Dari Bedah Serat Bimasuci

Teropong Laku Batin Orang Jawa
Saroni Asikin
http://www.suaramerdeka.com/

Wuwusira Dewa Suksma Ruci,/payo Wrekudhara dipun enggal,/manjinga garbengong kene,/Wrekudhara gumuyu,/pan angguguk turira aris,/ dene paduka bajang,/kawula geng luhur,/inggih pangawak parbata,/saking pundi margine kawula manjing,/jenthik mangsa sedhenga./

(Dewa Ruci berkata, ”Ayo Werkudara, cepatlah! Masuklah ke dalam garbaku!” Werkudara tertawa, tawa yang terguguk lalu berujar lembut, ”Tapi Paduka itu bajang (bertubuh kecil-Red), sedangkan saya bertubuh tinggi-besar bagai gunung. Dari jalan manakah saya harus masuk, sementara jari pun musykil rasanya.”)

Itu petikan percakapan Dewa Ruci dengan Bima yang ditulis dalam Serat Cabolek karya R Ng Yasadipura I. Petikan kisah keragu-raguan Bima atau Werkudara ketika berhadapan dengan Dewa Ruci saat panenggak Pandawa itu ingin berguru kepadanya.

Dalam perkembangannya, kisah itu telah banyak diinterpretasikan baik dalam literatur maupun pertunjukan wayang. Beberapa versi penamaan pun muncul, antara lain Bimasuci dan Nawaruci.

Proses penginterpretasian serat itu juga yang terjadi pada Kamis (29/8) malam di Dalem Padmasusastran Solo. Sebuah sarasehan yang khusus membedah Serat Bimasuci digelar dengan disertai sebuah pertunjukan wayang pakeliran padat berlakon Dewa Ruci.

Prof Dr Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, hadir sebagai pemakalah dengan moderator pemerhati masalah kejawen MH Zaelani Tammaka.

Kajian Soetarno bersandar pada pendekatan filosofis yang mencakup beberapa aspek. Yaitu metafisis, antropologis, etis/estetis, dan epistemologis. Yang menarik, untuk mendukung gagasan dia memaparkan peradegan pada kisah dalam serat itu.

Mistikisme Jawa

Lebih menarik lagi ketika dia mengungkapkan kisah Bimasuci sebagai ungkapan mistikisme Jawa.

”Perjalanan Bima demi mencapai kemanunggalan dengan khaliknya, dia lalui pada tahapan umum di dalam mistik Jawa. Dengan kata lain, Serat Bimasuci layaknya teropong laku batin orang Jawa.”

Dia lalu menyebut tahapan mistik mencakup sarengat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Dia kemudian memaparkan keempat tahapan itu pada kisah dalam karya sastra Jawa itu.

”Perjalanan Bima sebelum dan saat berhadapan hingga masuk ke tubuh Dewa Ruci dengan jelas mengandung keempat tahap itu. Manunggaling kawula gusti yang terjadi antarkeduanya boleh disebut tahapan makrifat.”

Dalam diskusi, gagasan yang dipaparkan Soetarno berkembang luas. Bambang Indiarto dari Fakultas Sastra UNS menyebut Serat Dewa Ruci itu asli teks Jawa tanpa pengaruh unsur lain. Interpretasi yang berkembang dari serat itu pun beragam. Dia menyebut Suluk Syekh Maloyo yang ditengarai karangan Sunan Kalijaga sebagai varian serat dimaksud.

Lain lagi pendapat Sumanto, pencinta serat kuno asal Gompang, Kartasura.

”Tak perlu diperdebatkan teks itu asli Jawa atau tidak. Sebab, isi serat itu hampir sama dengan Serat Kamahayanikan yang merupakan ajaran Buddhis. Yang pasti ada pendapat yang mengungkapkan, Dewa Ruci itu ekspresi pengalaman batin seseorang. Bukankah perjalanan batin seseorang berbeda-beda?”

Menanggapi hal itu, Soetarno hanya berujar, ”Perbedaan interpretasi sangat mungkin terjadi. Itu bisa dilihat pada pertunjukan wayang yang menggelar lakon itu. Interpretasi tiap-tiap dalang beragam. Itulah yang menarik dari serat tersebut, juga banyak serat lain. Karena itu, sarasehan seperti ini sangat penting diselenggarakan untuk mempertemukan berbagai interpretasi.”

31 Agustus 2002