Merenungkan Tiga Karya Mahmud Jauhari Ali

Dwi Klik Santosa *

Tiga buah buku karya penulis muda Kalimantan Selatan. Sebuah novel Lelaki Lebah. Sebuah kumpulan cerpen Imanku Tertelungkup di Kakinya dan kumpulan puisi Selia. Adalah karya terbitan terbaru. Karena tercetak tahun 2010 dan dua buku tertulis 2011.

Gerak keseharian saya yang jumpalitan dan cara hidup saya yang mengalir begitu saja, memang tak mampu membaca keseluruhan isi ketiga buku dalam waktu secepat itu. Namun setidaknya, dari ketiga buku berbeda format itu, berusaha saya cermati dan telanjangi dari kebiasaan saya membaca sebuah karya, sebagaimana selama ini kerandoman itu saya jalani. Membaca dulu biografi pengarangnya. Lalu melototi kemasan, lay out dan logika desainnya. Dan baru, secara parsial dan loncat-loncat membaca isinya. Itupun, saya lakukan tidak dalam satu waktu. Setidaknya dalam dua hari ini, sejak buku itu sampai di tangan saya, telah mengalami enam hingga delapan kali fase membaca .. Berangkat dan pulang kantor. Dua jam waktu perjalanan pulang pergi, kali dua hari. Sekitar tujuh jam maksimal membaca. Yaaaa .. begitu deh.

Kesan saya paling awal membaca logika dan motif lahirnya karya itu adalah kesantunan seorang yang terpola dalam keseharian yang Islami, namun tak mengurangi greget kekritisannya. Logika-logika kejadian dan fragmentasi sangat mudah dicerna. Tidak njlimet. Apalagi disampaikan dengan tata bahasa yang baku dan lancar. Jelas tergambar kesahajaan dan ketertataan visi dan misi kepengarangan seorang MJA. Punya titik-titik perbedaan yang sangat miring andaikata harus disimak dari proses dan habit seorang DKS …. yang acak adut, meloncat-loncat dan tak kenal urut, atau utuh, seoalah-olah. Sangat jauh dari kesan santun apalagi islami. Lha wong Marx, Nietscze, Wayang, Dongeng-dongeng tahyul, Dunia binatang, bal-balan, badminton, bahkan kadang-kadang buku stensilan Annie Arrow dan Wiro Sableng saja sempat-sempatnya menyelinap ke dalam ruang cernanya. Haduuuuhhh ….

Namun, secara eksplisit ada yang saya tangkap dan rasakan secara resap. Ketika sejenak mencoba mencari-cari, sekedar usil mengurai siapa kira-kira MJA ini. Hal yang cepat mengingatkan kenangan saya akan sosok kepengarangan sastrawan dari Pekalongan, SN Ratmana. Beliau yang terlahir di tahun 1936 ini adalah satrawan seangkatan Rendra. Dan sebagai laki-laki yang terlahir sebagai pedagogik dari kaukus Islam pesisiran Pekalongan-Batang-Tegal, tentunya pada era tahun 1960-an pernah tercatat sebagai yang pernah bergolak. Tentunya kita masih ingat ada gejolak besar pada waktu itu yang lantas terkenal dengan jargon Manikebu (Manifes Kebudayaan seniman dan sastrawan menolak komunisme). Ada dalam catatan, SN Ratmana pernah bersegandeng dengan sastrawan kondang Goenawan Mohamad dan Kakaknya yang dokter idealis Kartono Mohamad yang terlahir dan berkampung halaman di Batang. Dua buku Pak Cik, begitu saya suka memanggil beliau, yakni Sedimen Senja dan Dua Wajah dan Satu Sisipan, nyaris persis seperti kedua karya MJA, Imanku Tertelungkup di Kakinya dan Lelaki Lebah. Sangat santun, sederhana dan empuk direnungkan. Jauh sekali dalam kesan seperti gaya saya menulis : nakal, binal, urakan, aleman (bener nggak siiihh) ….

Lantas saya teringat sebuah komentar Goenawan Mohamad pada tahun 2001, ketika buku Pak Cik, Dua Wajah dan Satu Sisipan diluncurkan di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur. ”Ia adalah salah satu senior dan teman terbaikku. Orangnya pendiam dan paling alim sejauh yang saya kenal. Apa yang ditulisnya adalah apa saja menjadi pengalaman hidup dan kesehariannya. Maka, kejujuran dan kesantunan itu yang lantas menjadi ciri yang kuat darinya. Maka, menurut saya, sastra Indonesia beruntung memiliki seorang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, lugu dan polos dalam berbudi pekerti. Karena ia seorang guru dan lalu kemudian menjadi kepala sekolah dari beberapa fase perjalanan hidup yang dijalaninya, maka layaklah ia menjadi sosok karismatik yang disegani para guru dan juga banyak muridnya. Begitu pula bagi para sahabat-sahabatnya termasuk saya. Kiranya, sebagai seorang yang saleh dalam menjalani keseharian dan tugas-tugas kehidupan yang diembannya, karya-karya SN Ratmana adalah representasi dari nilai-nilai fundamental kandungan kekayaan bangsa ini.”

Pondokaren, 20 September 2011
*) Penulis novel Abimanyu Anak Rembulan