Cerpen KR (Kedaulatan Rakyat) Minggu; Memotret Anomalia dan Melankolia Zaman

Dr Suwardi Endraswara
http://www.kr.co.id/

Kalau saya baca cerpen di Kedaulatan Rakyat Minggu (KRM), dari Januari-Agustus 2011, ada dua percikan erosi zaman. Pertama, anomalia zaman, adalah ketika cerpenis sedang gelisah memotret keganjilan suasana. Sebut saja, sudah jadi pejabat tinggi kok korup, hobi masuk penjara, itulah lensa zaman ganjil. Paradoksal. Kedua, melankolia zaman, terjadi ketika cerpenis ingin menyikapi suasana egois, sensitif dan reaksioner. Dua zaman itu terus melilit bangsa ini, hingga lahir cerpen sebagai lisan zaman rewel, sebab adanya inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan.

Cerpen anomalia dan melankolia tersebut, saya golongkan sebagai ‘the latah’ (istilah Siegel). Maksudnya, cerpen itu sedang menertawakan, mencemooh dan membenci zaman. Dengan gaya sedikit kitch, cerpenis seperti ahli pidato, sedang ingin memberi wejangan pada fragmentasi zaman bobrok. Sebut saja cerpen Sang Pendusta karya Jusuf AN (KRM, 7/8/ 2011) mengisahkan tokoh pengemis. Dengan santun, cerpen ini memotret realitas Ramadan dan Lebaran, dikaitkan dengan kemiskinan.

Biarpun cerpenis cukup mengalir dalam melayangkan gagasan, cerpen ini masih tergolong sebagai realisme naratif. Yakni, sekadar kisah yang dibumbui sebuah mitos kemiskinan dan sedikit aroma religi dramatis. Kehebatan cerpen tersebut, kalau saya mengikuti gagasan Albertine Minderop, tampaknya ingin menggabungkan persoalan kecemasan hidup (anxitas) ala Freud dengan fakta sosial intuitif.

Kalau cerpen itu saya bandingkan dengan cerpen lain, mirip sekali dengan karya Hawa Arofah berjudul Taubat (KRM, 31/7/2011) mengisahkan pertaubatan pribadi tokoh Suntono. Cerpen ini, cenderung memproyeksikan batin yang diramu dengan gejolak politik underdog bangsa ini. Yakni, politik yang dalam istilah Gramsci tergilas oleh hegemoni kotor. Saya membenarkan gagasan cerpenis yang begitu tangguh membaca realitas khayali, yaitu bangsa yang terhegemoni oleh kebejatan moral. Moral kepemimpinan yang tiba-tiba berubah sontak ke arah korupsi sistemik. Lewat tokoh Suntono (seorang preman), cerpenis ingin melakukan autokritik estetis, misalkan dengan ungkapan: Mereka memang ikut memilih presiden, gubernur dan bupati yang sekarang sedang diisukan terlibat banyak sekandal korupsi. Cerpen ini, saya kira memang tergolong sastra politik.

Itulah pendangkalan moral kolektif yang tergilas oleh urusan ekonomi, alias ihwal perut. Saya harus mengiyakan kalau Aguk Irawan MN (KRM, 23/1/2011) menyiratkan ihwal sastra, kebohongan dan korupsi. Kasus Gayus, Nunun, Nazaruddin dan lain-lain yang meludahi nurani bangsa ini, telah menyeret para cerpenis. Cerpen memang fakta estetis, untuk mengkritisi zaman.

Saya masih ingat kata Seno Gumira Adjidarma dalam seminar HISKI di FBS UNY, kalau bangsa ini bengkok, sastra yang meluruskan. Ide semacam ini, juga muncul cemerlang dalam cerpen Titisan karya Indra Tranggono (KRM, 26/6/ 2011), menjadi saksi estetis tentang moving zaman. Zaman gerah. Cerpen ini berkilah masalah korupsi dengan manawarkan realitas social hero. Lepas dari tokoh Traju itu terbukti korupsi atau tidak, jelas pembaca harus memaknai konteks ‘titisan pejuang’. Moralitas yang hendak ditanamkan pada pembaca, saya kira kata-kata ibu kepada anaknya, Traju: Traju, kamu bisa berbohong kepada polisi, jaksa, hakim, wartawan dan siapa saja, namun kuharap kamu tetap jujur kepadaku. Nah, saya jadi ingat ungkapan Leo Lowenthal, sosiolog sastra terkemuka, yang bergumam sastra itu sebuah proyeksi kehidupan manusia. Proyeksi imajinatif. Yang diproyeksikan, biasanya masalah dunia mungkin.

Jarak Estetis

Cerpen tersebut, tidak jauh berbeda dengan cerpen berjudul Wakil Rakyat karya Asmadji As Muchtar (KRM, 6/2/2011). Cerpen ini jelas menyajikan anomalia dan melankolia zaman. Yakni, kisah pejabat (DPR) yang tersandung kerikil kekuasaan. Memang ada kesan terlalu telanjang, dalam memainkan kreativitas sosial. Terlebih kalau keduanya saya sejajarkan de- ngan cerpen Rumah di Ujung Kampung karya Maghfur Saan (KRM, 3/7/2011), ada jarak estetis yang jauh. Cerpen ini, saya kira jauh lebih kuat memainkan imajinasi. Masalah suap dan korupsi, tetap menjadi sorotan cerpenis. Namun, cerpen yang menokohkan Pak Terang dan Bu Bening ini, cukup menggigit dalam mengolah kebenaran fantastik. Ia tetap mendaratkan ide anomalia dan melankolia zaman yang haus keserakahan.

Cerpen-cerpen di atas, saya kira masih bergerak pada dunia realitas. Cerpenis belum mencoba melongok ke jagat the other world, dunia lain (invisible). Berbeda dengan daya fantastis Abidah ElKhalieqy dalam cerpen berjudul World Fauna Club (KRM, 10/7/2011), Petruk Jadi Penguasa karya Eko Hartono (KRM, 10/4/2011) dan Ki Dalang karya Sri Wintala Achmad (KRM, 8/5/2011). Ketiga cerpen ini, saya pikir lebih menggarap anomalia dan melankolia zaman dengan gaya hiperrealitas. Cerpenis lebih merdeka (blusukan) menciptakan ‘dunia baru’ yang lebih tepat untuk mengkritisi residu zaman ini.

Ketiga cerpen tersebut, lebih manis melakukan resistensi zaman yang gila ke arah mitos korupsi. Korupsi adalah jagat mitos, yang layak dipandang dari sisi hiperrealitas. Ketiga cerpen itu, layak dibaca dengan pemahaman interteks dan interkode. Orang yang telah paham cerpen, tidak mungkin membaca cerpen Abidah tersebut sebagai dongeng hewan, sekelas kisah kancil dan singa. Bukan. Dia boleh dibaca bahwa kita sedang risau terhadap residu zaman koruptor yang lari ke Singapura. Ilustrasi cerpen dengan seekor singa galak, dipadu dengan tokoh Merpati yang migrasi ke negeri lain. Siapakah Merpati dan Singa yang dimaksud, silakan saja. Cerpen ini, mengundang tafsir unfinality (poly-interpretable).

Cerpen yang mengisahkan Petruk, tampaknya memang tidak lepas dari lakon wayang Petruk Dadi Ratu. Lakon ini, menurut Denys Lombard, termasuk kisah unik. Ada kesan aji mumpung di dalamnya. Sayang sekali, penggarapan cerpen ini tidak dibumbui sebuah kreativitas (sanggit) dengan memainkan realitas dan relasitas yang matang. Kalau saya harus terus terang, cerpen Ki Dalang sesungguhnya jauh lebih unik membahasakan realitas. Cerpen terakhir ini, sebenarnya juga menjadi lensa residu anomalia dan melankolia zaman, tetapi digarap lebih absurd, penuh sensasi. Mungkin, ini yang akan menjadi cerpen avant garde. Cerpen masa depan.

*) Dr Suwardi Endraswara, Ketua Rumpun Sastra FBS-UNY.
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=246988&actmenu=54