Sartika Dian Nuraini
http://www.majalahbasis.com/
Negara itu manis di bibir, tapi pahit di kenyataan. Sungguh tak terbayangkan, betapa tega Negara melakukan pemangkasan dana subsidi pada PDS HB Jassin hingga menderita sakit dan miskin.
Pengabaian ini menyebabkan dokumentasi sastra di ambang kebangkrutan. Penguasa tidak mampu atau bahkan cuek membaca sejarah dan etos sastra yang telah ditunjukkan oleh HB Jassin selama puluhan tahun. Jangan-jangan, negara itu ada cuma mau urusan-urusan pragmatis. Buku, sastra, dan perpustakaan mungkin tak dianggap punya arti. Padahal tradisi buku atau literasi adalah pondasi peradaban bangsa yang ingin punya harga diri dan sadar perubahan zaman.
Kasus PDS HB Jassin masih terkatung-katung, masih ditangguhkan di ambang pintu. Sungguh menjengahkan, negara tak juga tersentak oleh protes keras berbagai pihak agar negara segera memberi subsidi dan kebijakan strategis. Kita jadi mengerti, mentalitas penguasa tidak bersumber dari nilai-nilai keindahan, kemanusiaan, etika, dan religiositas yang terkandung dalam karya sastra.
Negara tampak ingin merampungkan perjalanan sejarah dokumentasi sastra, dokumentasi peradaban kita. Daftar kekecewaan kita bertambah sebab usaha pembentukan masyarakat melek sastra dirongrong oleh mentalitas kekuasaan yang pragmatis. Apakah negara menganggap perpustakaan dan pusat dokumentasi sebagai benalu yang mengganggu dan menguras uang negara? Padahal, kemajuan atau kemusnahan peradaban boleh jadi ditentukan oleh kemampuan mengelola perpustakaan, rumah pengetahuan di mana buah pikir ditelurkan dan disebarluaskan. Perpustakaanlah situs peradaban yang menyelamatkan dan mengembangkan banyak gagasan pada gerak zaman yang terus berubah. Kita perlu sadar untuk menolak alergi terhadap sejarah buku, sejarah perpustakaan, maupun sejarah gagasan.
Kasus PDS HB Jassin haruslah menjadi sentilan keras agar kita memiliki otoritas dan kemauan merawatnya layaknya kita merawat tubuh, rumah, dan keluarga sendiri. Karena sesungguhnya, dengan itu kita merawat harga diri kemanusiaan dan peradaban kita sendiri.
Dari HB Jassin yang santun, sederhana, dan kalem kita belajar tentang ketekunan, dedikasi, dan etos demi bangsa. Dengan kerja ia menolak tirani sejarah yang mematikan atau memasung sastra. Dami N Toda (2001) menyebut HB Jassin sebagai warisan jati diri terpenting untuk kebudayaan di Indonesia, sehingga tak terbayangkan bobot harga definitifnya.
Sebagai ahli sastra, “Paus Sastra Indonesia”, HB Jassin menjaring data-data sastra Indonesia untuk dikliping, diarsipkan, dan dipinjamkan demi kepentingan publik. Inilah kerja keras yang memerlukan energi, dana, dan perhatian besar. Keikhlasannya dibangun tanpa pamrih, semata-mata demi kepentingan sastra, demi harga diri bangsa Indonesia. Sikap negara yang abai terhadap perpustakaan adalah gambaran tragedi kebisuan peradaban dan buta sastra yang menampilkan lalai diri.
Sekarang, beberapa pihak mulai bertindak untuk membantu dan menyelamatkan PDS HB Jassin. Janji pemerintah, sokongan masyarakat, dan keterlibatan sastrawan tentu agak memberi kelegaan. Semoga bukan hanya pemanis bibir. Koleksi di PDS HB Jassin mestinya kita sadari sebagai harta karun, bukan benda-benda yang dibiarkan lapuk, rusak, hancur, maupun musnah. Dana operasional diperlukan, perawatan dan pengolahan koleksi membutuhkan profesionalitas, serta semangat memanfaatkannya adalah usaha-usaha mendasar agar PDS HB Jassin tidak menjadi kuburan sejarah sastra, kuburan buku-buku yang bisu, maupun kenangan yang segera usang.
_______________________
*) Sartika Dian Nuraini, Santri di Pengajian Senin dan Bale Sastra Kecapi (Solo).
Sumber: http://www.majalahbasis.com/index.php/article/detail/127
