The Spiral Staircase My Climb out of Darkness
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Alfred A. Knopf, New York, 2004
Tebal: 336 halaman
Peresensi: Ihsan Ali-Fauzi *
http://majalah.tempointeraktif.com/

Karen Armstrong dikenal sebagai penulis buku agama yang hampir semuanya menjadi buku terlaris. Ia mendekati subyeknya dengan simpatik dan menuliskannya secara segar dan mudah dicerna.

Ia memang dikenal dunia lewat A History of God (1993), tapi karya-karya awal Armstrong berbentuk memoar. Dalam Through the Narrow Gate (1981), ia mengisahkan tujuh tahun hidupnya yang berat: calon biarawati, sejak berusia 17 tahun, sekalipun ditentang kedua orang tuanya. Kecewa dengan ortodoksi Katolik, pada akhir 1960-an ia meninggalkan gereja, mulai menolak agama dan Tuhan. Memoarnya yang kedua, Beginning the World (1983), mengisahkan babak ketika ia menjadi agnostik, malah ateis.

The Spiral Staircase My Climb out of Darkness, memoar ketiganya, banyak merevisi memoar kedua di atas. Ia kini, katanya, jijik melihat buku itu. Ia merasa tak mengungkap semuanya dengan jujur.

Memoar ini dimulai ketika Armstrong bersekolah di Oxford, tempat ia memperoleh bachelor of arts dan master of arts, tapi gagal meraih gelar doktor. Bagian ini menarik karena cukup kaya melukiskan kehidupan agama di Inggris, yang bersemangat “benci agama”. Para pengagum Armstrong akan terenyuh membaca bagian-bagian ini. Ia beberapa kali shocked karena keyakinan agamanya diolok-olok di kelas. Ia keluar dari biara dengan pengetahuan nol mengenai dunia sekitar: ia tak kenal The Beatles, yang mengaku lebih terkenal dari Yesus, dan terus berdoa agar krisis Kuba berakhir ketika krisis itu sebenarnya sudah berakhir.

Kisah berikutnya lebih mengharukan: kegagalannya saat bekerja sebagai guru SMA khusus perempuan. Sekalipun penguasaan materinya di atas rata-rata guru SMA, ia akhirnya diberhentikan. Ia punya masalah mental. Kebiasaannya ngiler selagi melek, pada masa itu, memburuk menjadi pengalaman halusinasi, amnesia, dan panic attacks. Bahkan ia sempat mau bunuh diri. Bertahun-tahun ia berkonsultasi dengan psikiater. Akhirnya, pada 1976, seorang dokter berhasil mendeteksi epilepsi. Ia senang mendengar hal itu: sedikitnya ada kejelasan mengenai penyakitnya, apalagi epilepsi adalah penyakit fisik biasa.

Bagian terbaik memoar ada di ujungnya, ketika Armstrong menuturkan penemuan dirinya yang terakhir. Waktu itu, ia menganggur dan terpaksa menerima tawaran sebagai presenter sebuah film dokumenter mengenai agama Kristen di sebuah stasiun televisi, pekerjaan yang mengantarnya ke Israel pada 1983.

Perkenalannya dengan Yahudi dan Islam mendorongnya memulai karier baru: menulis sejarah tiga agama Ibrahim. Di sela-sela inilah ia menguji kembali gagasan-gagasan lamanya mengenai agama, spiritualitas, dan Tuhan. Yang pokok, simpulnya, bukanlah dogma atau iman yang benar, melainkan tindakan yang benar. Agama, bagi Armstrong, “sesuatu yang bisa mengubah Anda.” Agama sebuah estetika moral, sebuah kimia etis, yang ia temukan pada Aturan Emas: “Kalau kamu tidak mau disakiti orang lain, jangan mulai menyakiti orang lain.” Ia juga menemukan tempat baru bagi mitos dan mistisisme. Ia tak lagi mau memikirkan Tuhan sebagai fakta yang obyektif. Teologi yang berawal dari situ tak berguna untuknya.

“Teologi itu sejenis puisi,” katanya, “yang elusif, yang memerlukan pikiran tenang dan reseptif seperti yang Anda perlukan untuk mendengarkan Beethoven atau membaca Rilke: Anda mesti memberinya perhatian penuh, menunggunya dengan sabar, dan menyisakan ruang kosong untuknya…. Dan di ujung hari karya itu akan mewartakan diri ke Anda—hingga menjadi bagian dari Anda.”

Ia banyak dipengaruhi Islamolog Marshall Hodgson dalam hal ini, yang memperkenalkannya kepada the science of compassion. Secara sederhana, ini bisa dibilang sebagai kiat mental yang memungkinkan kita turut merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga dalam diri kita ada ruang untuk menerima mereka. Dengan “ilmu” inilah Armstrong menulis buku-bukunya seperti biografi Muhammad, buku yang disukai banyak orang Islam.

Perlu keberanian khusus untuk menulis memoar seperti ini. Kita menampilkan babakan hidup yang mungkin tak menarik dan boleh jadi ditertawai orang. Armstrong juga akan ditanyai sejauh mana ia kali ini jujur atau sedikitnya sejauh mana ia lebih jujur daripada ketika ia menulis memoarnya yang kedua. Tapi bisa diduga, Armstrong lebih percaya diri. “Tangga Spiral” (yang dipinjamnya dari T.S. Eliot), mencerminkan kebahagiaannya secara spiritual. Ia tengah menapak langkah ke tahap berikut dari sebuah tangga spiral.

Memoar ini banyak bercerita mengenai pengalaman sang penulis dalam menepis kepastian-kepastian yang sering ditawarkan agama-agama atau lawan-lawannya. Kata Armstrong, peristiwa 11 September adalah akibat mengerikan dari jenis kepastian seperti itu.

Ihsan Ali-Fauzi, kandidat doktoral di Ohio State University
26 Juli 2004

Categories: Resensi