Fedyani, Antropologi Kemiskinan

Mulyawan Karim
Kompas, 05 Feb 2007

ACHMAD Fedyani Saifuddin, pada 24 Januari lalu, dikukuhkan sebagai guru besar tetap antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Padahal, waktu masih duduk di bangku SMA di Banjarmasin, ia sempat mengira antropologi itu ilmu sejenis biologi.

“Waktu di SMA, saya kan murid kelas IPA. Saya suka pelajaran biologi. Karena itu, saya memilih kuliah antropologi. Saya kira itu ilmu tentang aspek fisik manusia, seperti biologi. Ternyata, antropologi lebih banyak mengkaji kebudayaan,” ungkap Achmad Fedyani Saifuddin, menjelang upacara pengukuhannya.

“Tapi saya tak menyesal. Antropologi juga kan mempelajari evolusi manusia,” ia mengenang masa awal menjadi mahasiswa jurusan Antropologi, sekitar 30 tahun silam. Waktu itu, di Universitas Indonesia (UI) Jurusan Antropologi berada di Fakultas Sastra, sebelum dipindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada tahun 1983.

Menyesal atau tidak, nyatanya, Fedyani serius belajar ilmu kebudayaan itu. Sejak mahasiswa S-1, ia sudah menunjukkan prestasi akademik di atas rata-rata. Di antara teman-teman seangkatan, Fedyani kerap menjadi tempat bertanya.

Tak heran jika pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 27 Juni 1952 ini segera mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi setelah ia menyelesaikan program S-1, 1982. Gelar master diraih pada tahun 1985 di University of Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, tempat ia juga meraih gelar doktor (PhD) pada 1992.

Sejak mulai mengajar pada 1984, Fedyani dikenal sebagai dosen yang tak banyak bicara di luar ruang kuliah. Sebagai pengajar, Fedyani telah membimbing dan meluluskan 57 master antropologi. Ia juga menjadi promotor atau ko-promotor dari lima doktor antropologi, antara tahun 2005 dan 2006, hal yang membuatnya meraih gelar Pengajar FISIP-UI Terproduktif 2005/2006.

Fedyani juga produktif sebagai peneliti dan penulis. Tak kurang dari delapan buku karya asli dan tujuh terjemahan sudah ia hasilkan. Suami dari Agustina Sayuti dan ayah Kartina Widyani (21), Ameria Eviany (20), dan Fikri Rhamdani (9) ini juga menulis berbagai artikel yang dimuat di berbagai jurnal ilmiah dalam dan luar negeri.

Realitas di balik angka

Lewat pidato pengukuhan berjudul Kemiskinan di Indonesia: Realita di Balik Angka, Fedyani berbicara soal kemiskinan yang merupakan sumber segala permasalahan yang dihadapi Indonesia. Menurut dia, kemiskinanlah yang menghambat pelaksanaan berbagai kebijakan dan program pemerintah, sejak program peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, sampai program pengembangan demokrasi.

Meski kajian mengenai kemiskinan sudah banyak dilakukan, namun sebagian besar hanya berorientasi pada angka-angka. Fedyani menawarkan dilakukannya kajian-kajian kemiskinan yang lebih memerhatikan aspek sosial budaya. “Aspek ini secara langsung menyangkut manusia berikut pengetahuan, nilai-nilai, serta keyakinan-keyakinannya,” katanya.

Menurut Survei Sosial Nasional (Susenas), penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2006 berjumlah 39,05 juta jiwa. Mengingat bahwa pada setahun sebelumnya, yakni Februari 2005, penduduk miskin berjumlah 35,10 juta, maka artinya telah terjadi penambahan penduduk miskin sebanyak 3,95 juta jiwa.

Besar-kecilnya jumlah rakyat miskin sangat dipengaruhi oleh apa yang disebut Garis Kemiskinan (GK). Siapa yang disebut orang miskin adalah mereka yang memiliki pengeluaran per kapita per bulan di bawah GK.

Susenas 2006 mencatat, GK (Rp/kapita/per bulan) pada Februari 2005 adalah Rp 129.108, angka yang kemudian bergeser menjadi Rp 152.847 pada Maret 2006. Dari sinilah disimpulkan bahwa jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 juta ( 15,97 persen) menjadi 39,05 juta atau 17,75 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

“Kalau angka-angka ini kita refleksikan pada Proyek Pembangunan Milenium PBB 2005, sulit bagi kita untuk menggapai tujuan global itu, yang menargetkan pengurangan jumlah warga miskin dunia sampai separuh pada tahun 2015 yang tinggal delapan tahun lagi,” kata Fedyani.

Di bagian lain pidatonya, Fedyani menyatakan, pendekatan antropologi sosial-budaya dapat memainkan peran penting dalam menjelaskan dan memberi pemahaman tentang masyarakat miskin serta proses yang terjadi di sana dari hari ke hari. Seperti warga masyarakat yang tak miskin, warga miskin, menurut Fedyani, juga adalah subyek yang berpikir dan mampu bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Menurut Fedyani, dalam menghadapi kondisi sosial-ekonomi yang buruk, warga miskin menggunakan dan mengembangkan berbagai strategi, kiat, dan teknik agar dapat bertahan atau bahkan keluar dari kondisi kemiskinan.

Karena kemiskinan merupakan masalah sentral di negeri ini, Fedyani menyerukan agar antropologi dan ilmu-ilmu sosial lain menjadikan kemiskinan sebagai titik pusat perhatian. Antropologi, katanya, harus mampu memberikan kontribusi dalam mengkaji dan menjelaskan proses kemiskinan dan pemiskinan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/02/sosok-fedyani-antropologi-kemiskinan.html