Kenangan Dini, Pencerahan Spiritualisme

S Prasetyo Utomo*
Kompas, 25 Maret 2007

Genre sastra kita sungguh kering dari penciptaan otobiografi yang berkadar literer. Kebanyakan otobiografi ditulis dengan kejutan politik, beranjak dari visi dan polemik kekuasaan. Beruntung kita memiliki Nh Dini yang selalu mencipta otobiografi—yang disebutnya sebagai “seri kenangan”—dengan kekuatan style, eksotisme, detail setting, dan kesadaran empati yang memancar dari dalamnya. Ini dapat kita telusuri dalam seluruh bangun seri kenangan terbarunya, La Grande Borne (PT Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Ia berbeda dengan Nawal el-Saadawi ketika mencipta biografi seorang tokoh yang bernama Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol. Nawal el-Saadawi menggunakan kekuatan literer dan ketajaman bahasanya untuk memancarkan aspirasi feminisme. Ia mendobrak budaya patriarki. Kekuatan diksi, style, unsur-unsur sastrawi diarahkan untuk membongkar kebusukan budaya dan kekuasaan yang didominasi kaum laki-laki. Jadilah karakterisasi tokoh hitam-putih. Nh Dini bukanlah seorang feminis serupa itu. Ia mengekspresikan kehidupan dan kegetiran kenangan kewanitaannya tanpa memperalat unsur-unsur sastrawi demi kepentingan feminisme.

Ia juga tak setara dengan Elie Weisel, yang menulis otobiografi Malam (La Nuit). Otobiografi ini begitu sarat muatan humanisme, tetapi pada ujungnya menyisakan kegetiran penindasan politik Nazi Hitler. Dengan otobiografinya itu, Elie Weisel membukakan mata dunia akan ketertindasan bangsa Yahudi. Nh Dini tak memberikan perlawanan ideologi maupun politik dalam seri kenangannya, tak meradang atas nama “kaum yang tertindas” sebagaimana Nawal el-Saadawi. Ia tak mengeksplorasi penderitaannya sebagai wanita Timur yang ditindas sang suami yang berasal dari peradaban Barat. Ia sedang membebaskan nuraninya, mengekspresikan spiritualisme dalam tekanan-tekanan hidup yang berat. Ia mengisahkan seri kenangan ini, di tengah-tengah setting dan kultur Barat, dengan kekuatan spiritualisme Timur.

Pencerahan

Hal yang cukup menarik, seri kenangan ini ditulis pada kurun waktu yang cukup jauh dari kejadian sesungguhnya, yakni pada dekade 70-an. Ada ruang kontemplasi dan pengendapan yang cukup matang bagi Nh Dini untuk menuturkan kembali kisah-kisahnya. Justru pada saat ia hidup seorang diri, jauh dari suami dan kedua anak yang dikasihinya, Lintang dan Padang, di bumi kelahirannya, dia rangkai kembali serpihan-serpihan kehidupan ketika tinggal di kawasan Grande Borne.

Seri kenangan ini merupakan bagian kehidupan Nh Dini pada saat hubungan rumah tangganya dengan Yves Coffin, sang suami, mengalami pelapukan dari dalam. Telah terjadi disharmoni dengan suami, kehilangan kekasih, dan juga digerogoti penyakit yang memadamkan cahaya hidupnya. Akan tetapi, ia bukanlah seorang tokoh yang lahir dari leluhur yang gamang pada tekanan-tekanan kehidupan. Dalam darahnya mengalir trah pengikut Pangeran Diponegoro, yang memberinya sugesti untuk menemukan pencerahan dari tekanan-tekanan berat hidupnya.

Berulangkali Nh Dini kembali mencari pencerahan dari spiritualisme Timur, yang mengendap dalam sanubarinya. Ia menyebut pengalaman hidupnya memang dikehendaki Tuhan agar mengenyam aneka ragam kehidupan, tidak selalu sama, mendatar tanpa variasi. Ia wajib mengikuti jalan yang digariskan untuknya dengan kerelaan serta kepasrahan tanpa batas. Untuk meneruskan kehidupan, pelita masih menyala dalam batinnya walaupun hanya berupa kedipan lemah. Akan tetapi, ini bukan berarti fatalisme. Ia bukan selembar kulit belulang yang dibentuk dan digambari sebagaimana anak wayang yang dimainkan ki dalang.

Bahkan, terhadap kucing kesayangannya, yang dipanggil Miu, Nh Dini bisa membebaskan humanisme dan spiritualismenya. Dengan kehadiran Miu, eksistensinya sebagai manusia semakin sempurna. Miu menjadi makhluk satu-satunya di rumah yang memberi keleluasaan bagi Nh Dini untuk berbicara dalam bahasa Jawa ngoko. Kesempatannya berbahasa Jawa krama inggil dilakukannya pada saat ia berdoa dan berbicara dengan Gusti Allah.

Eksistensi kekasih dalam kehidupan Nh Dini bukanlah sebuah pelarian atau pencarian akan kesenangan nafsu. Baginya, Maurice, yang disebutnya dengan Kapten Bagus, bukanlah keisengan, melainkan anugerah tak ternilai, tidak dapat dibandingkan dengan semua kekayaan duniawi. Ia memang sempat meratap dalam bahasa Jawa ketika diketahuinya kekasihnya mengalami kecelakaan, “Gusti Allaaaaah, kados pundi Maurice lan dalem meniko….” (Tuhan Allah, bagaimana Maurice dan hambaMu ini…). Akan tetapi, ia selalu kembali mendapat cahaya untuk bangkit menghadapi hidup. Kekosongan ditinggal kekasih bukan berarti ia dapat mengisi dengan kehadiran kekasih baru.

Nh Dini juga menjalani spiritualisme manusia Jawa, dengan berpuasa Senin-Kamis dan pada Minggu Kliwon, hari weton-nya. Ia masih sempat berzikir, memohon pengampunan kepada Gusti Allah, dan sampai pada suatu kesadaran bahwa Tuhan mencipta manusia dengan sifat dan rupa yang berbeda-beda. Ini dianggap sebagai keagungan-Nya.

Seratus persen fakta

Dalam pemahaman sekilas, kita dapat saja mengatakan perkembangan alur yang dijalin Nh Dini dalam seri kenangan ini berjalan lamban. Akan tetapi, sesungguhnya, di balik detail peristiwa dan perkembangan alur yang terkesan lamban itu ia menyimpan mutiara-mutiara perenungan yang cemerlang. Ia juga tidak melihat peristiwa dari sudut pandangnya sendiri, yang menggaris karakterisasi menjadi hitam-putih. Bagaimanapun ia masih melihat sisi-sisi baik yang memancar pada diri suaminya, Yves Coffin (yang selalu disebut dalam idiom kultur Jawa: “bapaknya anak-anak”) sehingga terkesan penuturannya manusiawi.

Nilai buku ini justru terletak pada kesederhanaan peristiwa- peristiwa yang dimunculkannya. Di sinilah ia mengolah peristiwa sehari-hari dalam style yang hidup, yang mengekspresikan ketenangan spiritualisme Jawa. Bukan dalam perlawanan yang tajam menikam sebagaimana novelis-feminis Nawal el-Saadawi. Ia sendiri menyadari bahwa seri kenangannya kali ini—yang sering kali disalahpahami sebagai novel—dijalinnya dengan seratus persen fakta, yang ditulis tanpa beban teori-teori feminisme.

* S Prasetyo Utomo, Cerpenis dan Pemerhati Sastra, Tinggal di Semarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/esai-kenangan-dini-pencerahan.html