Tentang Sajak Dody Kristianto

Eva Dwi Kurniawan

Dody Kristianto, nama yang kini menjadi perhatian saya. Seorang sarjana sastra.
Sudah lama saya memendam sebuah rasa yang aneh. Rasa yang tersamar-samar mengatakan bahwa kawan saya itu, Dody, akan menjadi seorang penyair baik. Penyair yang resah dengan bahasa dan selalu menemukan kegagalan dalam menyusunnya. Sebab, yang namanaya sajak, tidak akan pernah berhasil diciptakan. keberhasilannya ialah ketika sajak itu dirasakan gagal. Dan sebab gagal itulah, usaha untuk menyusunnya kembali, dilakukan. Dan sudah pasti, akan terjadi kegagalan lagi. Begitulah, serupa kutukan Zeus kepada Syisipus.

Kegagalan-kegagalan itulah yang terus disampaikannya melalui puisi. Dody, tetap menulis puisi. Ia selalu berusaha menulis, meskipun, saya yakin, apa yang ditulisnya itu masih belum membuat dirinya puas. Selalu saja dia resah ketika sajaknya selesai ditulis, terlebih jika dimuat disurat kabar.

Masih saya ingat ketika ketika beberapa puisinya gagal dimuat di media, dia melarikan diri ke wilayah cyber. Dia bilang, untuk membuat jaringan. Lalu saya katakan, “Asal tahu konsekuensinya, jika tetap berada di jalur itu-itu saja, kau bisa tersudutkan.” Dody, dengan gaya santainya, hanya menjawab, “Ya..ya..ya.” Entah apakah obrolan itu masih dia ingat atau tidak, saya tidak tahu. Akhirnya, selama pantauan saya, dia tetap bergelut di dalam dunia cyber.

Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata saya tahu, dia menerapkan dua hal. Cyber, dan juga komunitas nyata. Sebagai sosok orang yang cuek, penggelandang, suka kesana kemari, juga sedikit urakan dan tidak tahu malu, saya menduga, bahwa apa yang diinginkannya dapat terwujud. Saya sadar dan sudah menduga sebelumnya, dari tatapan dan alis mataya, Dody bukan orang yang mudah patah. Dia memiliki energi besar. Semangat tinggi dan ambisius.

Ingatan yang membuat saya mulai tertarik dengan sosok Dody ialah ketika kali pertama kuliah. Dody, anak anak pertama yang selalu saya jumpai di kampus di pagi hari, sekitar pukul setengah tujuh pagi. Dia sudah berada di kampus. Sering aku menyindirnya sebagai tukang buka pintu kelas. Tempat favorid dia, adalah di lantai 3, sebuah ruang yang nyaman untuk melihat mahasiswa yang mulai berdatangan, terlebih mahasiwa putri.

Kali pertama bersentuhan dengan sajak-sajak Dody, yang mulai muncul dalam pikiran saya, adalah suasana yang terkesan bermain-main. Diksi-diksi yang digunakan tampak dilepaskan begitu saja. Sepertinya, tanpa ada seleksi terlebih dahulu dalam meletakkan diksi-diksi yang disusun di dalam puisinya itu. Saya pun begitu yakin, bahwa puisi yang ditulis Dody, sangat cepat. Tidak memakan waktu lama. Tidak terlalu banyak dia mengotak-atik puisi yang ditulisnya. Dan itu, hanya sekadar dugaan saya.

Baru di akhir-akhir ini, saya mulai merasakan adanya kepaduan, keseriusan dalam menyusun diksi. Mulai serius dalam usahanya untuk gagal menulis puisi. Tema-tema yang dihadirkan, meskipun masih sama, yakni lebih meletakkan pada estetika bahasa, tanpa tendensi prakmatis, tetap berada pada wilayah yang jauh berbeda pada sajak-sajak Dody sebelumnya. Jika dahulu masih abstrak, kini sudah menapakkan sesuatu yang konkret.

07 Juni 2011