Mungkinkah Peraih Nobel Sastra dari Indonesia?

Egidius Patnistik
http://internasional.kompas.com/

Mungkinkah akan ada peraih Nobel di bidang sastra yang berasal dari Indonesia dalam waktu dekat ini? Mungkin saja. Peluang itu semakin besar setelah panitia Nobel di Swedia merekrut lebih banyak ahli untuk memantau karya para penulis yang menulis dalam bahasa bukan Eropa. Perekrutan itu dilakuan demi memperluas cakupan hadiah tersebut, kata juru bicara panitia Nobel, Selasa (4/10/2011).

Swedish Academy, yang memilih para pemenang di bidang sastra, telah dikritik terlalu Euro-sentris dalam menentukan pilihannya. Dari 10 hadiah terakhir, tujuh pemenang adalah orang Eropa.

Sekretaris Tetap Swedish Academy Peter Englund kepada Associated Press mengatakan, “Para ahli itu menjadi pengintai kami di dunia dan harus membantu kami untuk tidak melewatkan para penulis penting.” Ia menambahkan, dalam dua tahun terakhir, akademi itu mendorong 10 hingga 15 ahli freelance untuk mengusulkan karya para penulis dalam bahasa yang tidak dikuasai anggota juri.

“Masalah besar bukan di bagian dunia berbahasa Inggris. Tidak ada wilayah bahasa yang menerima Hadiah Nobel sastra lebih banyak ketimbang wilayah berbahasa Inggris,” kata Englund. “Bagaimana jika kami melewatkan seorang penulis Amerika atau jika kami melewatkan seorang penulis Inggris? Bukan itu yang membuat saya tidak tidur di malam hari. Tetapi itu lebih pada, apa kompetensi kami ketika misalnya itu berkaitan dengan karya sastra dari Indonesia?” kata Englund.

Tahun lalu, Nobel sastra diraih warga Peru, Mario Vargas Llosa. Ia menjadi penulis Amerika Selatan pertama yang memenangkan penghargaan itu sejak Gabriel Garcia Marquez mendapatnya pada 1982. Dari Asia, belum ada lagi pemenang sejak Gao Xingjian yang kelahiran China meraih hadiah itu pada 2000.

Sementara dari Amerika belum ada yang memenangkan Nobel Sastra sejak Toni Morrison mendapatkannya pada 1993. Kanada menjadi rumah bagi setidaknya tiga penulis dunia yang paling dihormati, yaitu Margaret Atwood, Alice Munro, dan Michael Ondaatje. Namun, orang Kanada terakhir yang menerima Nobel Sastra adalah Saul Bellow pada 1976 yang pergi ke AS ketika masih anak-anak dan tinggal di Chicago.

Kesenjangan yang lebar juga dialami penulis dari Timur Tengah dan sub-Sahara Afrika, yang merupakan tempat tinggal penulis Amos Oz dari Israel dan penyair Suriah Adonis. Kedua orang ini disebut-sebut sebagai bakal peraih Nobel sastra tahun ini. Namun, nama peraih Nobel sastra tahun ini baru akan diumumkan Kamis besok. Si pemenang akan berhak atas hadiah sebesar 10 juta kronor (1,5 juta dollar AS).

Sumber: AP (5 Oktober 2011)
Dijumput dari: http://internasional.kompas.com/read/2011/10/05/09280676/Mungkinkah.Peraih.Nobel.Sastra.dari.Indonesia