Tepi Jalan Ahmad Yani

Salamet Wahedi *
Surabaya post, 6 Feb 2010

Gadis itu menggigit-gigit kuku jari telunjuknya dengan gigi depannya. Sapuan matanya menyisakan nanar keruh. Air mukanya pun menampak riak berdebu. Raut belia itu tambah kusam saja saat butir debu yang diterbangkan mobil-mobil di depannya lengket di wajahnya. Kulit wajahnya begitu berminyak. Seperti bentangan kanvas lusuh, wajahnya sekilas menguar panorama senja. Namun, kerling retinanya menegaskan usianya yang masih di bawah dua puluh tahun.

Sudah berhari-hari ia berdiri di tepi Jalan Ahmad Yani. Kebaya biru langit tuanya, yang mendekati warna ungu, mengesankan kemuraman. Apalagi malam mulai bergegas seperti orang-orang yang menderu dengan kendaraan pribadinya masing-masing. Tampaklah sebuah duka yang maha.

Ia menggigit-gigit kuku jari telunjuknya. Seperti menggigit-gigit sesuatu yang tak habis-habis. Seperti mengunyah permen karet. Tapi sebenarnya ia hendak mengunyah kerikil yang berserakan di kepalanya. Mengganjal di benaknya. Kerikil-kerikil yang berjatuhan dari tubuh lelaki yang sempat dipujanya. Lelaki yang selalu memanggilnya, Manisku. Lelaki yang meninggalkan jejak ngilu dan kelu kata-kata di tubuhnya.

”Manisku, kita akan mengarungi dunia ini seperti kupu-kupu yang aneka warna. Kita akan melintasi taman-taman, menziarahi tempat penuh kenangan.” Lelaki itu selalu memberinya imajinasi. Mengajaknya melayang dari atas awan. Beterjunan menikmati luas cakrawala, menatap dunia fantasi tingkat tinggi.

”Seperti Adam dan Hawa, kita akan menemukan surga kita dalam desah kita. Dalam dengus kita. Dan sempurnalah kita yang memang dilahirkan untuk menjadi sepasang pecinta.” Lelaki itu selalu membuatnya teringat pada espisode-episode sinetron kesukaannya. Sinetron yang selalu disantapnya mulai sehabis maghrib hingga menjelang malam.

Lelaki yang tiga tahun lebih tua dibanding usianya, diimpikannya sebagai sosok yang akan meninggalkan sepotong masalah, sepenggal gelisah, lalu beberapa tahun kemudian akan datang dengan senyum sumringah. Seperti sinetron-sinetron yang selalu menggelar drama percintaan, tragedi kejahatan picisan dan melankolia romantisme karbitan, yang kadang-kadang ditolak suara hatinya. Tapi tak pernah mampu ditepikannya. Selalu, cerita-cerita semacam itu tergelar dari satu sinetron ke sinetron lain.

Lelaki itu selalu diimpikannya, kadang-kadang sebagai Anjasmara, Rizky Aditya, atau Dude Herlino. Tiap malam ia selalu terbayang senyumnya, gerak rekah bibir yang memanggil namanya, Manisku, atau raut wajah yang selalu membuatnya melayang.

Tapi lelaki itu, kini hanya menyisakan lengang gersang di dadanya. Membekaskan suara-suara yang mengerang seperti sayatan parang. Lelaki itu kini pergi seperti elang. Lelaki yang entah ke mana kini ia menghilang.
***

Jauh sebelum ia berdiri di tepi jalan Ahmad Yani, jauh sebelum ia hanya menggigit-gigit kuku jari telunjuknya, menggigit-gigit segumpal kerikil masalah yang membuat hatinya nelangsa, biasanya menjelang maghrib, Gadis itu, Ardina, sudah bergegas mandi. Sehabis adzan, ia langsung merampungkan shalatnya. Setelah itu, ia akan terpaku di depan televisi. Di temani ayah-ibunya yang juga kesemsem tangis Sireen Sungkar, derai tawa Chelsea Olivia, atau siasat busuk picisan para tokoh antagonis yang selalu diulang-ulang dengan adegan yang tidak logis.

”Bu, baju yang dipakai Fitri kalem ya Bu? Motifnya tidak menyolok, dan paduan warnanya sangat mendukung postur dan kulit langsatnya”. Tubuh Ardina melengos di atas sofa. Di tengah jeda sinetron, Ardina dan ibunya selalu mengomentari mode pakaian yang dipakai tokoh-tokoh sinetron. Apalagi mode pakaian yang dipakai oleh para aktrisnya

Sedang ayahnya hanya sesekali memberi penjelasan yang kurang enak di hati ibunya, ”Baju-baju itu memang pesanan. Tidak hanya sekadar memesan, tapi juga hendak menghembuskan nafas budaya baru. Budaya orang-orang yang jauh bertolak belakang dengan budaya kita”

”Wah Bapak sok tahu aja. Komentarnya selalu miring terhadap sinetron kita. Ceritanya yang picisan lha. Aroma kapitalis yang begitu kental lha. Atau tokoh-tokohnya tampil tanpa budaya di mana cerita itu dirangkai. Ada-ada aja.”, bibir bawah mulut ibu Ardina agak maju.

Percakapan tentang gaya hidup a la sinetron di tengah keluarga Ardina telah menjadi menu sampingan yang pokok. Setiap malam, di tengah jeda sinetron, atau di tengah interlude satu sinetron ke sinetron berikutnya, atau bahkan di pagi hari, saat mereka menyantap sarapan pagi, perbincangan mode, pola hidup, atau cerita lika-liku cinta yang romantis, atau melodrama tragis maupun logika cerita yang kadang terkesan tidak logis selalu tersuguh begitu hangat.

”Bu sungguh ironi sikap Nona Mikad. Masak sudah punya suami ganteng kayak tuan Aldir. Kaya lagi. Masih doyan main selingkuhan”.

”Lho, itu dah biasa Din. Kalau tidak seperti itu bukan jaman modern namanya. Coba kau lihat, tokoh Marsulin dalam sinetron “Kupu-Kupu Hijau”. Mulanya ia digambarkan anak yang cantik, pendiam dan berprestasi dalam belajar. Tapi itu kan cerita-cerita kuno. Hingga sutradara pun perlu mengubah alur ceritanya. Perlu mengikuti selera masa kini. Si Marsulin pun akhirnya, gara-gara camping liburan akhir tahun pelajaran, jatuh hati sama Si Rodek. Sampai-sampai ia rela hamil di luar nikah. Sampai-sampai ia rela menangis dan menahan sesak dada kala Rodek meninggalkannya. Tapi toh akhirnya, ceritanya ditutup dengan happy ending. Itu baru gaya hidup sekarang. Kau pun harus seperti mereka kalau mau maju”.

”Hussy, belum tentu apa yang digambarkan sinetron itu semuanya benar”, Bapak Ardina selalu menanggapi komentar istrinya dengan nada berseberangan.

Tapi di mata Ardina, ibunya sosok yang selalu dibayangkannya seperti ibu-ibu di sinetron yang suka mendorong anak-anaknya untuk maju. Ibu yang memberlakukannya bak si Bawang Putih,. Bukan bawang merah atau Cinderella. Sedang ayahnya sosok yang kaku. Terlalu berhati-hati. Ardina lebih memilih kata-kata ibunya daripada kalimat-kalimat ayahnya yang pelan dan penuh perhatian.

Sebagai sinetron-lovers, Ardina lambat-laun mulai meniru gaya dan mode hidup para aktris pujaannya. Para aktris itu, menurut ibunya begitu total menampilkan karakter yang dimainkannya, dan panats dijadikan contoh.. Di kamar tidurnya, Ardina tidak lupa memajang gambar-gambar aktor dan aktris pujaannya. Di kamar mandi, sabun dan segala perabotan mandinya, juga sama seperti yang dilihatnya dalam kamar-kamar mandi sinetron. Bahkan gaya bicaranya pun mulai meniru Laura Cintya.

Di tengah teman-temannya, sesama pecinta sinetron, Ardina tidak hanya dielu-elukan atau sekadar dibanding-bandingkan dengan bintang sinetron yang cantik. Tetapi ia selalu hadir sebagai titik pusat di tengah lingkungannya. Ia selalu dikasak-kusukkan sebagai putri yang dikelilingi seribu lelaki.

Ardina selalu membayangkan dirinya diperebutkan. Ia selalu membayangkan indahnya dan romantisnya dijemput dan dibawa berkeliling ke mall oleh si Arman, pangeran pujaan hatinya. Ia selalu membayangkan cerita kesehariannya seperti cerita dalam sinetron yang kini begitu akrab di dalam kamarnya.

Ardina membayangkan tangan Arman seperti tangan Dude Herlino membelai rambut kepala lawan mainnya di sinetron. Seperti Rizky Aditya menjamah tubuh pasangannya, ai bayangkan bibir Arman menapak bibirnya. Ia membayangkan Anjasmaralah yang menindih tubuhnya. Ia membayangkan yang bersemi di rahimnya adalah benih-benih para aktor pujaannya.
***

Malam itu, malam ke duapuluh satu di bulan kelima Ardina menunggu kabar Arman, lelaki yang kini meninggalkan setitik kelu dalam perutnya. Secuil ngilu di antara sendi dadanya. Lelaki yang dulu selalu dibayangkannya membawa setangkup kata-kata penuh sendu, tak kunjung muncul. Mungkin tidak akan pernah muncul.

Malam itu, Ardina mulai mengelus dada yang kini luluh. Memandang langit yang diharapkan mengajaknya untuk mencari tempat teduh. Tempat di mana ceritanya akan menjadi sinetron yang dielu.

Mila, pacar Redo, teman Arman, dengan wajah cemberut dan kata-kata dipenuhi beban, di suatu pagi, saat matahari beranjak setombak. Saat mereka coba membayangkan diri sebagai anak-anak sinetron yang berangkat sekolah. Mengabarkan akan alur picisan yang selalu ditemuinya dalam cerita sinetron.

”Din, Arman kini benar-benar menghilang. Ayah-ibunya dipindah-tugaskan. Tetangganya tidak ada yang tahu alamat mereka. Mereka dipindah-tugaskan ke Surabaya”
”Kok bisa?”
”Bapaknya Arman itu hanya konsultan di sini. Masa kontraknya hanya dua tahun…”
”Terus…”

Mila, sebentar, menarik nafas. Lalu ia memandangi wajah temannya. Dengan berat hati, ia masih membayangkan kepergian Arman sebagai tangga dramatik cerita cinta temannya. Ardina mambalas tatapan temannya. Dengan wajah kuyu, ia meminta pertimbangan. Sejenak mereka terdiam. Lalu derai tawa menyeringai di sudut bibir keduanya. Keduanya coba sama-sama membayangkan: kepergian Arman tak ubahnya kepergian yang dilakonkan dalam sinetron. Kepergian yang karena terpaksa. Kepergian yang tak pernah diinginkannya sendiri. Mereka coba tertawa. Coba menumbuhkan ketengan di hati masing-masing.

Pagi itu, kembali Ardina membayangkan dirinya sebagai tokoh yang tengah ditimpa kesusahan sebelum benar-benar mencicipi manisnya madu. Ardina memastikan dirinya akan tetap tegar menanggung segala derita awal ini.

”Tenang Mil, aku akan tetap tegar kok. Ini kan cuma sebentar. Arman pasti kembali. Cerita sinetron selamanya berangkat dari kenyataan. Berangkat dari rasa pahit dan berakhir manis. Dan ceritaku ini, aku yakin akan seperti cerita sinetron”

”Tapi Din…” pagi itu Mila sebenarnya hendak menepis segala apa yang dikatakan temannya. Mila hendak memastikan hidup bukanlah sinetron. Hidup adalah cerita yang tak bisa direkayasa.

Ya hidup bukanlah kenyataan yang tak bisa direkayasa. Kepergian Arman, bukanlah sekadar cerita yang bisa di-cut di sembarang fragmennya, atau direka ulang potongan peristiwanya. Arman benar-benar pergi jauh. Jauh sekali. Hanya nasiblah yang akan membawanya kembali.
***

Sudah dua tahun Arman raib. Sudah puluhan episode sinetron yang diikuti Ardina untuk memupus kegundahannya. Tapi kesabaran ada batasnya. Ardian tak mungkin menunggu. Hanya menunggu happy ending yang selalu dilihatnya dalam sinetron. Ardina, dengan gaya anakmuda sinetron memutuskan mencari kekasihnya ke kota sana. Dengan gaya anakmuda sinetron, Ardina diam-diam minggat dari rumah. Minggat demi cinta kasih pada Arman. Pada lelaki yang dibayangkannya seperti Dude Herlino.

Berhari-hari Ardina melanglang buana di kota besar. Kota di mana hidup seperti deru laju kendaraan. Di tepi jalan Ardina memasang nama kekasihnya di dadanya: ARMAN, Aku mencarimu! Ia pasang tulisan itu dengan ukuran besar. 40 x 60 cm. Ia berharap, dengan memasang keplek itu, ada orang yang memahaminya.

Tapi kota tetaplah hutan belantara.
***

Berhari-hari Ardina mencari kekasihnya, Arman, di kota. Berhari-hari Ardina menunggu kekasihnya, Arman, di tepi jalan raya.
***

Malam itu, gadis berkebaya biru tua, yang hampir mendekati warna ungu itu hanya menggigit-gigit kuku telunjuknya. Sudah beberapa hari ini, ia tidak peduli dirinya. Beberapa hari ini, ia hanya berharap kekasihnya, Arman, datang menjemputnya. Ia tidak peduli perutnya bernyanyi. Kepalanya berdengung sunyi. Dan matanya berkunang-kunang sepi.

Sedang lalu lalang kota selalu siap menelannya. Melumatnya bersama kelu pedih hatinya.
***

Esok paginya, gadis itu tidak lagi menggit-gigit kuku jari telunjuknya. Esok paginya, tubuhnya tergeletak di halaman depan sebuah koran. Bajunya bersimbah warna merah. Sedang senyumnya tetap memendam pendar penantian. Kota pun geger. Polisi bertindak cepat. Dan semua pihak yang memiliki hubungan dengannya dihadirkan ke studio-studio. Dikorek perasaannya. Ditanya kesannya.

‘Seorang gadis belia mati bunuh diri, dengan menabrakkan diri ke kekendaraan yang melaju di atas kecepetan 100 km/jam. Ia diduga stres karena ditinggal pacarnya. Ia …’ seorang wartawan menulis berita kematiannya dengan nada jurnalisme dramatik, tangga cerita yang memukau.
Sedang aku terinspirasi ceritanya untuk sebuah naskah sinetron tentang sebuah kota.

Lidahwetan, September 2009
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=319809922274