Kota dan Penyair

Juniarso Ridwan
Pikiran Rakyat, 12 Des 2010

SEBUAH kota tidak serta merta hadir untuk memenuhi deretan daftar keinginan manusia penghuninya. Tidak juga diproyeksikan untuk mengaktualisasikan harapan yang semakin jenuh. Sebuah kota merupakan perwujudan kompromi yang saling berkaitan antara keinginan manusia, bentuk lahan, kondisi topografi, kekayaan alam, posisi tapak, orientasi terhadap lingkungan sekitar, kondisi tanah, kemampuan merekayasa, kemampuan ekonomi, jangkauan administrasi dan legislasi, lalu-lintas sosial-budaya, serta harapan-harapan yang terus tumbuh. Kota adalah sumber energi bagi penyair yang terus bergulat menggali idiom-idiom baru bagi peningkatan kekayaan kosakata yang akan disemburkan melalui karya kreatifnya. Kota merupakan jalinan interaksi sosial yang tiada henti, mulai dari gerak langkah penyelarasan sampai pada benturan konflik, yang bermuara pada proses pembaharuan dan munculnya persemaian toleransi.

Kota menjadi ladang perburuan kata-kata dengan suasana yang selalu dipengaruhi waktu, sebagaimana ditangkap Chairil Anwar muda dalam salah satu puisinya: Aku berada kembali. Banyak yang asing;/air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elang/ serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain//rasa laut telah berubah dan kupunya wajah/juga disinari matahari/lain. (“1949”).

Bagi kebanyakan penyair, suasana kota yang terasa lebih dinamis dibandingkan dengan kampung halamannya, telah mendorong tumbuhnya sebuah “pemberontakan jiwa” untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Kehidupan kota merupakan tantangan lain yang harus dihadapi dan ditundukkan sekaligus. Dengan berbagai sarana dan prasarana yang mudah dijumpai, penyair dapat dengan leluasa melakukan interaksi dengan lingkungannya, tidak tersekat oleh keterbatasan ruang dan waktu. Baik bergaya ataupun berakting, si pesolek maupun si revolusioner sama-sama memerlukan sebuah kesatuan eksistensi, sekaligus eksis di dunia ini, ujar Albert Camus.

Penyair, sepertinya bersikeras ingin menghadirkan dunia khayal yang menjadi impiannya, sedangkan dalam proses itu dibatasi realitas dunia yang hadir di sekelilingnya. Kota bisa jadi personifikasi impian yang secara simultan menjadi pembatas karena tanda-tanda atau simbol-simbol hadir secara konkret bagi masyarakat awam. Memang disadari benar, puisi sebagai bentuk karya seni modern bersifat eksklusif, artinya hanya dapat dinikmati segelintir orang, kalangan tertentu saja, karena dibatasi oleh nilai estetik yang sangat subjektif. Dengan demikian, untuk sampai pada tahapan memahami dan menikmati, harus tumbuh kesesuaian pada ranah penilaian estetik yang sama.

Sebaliknya, bagi penyair, puisi merupakan bentuk karya yang bersifat terbuka, dan secara objektif dapat ditafsirkan secara bebas oleh pembacanya, sesuai dengan wawasan, jangkauan pemahaman, dan sikapnya dalam melakukan penilaian akhir. Namun , acap kali dijumpai adanya ruang kosong yang tidak dapat diterobos penilaian estetik masing-masing pihak. Barangkali hal ini dapat disebutkan merupakan kesenjangan pengalaman estetik. Mengenai pengalaman estetik ini, sebenarnya secara kodrati bagi setiap orang dapat diperoleh dengan tingkat kesempatan yang sama.

Simak bait puisi karya Kriapur ini: memasuki sunyi, kulihat kota/terayun di udara/dan di pagi sedingin itu, kau menangis lagi/kabut belum luruh/air matamu jatuh. (“Memasuki Sunyi”). Di sini Kriapur melihat sosok kota sebagai perwujudan kemuraman yang mengantarkan nasib manusia layaknya pohon rapuh, yang selalu menghadapi pergulatan hidup yang keras dan tidak menentu.

Berbeda dengan Kriapur, Joko Pinurbo justru melihat kota dari sisi yang penuh keceriaan, menggoda: Ia duduk seharian di salon kecantikan/Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin/Menyusuri langit putih biru jingga/dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala// Sekali ini aku tak mau diganggu/Waktu seluruhnya untuk kesendirianku (“Di Salon Kecantikan”).

Bagi Toto Sudarto Bachtiar, kota bisa membuat orang-orang kalah dalam pertarungan hidup. Kota bisa mendepak nasib seseorang dengan kejamnya, sebagaimana diungkapkan dalam bait ini: Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari/Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi/Di sungai kesayangan, o, kota kekasih/Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi/Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan. (“Ibu Kota Senja”).

Namun, kota juga dapat menggugah romantisme, perasaan syahdu, seperti disampaikan Guillaume Apollinaire: Di bawah jembatan Mirabeau mengalir Seine/Dan kasih kita/Selamanya harus tinggal di sana/Kenangan girang disusul duka/Walau malam pasti datang dan jam luput berdetak/Hari-hari cepat silam, aku tidak. (“Jembatan Mirabeau”).

Kota bagi penyair adalah ruang kehidupan tempat berbagai tanda dan referensi dengan mudah dicomot, kemudian digabungkan, diolah menjadi sebongkah pengalaman estetik yang diaktualisasikan dalam karya puisi.
_________________
Juniarso Ridwan, penyair
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/12/kota-dan-penyair.html