Mesir Setelah Revolusi

Dr. Hasani Ahmad Said, M.A. *
http://www.lampungpost.com/

MESIR yang dikenal dengan sebutan Negeri Seribu Menara selalu menarik diperbincangkan. Setelah terjadi rangkaian revolusi yang dimulai 25 Januari 2011 lalu, kehidupan sosial politik Mesir berubah total. Revolusi ditandai dengan jatuhnya rezim Hosni Mubarak.

Demonstrasi besar-besaran yang menuntut jatuhnya Hosni Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun, pembubaran parlemen, hingga pembebasan para tahanan politik rezim Mubarak dan Anwar Sadat berawal dari demonstrasi menggugat kematian Khaled Said, pemuda Mesir yang meninggal dalam penjara lantaran disiksa aparat kepolisian. Kasus yang terkesan sederhana namun sarat ditunggangi kepentingan politik itulah yang memicu adanya gerakan perlawan di masyarakat Mesir.

Dua Kelompok

Mesir dikenal sangat kental dengan budaya Islam. Islam Mesir termasuk kelompok moderat melalui ajaran yang dikembangkan Universitas al-Azhar. Paling tidak ada dua gerakan Islam yang cukup mencuat, yakni Ikhwanul Muslimin dan gerakan Salafiyah yang menamakan diri Anshar al-Sunnah. Saat revolusi (tsaurah) berlangsung, Ikhwanul Muslimin dan Salafi bersatu dan hal itu dapat dilihat dari beberapa hal.

Pertama, baik Ikhwanul Muslimin maupun Salafi sama-sama mendukung revolusi. Meskipun ada anggapan beberapa ulama Salaf yang menyatakan revolusi Mesir merupakan fitnah, hal ini dibantah salah satu ulama Salaf yang diwakili Syaikh Muhammad Hasan.

Kedua, pembagian khatib dan tema Jumat. Ketika revolusi berlangsung, nuansa soliditas kedua kelompok itu tampak terlihat di Maidan Tahrir, lokasi demo terbesar di Mesir. Di tempat itu juga berlangsung pula salat jumat yang digelar demonstran. Dan yang menjadi khatibnya adalah Syaikh Khalid al-Murakibi, salah satu petinggi Salafi.

Di tempat lain, saat demo di Iskandariyah yang menjadi khatib jumatnya adalah Syaikh Ahmad al-Mahlawi dari Ikhwanul Muslimin. Selanjutnya, kedua kelompok itu melakukan penggiliran khatib jumat dengan tema yang sama pula.

Dari peristiwa di atas, dapat dianalisis meski Syaikh Muhammad Hasan dan Dr. Yusuf Qaradhawi memiliki pengikut masing-masing, hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menjadi ulama yang diterima, baik di pihak Salafi maupun Ikhwanul Muslimin. Bahkan, revolusi bukan hanya menyatukan kedua kelompok tersebut, juga antara Islam dan Kristen.

Meski demikian, pascarevolusi terdapat fakta baru yang mengejutkan di Iskandariyah yaitu adanya anggapan bahwa terjadi kebangkitan Salafi yang ditandai kendali kelompok Salafi atas 1.000 dari 4.000 masjid di kota pesisir itu.

Tindakan ini tentu mengecewakan orang-orang yang mengusung paham toleran dan liberal, karena dianggap masjid-masjid yang telah dikendalikan Salafi itu menjadi basis sarang pembiakan pemikiran dan idielogi fundamentalis. Apalagi Iskandariyah merupakan kota yang jauh jaraknya dari ibu kota Mesir, Kairo.

Dengan begitu, ini ditengarai akan digunakan sebagai tempat aman bagi berkembangnya kaum fundamentalis. Apalagi di Iskandariyah terdapat Universitas Alexandria, sebuah perguruan tinggi negeri yang pada tahun 1877 pernah diproklamasikan gerakan dakwah Salafi.

Mesir Terkini

Melalui pidato resmi Wakil Presiden, Omar Sulaeman, 11 Februari 2011, Mubarak akhirnya menyatakan diri mundur sebagai presiden dan kekuasaan negara langsung diambil alih Dewan Tinggi Militer di bawah komando Panglima Tinggi, Musyir Tantawi.

Penulis, yang tiba di Mesir pertengahan April 2011, melihat masih ada letupan dan teriakan dari pendemo yang menuntut perubahan, termasuk di Maidan Tahrir. Dalam simposiun di Alexandria (5-10), Menteri Tenaga Kerja dan Imigrasi Ahmad al-Burai mengungkapkan Mesir tengah melewati masa kritis dan di ambang kebangkrutan. Bukan itu saja, kini konflik sektarian kembali merebak.

Konflik sektarian terburuk sejak revolusi yang berbuntut kerusuhan melibatkan Kristen Koptik. Sedikitnya 24 orang tewas dan 300-an terluka. Berbagai analisis pun bermunculan. Ada yang menuding konflik dipicu konspirasi Barat.

Ketidakstabilan politik dan gesekan sosial di Mesir berlangsung sejak rezim terdahulu. Letupan sosial politik hingga kini menunjukkan Mesir masih menghadapi skenario dan pihak sulit.

Revolusi Mesir mengubah geopolitik di kawasan regional, termasuk kelompok-kelompok anti-Israel dan AS diprediksi bangkit kembali. Faktor ini pula yang memicu konflik kepentingan yang berimbas kepada perseteruan sektarianisme.

Lambatnya pemerintahan transisi menangani isu sektarian akan berimbas konflik. Masa transisi politik itu yang membuat komunitas Kristen yang berjumlah 10% dari jumlah penduduk Mesir frustrasi dan tertekan. Hal ini tentu menjadi dilema. Satu sisi jika pemerintah bersikap lunak bisa dituduh lamban, sebaliknya jika bersikap keras tidak akan menguntungkan pencitraan pemerintahan transisi.

Ancaman Transisi

Mesir di bawah rezim Mubarak adalah adalah garda terdepan bagi politik keamanan Israel dan perlawanan terdepan terhadap kubu politik ekstrem di Timur Tengah. Juga sebagai mediator perundingan Israel-Palestina.

Pemerintahan transisi juga membawa beban berat untuk misi politik luar negeri itu. Di saat yang bersamaan gejolak dan fiksi sosial-politik menuntut untuk segera ditangani. Bila tidak, atau bahkan lambat, bara konflik sektarian itu dikhawatirkan bisa menjadi letupan besar dan mengancam dapat menghentikan transisi.

Perjalanan revolusi yang bergulir di Mesir sejatinya mengawal munculnya kepemimpinan ideal yang berpihak kepada kepentingan rakyat, sehingga kehidupan rakyat Mesir dapat berubah menjadi lebih baik dan menjanjikan.

16 October 2011
*) Dosen Syariah IAIN Lampung Post Doctoral di Kairo, Mesir 2011