Sastra Jawa yang ‘Nges’

Anjrah Lelono Broto *)

http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Masyarakat Jawa telah lazim menempatkan sastra sebagai produk seni yang terangkai dalam indahnya tata bahasa, diksi, serta rima. Tidaklah mengherankan apabila sastra Jawa yang masuk dalam kategori ‘klasik’, tidak hanya menempatkan isi sebagai unsur yang dominan, tetapi juga apiknya tata bahasa, diksi, serta rima. Produk seni sastra yang memenuhi standar tersebut di atas layak menyandang predikat sebagai karya yang ‘nges’ (meminjam istilah Herry Lamongan).

Lebih lanjut, produk seni sastra yang ‘nges’ seperti ini memiliki masa orbit yang lebih lama dalam ingatan publik. Kelamaan masa orbit ini dilatarbelakangi juga oleh sesaknya nilai-nilai moral yang diracik dalam simbolisasi yang apik. Artinya, publik merelakan sebagian ruang memorinya untuk menyimpan kesan karya-karya sastra yang ‘nges’ ini mengingat karakter dulce et utile-nya bagi perjalanan peradaban kemanusiaan.

Karya-karya sastra, secara umum, tidak lahir dari kehampaan rahim sastrawan, juga bukan lahir dari adonan ala mie instan yang cenderung plagiatif. Sejatinya, karya sastra lahir dari persinggungan penetrasi sosial-budaya, mengingat realitas sosial yang ditangkap radar pengarang yang menjadi gagasan mendasar dalam karya sastra tersebut.

Tanpa bermaksud mengarah pada satu genre sastra tertentu, kita jumpai fakta bahwa mayoritas karya sastra Jawa klasik yang ‘nges’ seperti Negarakertagama, Arjunawiwaha, Sutasoma, dll lahir dari penetrasi sosial Hindhu/Budha dengan kultur Jawa. Begitu juga dengan Serat Wulangreh, Cebolek, Wedhatama, Centhini, serta Suluk Cipta Waskitha, dll. Sederet karya sastra Jawa ini lahir dari penetrasi budaya Islam dan Jawa. Benang merah ini terurai dari narasi ilmiah tentang nilai-nilai normatif Hindhu/Budha dan nilai-nilai Islam, dalam racikan ‘njawani’.

Karya sastra Jawa yang ‘nges’ hadir menembus batas-batas ruang dan waktu, begitu juga objeknya. Sastrawan menempatkan realitas lintas dimensi peri kehidupan yang ditangkap radarnya tidak dalam format yang random, melainkan dalam sistematika yang terikat pada asas serta visi tertentu. Gunoto Saparie (2006) mengatakan bahwa Serat Wedhatama yang berisi anjuran kemuliaan budi dan larangan memperturutkan budi jahat kepada umat manusia secara implisit mengabarkan bahwa penulisnya (Mangkunegara IV) menangkap realitas dan pandangan Jawa sebagai gejala-gejala lahiriyah dan memiliki kekuatan kosmis-nominus.

Bagi penulis, Serat Wedhatama tidak hanya murni sebentuk karya sastra melainkan sastra profetik (kenabian) sebagaimana Ramayana dan Mahabharata di India. Sebab, Serat Wedhatama juga mengajarkan laku spiritual kepada Sang Pencipta dalam rangkaian penghayatan sufistik kelas tinggi. Rangkaian bahasa yang mencerminkan penghayatan sufistik kelas tinggi dengan sendirinya menggunakan simbol-simbol sebagai penanda pesan sastrawannya.

Ketika realitas sejarah yang menjadi objek dalam karya sastra Jawa yang ‘nges’, maka Sang Sastrawan juga tengah berupaya menerjemahkan realitas sejarah tersebut dalam simbolisasi penanda dalam kapasitas kesastrawanannya. Maka, Sastra Jawa yang ‘nges’ pun menjadi media penulisnya untuk menyampaikan perasaan dan tanggapannya terhadap peristiwa sejarah itu sendiri. Hal ini dapat kita cermati dalam serat-serat babad seperti, Babad Tanah Jawa, Babad Dipanegara, Babad Tanah Sabrang, dll.

Sastra Jawa yang ‘nges’ memandang dunia sebagai konstruksi yang dinamis dan relatif. Nilai kesusastran yang bersemayam di dalamnya kait-berkait dengan kemanusiaan manusia secara holistikal. Karakter seperti ini menobatkan sastra Jawa yang ‘nges’ pada kemampuan untuk menghaluskan sisi batin pembacanya sehingga menuntut tingginya daya apresiasi. Apresiasi pada Sastra Jawa yang ‘nges’ menuntut luasnya wawasan, ketajaman jiwa, serta kehalusan perasaan. Merujuk pada fakta bahwa bahasa yang digunakan dalam Sastra Jawa yang ‘nges’ diracik dalam simbolisasi liat. Sebagaimana ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti yang disimbolisasikan dalam tokoh Bima dan Dewa Ruci. Tokoh Bima dalam serat ini digambarkan sebagai kesatria perkasa dengan kekuatan yang digdaya, dan seorang brahwana yang memiliki kearifan batin (waskita). Bima sejatinya merupakan simbol tokoh mistik jawa (Haryanto, 1990).

T. S. Eliot mengukur kadar kesastraan sebuah karya sastra adalah dengan kriteria estetik, sedangkan mengukur kebesaran karya sastra adalah dengan kriteria di luar estetik (Lubis, 1997). Salah satu kriteria estetik yang bisa dipakai adalah kriteria norma sastra. Rene Wellek menyatakan bahwa norma sastra adalah tata nilai implisit yang mesti ditarik dari karya sastra dan menunjukkan karya sastra sebagai keseluruhan. Norma karya sastra itu terdiri dari beberapa lapis; lapis suara (berupa kata), lapis arti (berupa kalimat), dan lapis objek (berupa dunia sastrawan).

Misalnya, Serat Wedhatama, lapis suaranya dirangkai dalam tembang Gambuh. Lapis artinya berisi pendidikan budi pekerti antar sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan dengan tujuan eksistensi kemanusiannya. Sementara untuk menjamin martabatnya, seseorang harus menguasai 3 prasyarat Wirya (keberanian) yaitu: berani mengorbankan ‘arta’ (harta), ‘raga’ (badan jasmani), dan ‘rasa’ (jiwa). Pribadi hasil 3 Wirya ini, adalah pribadi yang Tri Winasis (cendekia yang cerdas, tangguh, dan bijak memaknai kehidupan).

Wellek dan Warren mengingatkan bahwa karya sastra memang mengekspresikan kehidupan, tetapi kurang tepat kalau dianggap mengekspresikan selengkap-lengkapnya (Lubis, 1997). Hal ini disebabkan karena hakikat karya sastra itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan realitas sosial secara langsung, imajinasi sastrawan melahirkan simbol-simbol untuk menerjemahkan hasil tangkapan radarnya.

Membaca karya sastra Jawa yang ‘nges’ laksana mengarungi samudra makna nir tepi. Pembaca dituntut tidak gegabah memahami yang tersurat namun juga yang tersirat, menggali apa yang bisa diurai. Sudah menjadi rahasia umum, hari ini nilai-nilai yang bersemayam dalam karya-karya sastra ‘nges’ tidak terurai apalagi teraktualisasi. Degup nafas peradaban jaman memang menjauh dari pembacaan tersirat dan lebih mengarah pada apresiasi instanisme. Sastra Jawa yang ‘nges’, selamat beristirahat dengan tenang.
***

*) Penulis dan Penikmat Sastra Jawa, Anggota Senior Teater Kopi Hitam Indonesia
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/06/sastra-jawa-yang-nges/