril dan materil dari pemerintah daerahnya. Supaya lebih berkembang dan membawa harum daerahnya.

Sebanyak apapun sebuah daerah memiliki komunitas seni, namun apabila tidak mampu berkarya, juga melahirkan sebuah generasi yang energik dalam menangkap sebuah gagasan kesenian, dan mengolahnya menjadi sebuah karya, maka komunitas seperti sebuah keniscayaan. Komunitas Gending menjadi sebuah inspirasi bagi siapapun dalam membangun sebuah komunitas atau entitas berkesenian di daerah.

Fikri Ms bersama kawan-kawannya mendirikan Komunitas Gending pada tanggal 18 Agustus 2008 nama Gendhing disepakatinya sebagai wadah yang menampung dan mengembangkan bakat bagi para pemuda dan pelajar di Muara Enim. Beberapa aktifitas yang pernah digelar dan diikutinya diantaranya teaterikal di tugu Monumen Daerah (MONDERA) bertepatan dengan hari jadi kabupaten Muara Enim, 25 November 2008, pentas Musikalisasi puisi, refleksi Bulan Chairil Anwar dan Hari Pendidikan (April-Mei 2009) dalam Pekan Budaya I di Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu M. Enim, Oktober 2009 diundang dalam Mimbar Teater Indonesia (MTI) I di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo, Magang Teater di Jombang, Jawa Timur (Januari 2010). Kini Komunitas Gending itu mengubah namanya menjdi Sanggar Teater Gending (STG).

Sumber: http://jajangkawentar.blogspot.com/2010/03/ribuan-penonton-saksikan-nyanyian-angsa.html