Belajar Membedah ‘Mitos’

Judul : Mitologi
Penulis : Roland Barthes
Penerjemah : Nurhadi & A Sihabul Millah
Penerbit : Kreasi Wacana
Cetakan : (Edisi Revisi) Desember 2006
Tebal buku : xiii + 244 halaman
Peresensi : Rizem Aizid *
Media Indonesia, 25 Maret 2007

Roland Barthes pernah mengatakan ‘Apa yang tidak kita katakan dengan lisan, sebenarnya tubuh kita sudah mengatakannya’. Pernyataan itu mengindikasikan signifikansi bahasa simbolik manusia. Dalam kehidupan ini, manusia selain dibekali kemampuan berbahasa juga dibekali kemampuan interpretasi terhadap bahasa itu sendiri. Bahasa, dalam hal ini, tidak hanya terfokus pada bahasa verbal atau bahasa nonverbal manusia, tetapi juga pada bahasa-bahasa simbolik suatu benda (seperti gambar) atau gerakan-gerakan tertentu.

Roland Barthes, pakar semiotika asal Prancis ini, telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk mempelajari semiologi. Secara teoritik, menurutnya, semiologi merupakan ilmu yang mempelajari tanda. Semiologi sebagai cabang ilmu bahasa terbagi dua, yakni semiologi tingkat pertama yang disebutnya dengan linguistik dan semiologi tingkat kedua yang ia sebut ‘mitos’.

Pembagian semiologi dalam dua tingkatan bahasa itu merupakan mahakaryanya selama mengarungi dunia semiologi. ‘Mitos’ bukanlah mitos seperti apa yang kita pahami selama ini. ‘Mitos’ bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, transenden, ahistoris, dan irasional. Anggapan seperti itu, mulai sekarang hendaknya kita kubur.

Pasalnya, ‘mitos’ yang dimaksud Roland Barthes adalah sebuah ilmu tentang tanda.

Untuk lebih memperdalam pengetahuan kita tentang konsep ‘mitos’ ala Barthesian itu, kini telah hadir, untuk kedua kalinya, buku Mitologi karya Roland Barthes yang sempat dua tahun tenggelam dari pasaran. Buku ini menceritakan secara gamblang tentang konsep ‘mitos’ yang selama ini telah menggegerkan dunia. Tidak hanya itu, lewat buku ini, Barthes ingin menunjukkan bahwa semua yang ada di dunia ini, baik itu manusia, benda, maupun gerakan-gerakan alam, ternyata menyimpan sebuah makna penting.

Menurut Barthes, ‘mitos’ adalah type of speech (tipe wicara atau gaya bicara) seseorang. Mitos digunakan orang untuk mengungkapkan sesuatu yang tersimpan dalam dirinya. Orang mungkin tidak sadar ketika segala kebiasaan dan tindakannya ternyata dapat dibaca orang lain. Dengan menggunakan analisis mitos itu, kita dapat mengetahui makna-makna yang tersimpan dalam sebuah bahasa atau benda (gambar).

Dalam semiologi terdapat tiga tahapan penting pembentuk makna, yaitu penanda, pertanda, dan tanda. Penanda merupakan subyek, pertanda ialah obyek, dan tanda merupakan hasil perpaduan keduanya. Dalam semiotika tingkat pertama (linguistik), penanda diganti dengan sebutan makna, pertanda sebagai konsep, dan tanda tetap disebut tanda. Sedangkan dalam ‘mitos’ (semiotika tingkat kedua), penanda dianggap bentuk, pertanda tetap sebagai konsep, dan tanda diganti dengan penandaan. Proses simbolisasi seperti itu bertujuan mempermudah kita dalam membedakan antara linguistik dan mitos dalam semiologi.

Salah satu contoh ‘mitos’ yang diangkat Barthes dalam buku ini ialah permainan gulat. ‘Mitos’ gulat, menurut Barthes, merupakan sebuah bentuk profesionalisme dan keadilan sebuah permainan. Mungkin kita sering menonton pertunjukan gulat. Seperti realitasnya, gulat merupakan sebuah permainan rekayasa yang menghibur penonton dengan sajian kekerasan. Biasanya, seorang penonton akan puas dengan ajang balas dendam dalam gulat tersebut. Contoh, ketika si A, misalnya, dipukul dan tidak membalas, penonton akan mencemoohnya. ‘Mitos’ gulat merupakan profesionalisme dan keadilan. Hal itu ditunjukkan ketika salah satu lawan menyerah dan tidak berdaya, secara otomatis, sang pemenang akan menghentikan pukulan atau kuncian tangan dan kakinya karena melihat sang lawan sudah tidak berdaya dan mengaku kalah. Di situlah ‘mitos’ gulat itu terungkap.

Selama ini, banyak orang yang tidak menyadari signifikansi semiotika dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, dalam interaksi sosial banyak sekali makna-makna yang belum terungkap. Mulai dari bahasa manusia (verbal dan nonverbal), benda (gambar), hingga gerakan-gerakan alam. Mitos dalam hal ini menjadi medium untuk membedah makna-makna tersebut. Selain sebagai ilmu, mitos juga dapat digunakan sebagai cara pandang atau paradigma dalam menganalisa suatu peristiwa. Inilah kelebihan dari teori ‘mitos’ Barthesian.

Mempelajari makna-makna simbolik, baik pada manusia maupun benda, merupakan hal yang sangat menarik. Karena banyak orang yang belum bisa menguraikan makna dengan sempurna dalam simbol-simbol kehidupan. Buku ini merupakan salah satu penuntun yang akan mengantarkan kita untuk membedah berbagai makna dalam kehidupan ini.

Buku ini merupakan karya terpenting Roland Barthes tentang konsep mitologinya. Bahasa lugas, puitis, ringan, dan sederhana menjadi ciri khas sosok semiotikus Roland Barthes. Bahasan-bahasan yang diangkat Barthes dalam buku ini merupakan hasil aplikasi semiologi dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tulisan yang sangat berharga bagi dunia semiologi. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca siapa pun khususnya mahasiswa. Akhirnya, hidup di dunia ini tidak hanya berwarna satu, tetapi banyak warna yang harus kita bedah dan tafsiri. Semoga dengan hadirnya mitologi Roland Barthes di tengah-tengah kita, mampu menambah wawasan kita dalam mengurai sekian makna yang belum terungkap. Selamat membaca!
______________
*) Rizem Aizid, Alumnus PP Annuqayah Latee Guluk-Guluk, Sumenep, Madura
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/buku-belajar-membedah-mitos.html