Catatan Akhir Tahun: Menuju Indonesia.com

Bre Redana
Kompas, 26 Des 2010

BANYAK orang tidak percaya lagi kepada pemerintah. Apakah dengan demikian artinya pesimistis? Tidak. Negara, termasuk Indonesia, menuju ke suatu domain baru, berikut berbagai kemungkinan baru, yang lebih kurang bisa didefinisikan sebagai Indonesia.com.

Tahun 1960-an tidak hanya ditandai oleh counter culture dan ”zaman baru” alias new age. Bersamaan The Beatles menginvasi Amerika pada tahun 1964, Marshall McLuhan menerbitkan bukunya yang kini menjadi semacam relika kebudayaan: Understanding Media: The Extensions of Man. Di situ dikenal bahkan oleh yang tak pernah membaca buku McLuhan sekalipun serasa pernah membaca dan tahu frasa ini: the medium is the message. Medium itu sendirilah pesannya, bukan isi yang dikandung medium tersebut. Setiap medium baru, begitu menurut McLuhan, mengubah kita.

Waktu itu belum zaman internet. McLuhan menunjuk media elektrik abad ke-20 seperti telepon, radio, sinema, dan televisi. Teknologi-teknologi itu, kata McLuhan, menghancurkan tirani teks pada otak dan saraf kita. Ia ingin menyadarkan orang akan pergeseran yang dibawa teknologi-teknologi tadi terhadap teknologi sebelumnya, yakni teknologi Gutenberg alias mesin cetak.

Ihwal mesin cetak ini yang diteorikan oleh Benedict Anderson punya sumbangan dalam membentuk negara bangsa. Kapitalisme cetak, menurut Anderson, membikin kelompok-kelompok yang tidak pernah bertemu muka secara langsung mulai berpikir bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia, India, Malaysia, dan seterusnya. Itu yang disebut Anderson sebagai imagined communities, ihwal lahirnya negara bangsa.

Dengan perkembangan teknologi informasi sekarang, bagaimana konsepsi negara bangsa itu ada pada diri seseorang? Adakah pergeseran? Jelas kapitalisme elektronik memiliki efek serupa, bahkan lebih kuat, tidak sebatas level negara bangsa. Pengalaman kolektif yang dibawa teknologi informasi memiliki efek transnasional, menembus batas-batas negara bangsa.

Ini sudah terbukti, bagaimana individu dari suatu negara bisa meluber karismanya ke mana-mana, melebihi negara individu yang bersangkutan. Contoh yang mudah diingat adalah Presiden AS Barack Obama. Masyarakat dari berbagai penjuru dunia memandangnya takjub. Dalam kunjungan singkat ke Indonesia beberapa waktu lalu, ia mengobarkan sesuatu yang telah lama redup pada bangsa ini, yakni semangat patriotisme dan nasionalisme. Orang boleh sinis menyebut dia semata-mata cakap bicara, tetapi nyatanya banyak yang tergerak nasionalismenya oleh pidato Obama. Kelebihan dan kedodorannya seorang pemimpin tak bisa lagi ditutup-tutupi pada zaman di mana informasi sangat terbuka seperti sekarang. Tidak zamannya lagi wong bodo ngaku pinter, orang lambat ngaku cekatan.

Platform baru

Mencoba membandingkan persepsi hidup berbangsa pada zaman negara bangsa seperti didefinisikan Anderson dan meledaknya serta makin personalnya teknologi informasi sekarang dengan iPhone dan BlackBerry, kira-kira bagaimana perbedaan bentuk dan dinamikanya. Tentang konsepsi negara bangsa yang dulu dibentuk oleh teks, bagaimana kalau kita pinjam istilah Geertz bahwa negara bangsa yang terbentuk oleh teks ini kita sebut bersifat ”skripturalistik”?

Sebagaimana sifat skripturalistiknya seperti dipakai Geertz ketika mendeskripsikan gerakan pemurnian Islam di Jawa pada akhir abad ke-19/awal abad ke-20, konsepsi negara bangsa yang ini sifatnya kaku. Dia pun dalam beberapa hal merupakan bagian dari politik identitas untuk melawan kolonialisme Barat.

Berbeda dari konsepsi kebersamaan yang dibentuk oleh teks dan oleh karena itu bersifat skripturalistik, dalam jejaring sosial lewat internet sekarang kesadaran itu dibentuk oleh visualisasi dunia maya. Visualisasi dunia maya, selain menghadirkan citra, tanda, gambar, menghadirkan pula teks. Hanya saja, pembacaan teks pada dunia internet sifatnya tidak linier seperti orang membaca buku atau koran. Melainkan, dalam istilah para penggagas studi-studi kebudayaan visual disebut bersifat hiper-teks. Teks itu berlapis-lapis, seperti dimungkinkan oleh teknologinya.

Penelitian-penelitian pada ranah itu membuktikan, masyarakat dari kebudayaan visual lebih dangkal daripada masyarakat yang dibesarkan oleh teks cetakan. Pembacaan lewat hiper-teks ternyata juga lebih lemah komprehensinya dibandingkan dengan pembacaan linier lewat teks cetak. Gejala pendangkalan bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari kita kini.

Sekadar mencoba memolakan, masyarakat pada era ini dibandingkan dengan era sebelumnya, selain lebih dangkal, juga lebih longgar, sebagai kebalikan dari formal. Identifikasi berikut merupakan pola-pola yang merupakan kebalikan dari pola-pola sebelumnya. Masyarakat sekarang lebih terbuka/transparan; egaliter; spontan; cepat; muda; dan seterusnya. Mereka itulah bagian dari Indonesia.com.

Dengan kekurangan dan kelebihannya, inilah masyarakat yang harus diantisipasi perkembangannya. Dalam hal ini, kelihatan kedodorannya institusi-institusi mapan, termasuk pemerintah untuk menangkap dinamika mereka. Ironi telah sering muncul. Pada saat krisis seperti tatkala terjadi bencana, pemerintah masih rapat, individu-individu masyarakat telah bergerak memberdayakan diri sendiri melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Bersama kami bisa: tanpa perlu pemerintah. Ketika tenaga kerja Indonesia telantar di bandara internasional, para anggota DPR bersikap tidak tahu karena terbiasa dengan birokrasi. Pada saat itu masyarakat biasa turun tangan membantu mereka.

Spontanitas masyarakat itu bukan hasil rekayasa sosial secara besar-besaran oleh pemerintah, elite teknokrat, melainkan sebagai produk praktik kultural sehari-hari. Dari situlah terjadi transformasi sosial disebabkan meruyaknya teknologi baru sekarang. Kembali mengutip McLuhan, the medium is the message.

Segera, perubahan akan makin nyata ketika media menggulirkan platform baru: multimedia, multiplatform, multichannel.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/12/catatan-akhir-tahun-menuju-indonesiacom.html