Humanisme Mahmoud Darwish

Cecep Syamsul Hari*
Pikiran Rakyat, 13 Sep 2008

DALAM pidato penerimaan Prince Claus Awards (2004), Mahmoud Darwish, penyair nasional Palestina, berkata: “Seseorang hanya dapat dilahirkan di satu tempat. Namun demikian, ia bisa saja mati berkali-kali di tempat lain: di pengasingan dan penjara, dan bahkan di negeri kelahiran yang telah diubah menjadi mimpi buruk oleh penjajahan dan penindasan. Puisi mengajarkan kepada kita untuk memelihara ilusi penuh pesona itu: bagaimana melahirkan diri kita sendiri berkali-kali dan menggunakan kata-kata untuk membangun dunia yang lebih baik, sebuah dunia bersifat fiksi yang memungkinkan kita menandatangani suatu perjanjian perdamaian yang langgeng dan menyeluruh dengan kehidupan.”

Pemikiran atau mungkin harapan tentang “perdamaian yang langgeng dan menyeluruh dengan kehidupan” itu telah menjadi nafas pencarian sajak-sajak Mahmoud Darwish sejak awal. Di masa kanak-kanaknya, Darwish menulis sebuah puisi yang ditujukan kepada seorang anak Israel. Puisi itu adalah tugas sekolah untuk merayakan “hari jadi” negeri zionisme Israel. Bertahun-tahun kemudian Darwish sendiri, menurut penuturan Peter Clarck dalam The Guardian edisi 11 Agustus 2008, mengatakan bahwa ia lupa sajak itu tetapi masih dengan jelas mengingat ide dasarnya, “Kau bebas bermain di bawah cahaya matahari, tapi aku tidak; kau punya banyak boneka, tapi aku tidak; kau punya rumah, tapi aku tidak; kau punya banyak hari perayaan, tapi aku tidak. Mengapa kita tidak boleh bermain bersama?”

Masih jelas dalam kenangan Mahmoud Darwish, gara-gara menulis puisi itu ia dipaksa menghadap gubernur militer yang mengancamnya seperti ini, “Jika kau menulis puisi-puisi seperti itu lagi, akan aku pecat ayahmu.”

Mahmoud Darwish tetap menulis “puisi-puisi seperti itu” hingga akhir hayatnya. Ia memproklamasikan dirinya sebagai seorang humanis. Ia menulis puisi-puisi yang didasarkan pada penghormatan total dan penghayatan mendalam terhadap kemanusiaan. Ia, seperti dikutip Maya Jaggi dalam The Guardian edisi 8 Juni 2002, berkata, “Aku akan terus memanusiawikan bahkan musuhku sendiri..Guru pertamaku yang mengajari bahasa Hebrew adalah orang Yahudi. Cinta pertamaku adalah seorang gadis Yahudi. Jaksa yang pertama kali mengirimku ke penjara adalah seorang perempuan Yahudi. Jadi sejak awal, aku tidak melihat orang-orang Yahudi sebagai iblis atau malaikat melainkan sebagai manusia.”

**

MENGENANG Mahmoud Darwish yang meninggal dalam usia 67 tahun, 9 Agustus 2008, tiga hari setelah operasi bedah jantung di Memorial Hermann Hospital, Houston, Texas, tak lain tak bukan mengenang nasib bangsa Palestina. Bagi Darwish, Palestina, sebagaimana bagi saudara-saudara sebangsanya, bukan lagi sebuah negeri atau komunitas yang dibayangkan melainkan sebuah ruh yang mengalir di dalam tubuh dan menjadi elan vital bagi tubuh itu untuk bertahan di bawah kezaliman zionisme Israel.

Ada sebuah puisi Mahmoud Darwish yang tidak pernah bisa hilang dari ingatan saya sejak saya menerjemahkannya beberapa tahun silam. Puisi itu berjudul I Have Witnessed the Massacre, pertama kali dipublikasikan di Beirut 1977 dalam bahasa Arab dan edisi Inggrisnya muncul pertama kali dalam Modern Poetry of the Arab World (1986: 129) yang dieditori Abdullah al-Udhari. Puisi itu dengan terang melukiskan metamorfosis jiwa Mahmoud Darwish dari seorang saksi menjadi seorang korban yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang yang melawan. Namun demikian, pada bagian akhir sajak itu dengan simbolisme yang halus, ia memperlihatkan optimismenya yang subtil bahwa pada suatu ketika harapannya tentang “perdamaian yang langgeng dan menyeluruh dengan kehidupan” itu akan tumbuh dan mekar di bumi Palestina:

Aku menjadi saksi pembantaian
Aku seorang korban dari peta buatan
Aku anak lelaki dari kata-kata tanpa hiasan
Aku melihat koral beterbangan
Aku melihat embun berubah jadi bom berjatuhan
Ketika mereka menutup pintu-pintu hatiku
Memasang barikade dan menetapkan jam malam
Hatiku berubah jadi lembah
Sulbiku menjelma batu
Dan bunga-bunga anyelir tumbuh
Dan kembang-kembang anyelir mekar
**

MAHMOUD Darwish lahir di kampung Birwa, di timur Acre di barat Galilee, 13 Maret 1941. Pada saat ia berumur 6 tahun, kampung itu dibumihanguskan tentara Israel. Darwish dan keluarganya melarikan diri ke Lebanon. Tahun berikutnya, ketika keluarganya kembali ke tanah yang telah diduduki, mereka mendapati kampung lamanya telah dilenyapkan. Mereka kemudian pindah dan tinggal di Deir al-Assad. Tidak ada buku di rumah Darwish dan perkenalan pertamanya dengan puisi adalah melalui para penyanyi-pengembara yang melarikan diri dari kejaran tentara Israel. Abangnyalah yang mendorongnya untuk menulis puisi.

Periode awal kumpulan puisinya Leaves of the Olive Tree (1964), A Lover from Palestine (1966), dan End of the Night (1967) dipublikasikan di Israel. Pada masa itu, Darwish menjadi anggota Partai Israel, Rakah, dan editor edisi bahasa Arab koran partai, Al-Ittihad.

Pada 1971, Mahmoud Darwish meninggalkan Israel dan melanjutkan studi di Universitas Moskow. Setelah tinggal sebentar di Kairo, ia pergi ke Beirut dan menangani sejumlah pekerjaan di Pusat Riset Palestina. Ia tetap tinggal di kota itu selama fase pertama perang sipil sebelum hijrah bersama Yasser Arafat dan PLO pada 1982. Ia pindah ke Tunisia, lalu ke Paris, dan menjadi pemimpin redaksi majalah sastra berpengaruh, Al-Karmel. Meskipun pada 1987 ia menjadi anggota komite eksekutif PLO dan ikut menulis draf Deklarasi Kemerdekaan Palestina, ia tetap menjauhkan dirinya dari konflik kepentingan kelompok di dalam tubuh PLO sendiri. Ia pada banyak kesempatan mengungkapkan sikapnya bahwa ia seorang penyair “dengan perspektif khusus atas realitas.”

Selama berada di Paris, Mahmoud Darwish menulis Memory of Forgetfulness (1987) yang edisi Inggrisnya terbit pertama kali delapan tahun kemudian. Memoar itu mengisahkan situasi kota Beirut di bawah hujan bom Israel pada 1982.

Selama karier kepenyairannya, Mahmoud Darwish telah menerima berbagai penghargaan, antara lain: The Lotus Prize (1969); Lenin Peace Prize (1983); The Knight of the Order of Arts and Letters (1993); dan Prince Claus Awards (2004).***

* Cecep Syamsul Hari, Penyair dan Redaktur majalah sastra “Horison”
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/humanisme-mahmoud-darwish.html