Keinginan Ibu

Bagus Sidi Pramudya
http://www.suarakarya-online.com/

Jakarta pukul lima sore. Jalanan mengular mobil-mobil. Aku terpuruk di kursi belakang dalam biskota. Keringat meleleh di kening dan pipiku. Kulirik jam tangan, pukul lima lebih dua puluh menit. Jadi, hampir setengah jam aku terjebak kemacetan. Janjiku pada Tari, istriku, untuk sampai di rumah tepat pukul lima jelas tak bisa kupenuhi.

Kubayangkan wajah Tari, yang pasti akan murung dan malas tersenyum bila menyambut kepulanganku nanti. Tari seolah tak mau mengerti bahwa di Jakarta keterlambatan seorang suami pulang ke rumah adalah hal yang lumrah. Tari tak tahu atau tak mau tahu bahwa kemacetan di Jakarta dari tahun ke tahun semakin menggila.Maksudku, mungkin akan membuat orang-orang yang sering terjebak macet menjadi gila.

“Mas nanti bisa kan sampai di rumah jam lima?” Itu pertanyaan atau tepatnya permohonan Tari tadi siang melalui telepon selular. Tak ada kepastian untuk memenuhi keinginan Tari. Mana mungkin aku bisa sampai rumah jam lima. Bubar kantorku pukul setengah lima. Sedang waktu tempuh dari kantorku yang berada di pusat kota dengan rumahku yang berada di pinggir kota hampir dua jam setengah. Itupun bila kondisi jalan lancar.

“Mas,” Tari mengingatkan. Aku tersentak. Kujawab selintas ya. Tapi, Tari tak puas. Dengan sedikit gusar Tari bilang ini permintaan ibu.

“Ibu mengundang kita makan malam bersama dan kata beliau ada satu hal penting yang akan dibicarakan dengan kita!” Tiittt, Tari menutup pembicaraan. Aku menghela nafas. “Ibu,” aku menggumam. Perempuan setengah baya yang kami, aku dan Tari, sangat sayangi.

Langit temaram tatkala aku tiba di gerbang perumahan. Pukul setengah tujuh malam. Kuayunkan kaki menuju rumah. Satu-dua orang tetangga yang baru selesai sholat magrib di masjid menyapa.”Mas gimana sih..,” itu ungkapan pertama Tari saat aku tiba di rumah. Segera kuberi isyarat agar istriku diam. Aku tak mau persoalan sepele ini menjadi gangguan stabilitas ketentraman rumah-tanggaku malam ini.

“Hampir lima menit sekali ibu tadi telpon, menanyakan apakah kita bisa hadir di rumah beliau malam ini,” berondong Tari menjelaskan situasi yang dihadapinya sore tadi.

“Jelaskan saja, tak mungkin aku bisa sampai rumah tepat jam lima.”

“Ibu tak mau mengerti, Mas. Bahkan Ibu bilang kita anak-anak yang tak mau menghargai orangtua,” ucap Tari menahan tangis.

“Sudahlah Tari! Nanti kita ke rumah ibu!” kataku menenangkan hatinya. Tari menatapku. “Maafkan ibu, Mas,” ucapnya lirih. Aku mengangguk dan tersenyum.

* * *

Berulangkali kami mengetuk pintu rumah ibu, tapi tak ada jawaban. Salam kami pun tak berbalas. Tari kulihat mulai gelisah. Airmata menggenangi pelupuk matanya. Aku pun mulai dilanda bingung. Tidak biasanya ibu pergi tanpa kami ketahui.

Segera kucari informasi tentang ibu. Kutanya beberapa tetangga dekat ibu. Rata-rata mereka menggeleng dan menjawab tak tahu. Mendengar jawaban mereka, aku dan Tari menjadi cemas. Pikiran kami mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Tak sedikit berita di media mengabarkan kematian seseorang dengan cara yang mengenaskan. “Mas, aku takut ibu,”

“Husss!” aku memotong kalimatnya. Aku tak mau pikiran-pikiran negatif menyergap otak kami. Walau kuakui, aku pun kuatir ibu mengalami sesuatu yang membahayakan keselamatan jiwanya.

Tari menangis. Aku kalut dan tak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa menunggu. Satu jam, dua jam.. tiga jam sudah kami menunggu. Ibu tak kunjung muncul.
“Mas.. kita harus mencari ibu,” ajaknya. “Iya tapi kemana kita mencarinya,” jawabku cemas.

* * *

“Mas, ibu tak ada di rumah.” Suara Tari kudengar panik di telepon. Aku yang sibuk menyelesaikan pekerjaan kantorku tak hirau dengan kabar istriku. “Mas.. ini serius. Aku ini berada di rumah ibu. Pintu rumah terkunci dan aku tak melihat ibu di rumah,” berondong Tari melontarkan kecemasannya. “Alah paling-paling ibu keluar sebentar. Tunggu saja dulu di situ.”
“Tapi aku takut seperti kemarin, Mas!” ungkap Tari.

“Tenang, Tari, takkan terjadi apa-apa dengan ibu,” aku membesarkan hati Tari. Tak ada jawaban dari istriku karena telepon selulurnya langsung dimatikan.Alhasil, kabar dari Tari tadi mengganggu konsentrasi kerjaku. Berkali-kali aku melihat jam tangan, sesaat kemudian menengok jam di dinding kantor. Tak ada yang beda. Waktu sama-sama menunjukkan pukul empat sore. Aku gelisah. Ingin rasanya waktu cepat berlalu.

Untuk membunuh waktu kutenggelamkan kembali konsentrasiku pada pekerjaan. Lumayan berhasil. Tak terasa jam setengah lima menjelang. Aku segera berkemas dan melesat keluar dari kantor. Tujuanku satu, rumah ibu. Di rumah ibu, aku tak mendapatkan Tari. Hanya ibu yang menyambut. Setelah basa-basi, aku langsung bertanya pada ibu. Aku tak mau memendam kegelisahan ini berlarut-larut. Lagi pula aku tak mau Tari terus-menerus cemas memikirkan tingkah-laku ibunya yang sudah satu minggu ini selalu menghilang bila adzan magrib menjelang.

Mendengar pertanyaanku, ibu tak menjawab. Aku menunggu. Sejurus kemudian ibu tersenyum dan menggeleng. Aku tak mengerti makna senyuman ibu. Dengan senyumannya seolah ibu menyimpan rahasia besar yang tak patut aku ketahui. Aku tak memaksa, dan memilih pamit pulang.

Mendengar ceritaku tentang pertemuanku dengan ibu, membuat Tari makin cemas. Istriku memaksa agar aku bertindak.
“Bertindak seperti apa, Tari,” tanyaku tak mengerti.
“Mas harus mencari tahu kemana ibu pergi,” desak Tari.
“Paling-paling ibu sholat magrib di masjid,” jawabku.

“Aku sudah mengeceknya, Mas. Kemarin aku pun sholat magrib berjamaah di masjid, tapi tak kulihat ibu di masjid,” jelas Tari.
Aku tersentak. “Sungguh, kemarin kamu tak melihat ibu di masjid?” tanyaku.
Tari mengangguk. Aku memandang wajahnya. Kini, kegelisahan menggayuti hati kami berdua.

Percakapanku dengan Tari semalam membuahkan sebuah rencana. Hari ini aku izin pulang lebih awal. Tak lupa aku pun meminjam sepeda motor kantor. Rencananya, aku dan Tari akan menguntit kemana ibu pergi.

Tiba di rumah, kulihat Tari telah bersiap. Aku berpesan pada Tari, apapun yang nanti terjadi pada ibu, ia tak boleh kecewa ataupun marah. Tari mengangguk, walau kulihat juga keraguan di matanya.

Pukul lima sore, aku dan Tari telah berada di satu tempat yang tak jauh dari rumah ibu. Kami mengintai. Tak berapa lama kami melihat sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah ibu. Seorang laki-laki muda keluar dari dalam mobil. Ibu tampak suka-cita menyambutnya.

Kulirik Tari. Wajahnya sedikit gusar. Istriku seperti menahan marah dan kecewa. Kugenggam jemari Tari, memberi kekuatan sekaligus mengingatkan janjinya untuk tidak marah setelah melihat apa yang diperbuat ibu.

Tak sampai satu jam, ibu pun berlalu bersama mobil tersebut. Aku segera menstater motor dan melaju mengikuti ibu. Kami membuntuti mobil yang ditumpangi ibu. Beberapa saat aksi kami berjalan lancar. Tapi, saat mobil yang ditumpangi ibu masuk ke jalur tol dalam kota kami pun kehilangan jejak. Aku segera menghentikan laju motorku dan menepi.

Aku merasakan pundakku basah. Aku tahu Tari menangis di pundakku. Mungkin ia kecewa dengan kelakuan ibu. Ibu yang selama ini kami hormati dan kami kagumi akan kesetiaannya terhadap cinta almarhum bapak, kini berulah layaknya gadis remaja yang tengah kasmaran.

Aku menuntun Tari ke sebuah warung tenda yang ada di pinggir jalan. Kupesan dua gelas teh manis hangat. Tari kusuruh minum. Baru dua tegukan Tari menangis lagi.
“Aku kecewa dengan ibu, Mas!” ungkapnya.

“Tenang, Tari. Kita belum tahu apa yang dilakukan ibu dengan anak muda itu, jadi kita jangan gampang menuduh ibu yang berbuat yang tidak-tidak.”

Untuk meredakan kegundahan Tari, aku mengajaknya nonton bioskop. Dua jam kami menikmati tontonan. Selesai nonton, Tari kuajak makan di salah satu rumah makan favorit kami. Kulihat Tari sangat menikmati suasana. Selesai makan aku mengajak Tari pulang. Tapi ternyata, Tari tak ingin pulang. Ia ingin ke rumah ibu malam ini juga. Aku membujuknya agar besok pagi saja kami ke rumah ibu. Tari tak mau. Ia ngotot ingin ke rumah ibu. Alhasil, akupun menuruti keinginannya. Tak sampai dua jam, kami telah sampai di rumah ibu.

Motor kuparkir di halaman rumah. Sesaat akan melangkah ke dalam rumah, kami tercengang. Suasana rumah ibu terlihat ramai. Lampu di rumah tamu pun terlihat menyala terang, padahal waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Tak biasanya rumah ibu seperti ini. Biasanya pukul 21.00 ibu telah masuk ke kamarnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, kami mendengar suara ribut anak-anak dari dalam rumah ibu. Aku dan Tari saling pandang untuk kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.

Tiba di dalam rumah kami tersentak. Wajah Tari kulihat langsung memerah karena kecewa bercampur amarah. Kami bertemu kembali dengan lelaki muda yang tadi menjemput ibu dengan mobil sedan dan juga tiga anak kecil yang tengah menggelayut manja di lengan dan pangkuan ibu.
“Ibu…,” suara Tari tersendat karena menahan amarah dan juga tangis.

“Nah kebetulan, kebetulan anak-anak ibu datang. Sini.. sini.. ibu mau berterus terang pada kalian.” Suara ibu terdengar ceria.

“Ini mas Hidayat,” ibu menunjuk dan memperkenalkan lelaki muda yang duduk di hadapannya. Lelaki bernama Hidayat itu berdiri dan mengajak salaman. Meski perasaanku masih diliputi tanda tanya tentang siapa lelaki bernama Hidayat itu, aku tetap menyambut uluran tangannya.
Berbeda dengan istriku, ia membuang muka dan tak menanggapi uluran tangan Hidayat.

“Tari…,” ibu berkata lembut. “Mari nak.. kita semua duduk dan Ibu mau menjelaskan siapa mas Hidayat ini dan siapa anak-anak ini,” ungkap ibu.
Sejurus setelah kami duduk, Tari langsung meledak.

“Bagi Tari semua sudah jelas. Jadi ibu gak perlu menjelaskan. Ibu mau menikah lagi dengan mas Hidayat kan, dan adik-adik yang dipangkuan ibu ini anak-anak mas Hidayat yang bakal menjadi anak-anak ibu yang juga nantinya menjadi adik-adik Tari,” berondong Tari dalam satu nafas.

Aku berdebar karena kuatir ibu marah setelah mendengar ucapan Tari. Sedetik-dua detik kutunggu suara ibu, tak juga terdengar. Kuberanikan diri menatap wajah ibu.

Aku tersentak. Kulihat senyum mengembang di bibir ibu. Tari semakin meledak. Ia merasa ucapannya benar bahwa ibu akan menikah lagi. Dengan kesal Tari berdiri, menarik tanganku dan mengajakku pulang.

Tapi, belum sempat kami beranjak, ibu bersuara. “Semua dugaanmu salah Tari. Ibu tak mungkin menikah lagi karena cinta ibu terhadap bapakmu tak mungkin pudar dan tergantikan. Anak-anak ini memang akan menjadi anak-anak ibu tapi anak-anak asuh ibu. Dan, mas Hidayat ini adalah pengurus rumah singgah dan yatim-piatu yang memperkenalkan ibu dengan anak-anak yang manis-manis ini. Ibu berencana menjadi ibu asuh bagi ketiga anak-anak ini di sisa usia hidup ibu. Ini yang sebenarnya hendak ibu bicarakan dengan kalian kemarin, tapi kalian tak pernah punya waktu untuk datang ke sini,” beber ibu yang membuat aku dan Tari tercengang kembali.

Suasana menjadi hening. Tak ada suara di antara kami, sampai akhirnya kulihat Tari menubruk ibu dan menangis di pangkuan ibu. Berkali-kali aku mendengar permintaan maaf Tari kepada ibu, di sela-sela tangisnya yang semakin keras. ***

* Cibinong, akhir Mei 2011.