Bekal Penting Bagi Peresensi Buku

Judul Buku : Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis : Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan
Penerbit : Dbuku, Surabaya
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 266 halaman
Harga : Rp 60,000/-
Peresensi : Ahmad Fatoni*

TELAH termuat berbagai model tulisan resensi buku, baik di media cetak maupun elektronik. Apa pun modelnya, seorang peresensi buku bukanlah seseorang yang sedang menawarkan buku supaya buku itu laris manis. Seorang peresensi adalah orang yang sedang menggarap petunjuk singkat kepada publik tentang kandungan buku serta memberikan panduan bagi pembaca apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Karena itu, seorang peresensi yang handal senyatanya memiliki syarat-syarat yang diperlukan sehingga ia akan melakukan banyak hal, antara lain, peresensi perlu mengenal si penulis buku. Dari mana dia berasal, apa spesialisasinya, bagaimana pendekatan penulisannya, produktif atau tidakkah ia. Dengan mengenal sosok sang penulis akan sangat membantu untuk membedah isi otaknya.

Dengan kata lain, resensi buku bukan semata timbangan buku sebagai media promosi, melainkan juga sebuah pengadilan atas buku yang diresensi. Melalui resensi nasib sebuah buku bisa ditentukan takdirnya, cacat atau tiada cela. Itu sebabnya, penulis resensi dituntut bermata ganda: mata seorang pembaca dan pengkritik sekaligus.

Sekadar contoh, resensi yang menjadikan kritik sebagai landasan utama adalah resensi Poeradisastra berjudul “Dari Barat, atau Islam?” atas buku Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan karya Prof. R. Slamet Iman Santoso yang dimuat Tempo edisi 16 September 1978. Nyaris di semua lini buku profesor Universitas Indonesia itu kena gebuk dari segi metode, ideologi pengetahuan, hingga hal-hal teknis seperti kesalahan penulisan data dan sebagainya.

Akibat resensi Poeradisastra tersebut, Prof. Slamet Iman Santoso mengirim surat kepada Proyek Pengadaan Buku Departemen P&K. Sang Profesor mengecam cara kerja panitia pengadaan buku dan meminta agar rekomendasi untuk bukunya itu dicabut saja. Sementara dalam suratnya yang ditujukan ke Poeradisastra, Profesor Slamet menunjukkan kesan menyerah. “Bagi saya jelas, saya tidak mampu memperbaiki kesalahan itu, “ katanya. Singkat cerita, buku itu ditarik sendiri oleh penulisnya dari peredaran dan tak ada pembelaan sama sekali.

Dalam pola penulisannya, resensi buku sebetulnya mengalami kebhinekaan sesuai tingkat pengetahuan si peresensi. Selain model kritik seperti dicontohkan di atas, ada resensi yang hanya memendekkan isi buku menjadi beberapa paragraf. Atau sekadar meminjam informasi buku dan sampulnya untuk ditempelkan di tulisan yang kebetulan memiliki kesamaan tema. Ada pula jenis resensi yang mengulas lebih dari satu buku. Juga ada resensi yang ditulis seperti catatan perjalanan.

Buku Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku ini mengungkap berbagai jenis resensi selain memuat berbagai tips bagi para (calon) penulis yang ingin memasuki dunia resensi buku. Salah satu keunggulan buku ini, penulisnya mampu mengungkap spirit menulis yang bisa lahir dari dalam, bukan dengan melulu mengungkapkan sejumlah teori ataupun kaidah penulisan seperti lazimnya buku-buku sejenis.

Aturan mungkin perlu sebagai landasan saat menulis resensi buku, tetapi jangan biarkan aturan itu malah membuat seorang peresensi ragu-ragu. Satu hal yang sering terjadi yang akhirnya kebanyakan aturan membuat seseorang—terutama peresensi pemula—malah jadi mandek lantaran “ngeri” pada pelbagai teori yang membelenggunya.

Hal lain yang menarik dari buku ini, model-model resensi yang ada disertai berbagai contoh yang diambil dari resensi beberapa pernulis ternama di Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Soerjo, Abdullah SP, Boejong Saleh, Abdul Hadi W.M. hingga Goenawan Mohamad dan Syahrir. Tahapan-tahapan penulisan resensi dari awal persiapan hingga pengiriman ke media tidak luput dari perhatian kedua penulis buku ini. Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan tidak lupa menyisipkan alamat media massa yang memuat kolom “resensi” berikut honorarium masing-masing media sebagai ganjaran bagi peresensi buku.

Buku-buku semacam ini terbilang sukses karena masuk kategori buku how to dan self help (motivasi diri) yang gampang dicerna. Buku jenis ini tergolong laku keras dalam dunia penerbitan buku di Indonesia, kendati sudah banyak terbit buku-buku sejenis dengan nama pengarang yang karya-karya tulisnya tidak termuat di media massa. Terlebih buku di hadapan pembaca ini disusun oleh kedua peresensi yang memang teruji dan sudah kenyang pengalaman di rimba tulis-menulis.

Memang buku ini tidak memuat banyak hal baru, namun tetap menarik untuk dibaca, terutama sewaktu membaca tip-tip praktis pada setiap bahasannya. Kebanyakan buku-buku panduan meresensi buku lebih cenderung teoritis dan menyulitkan. Hal ini sangat boleh jadi menyurutkan nyali para calon penulis yang ingin menceburkan diri dalam arena resensi buku. Cakupan bahasan yang ditampilkan buku ini sangat pas dan cukup inspiratif.

Terlepas dari beberapa kekurangan, buku ini sangat menolong para peresensi pemula, juga menyodok kesadaran para peresensi senior yang kualitas resensinya masih dalam level meringkas isi buku, memuji-muji ala sales, atau cuma menempelkan sampul buku tanpa menyentuh inti kandungannya.

*) Ahmad Fatoni, Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang