SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN!

Nurani Soyomukti *

Tidak sedikit sastrawan yang mabuk keindahan. mereka terjebak pada “imperium keindahan”—dan lupa bahwa persoalan sastra adalam masalah humanisme: Sastra-Humaniora! Karenanya sastra(wan) harus punya nyali untuk bicara pada kemanusiaan. Kemanusiaan, dan bukan hanya keindahan dan permainan katakata, adalah kunci dari kegiatan kesusastraan. Masalahnya, jika persoalan sastra harus lebih ditekankan pada keindahan, mengapa penghargaan sastra (seperti Nobel Sastra) selalu saja diberikan pada sastrawan yang bicara banyak hal dan mengeluarkan pandangannya—yang penuh nilai dan berpihak—tentang manusia, masyarakat, dan sejarah? Continue reading “SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN!”

MEMPERTANYAKAN KWALITAS PUISI PENYAIR (ATAS?)

Cunong Nunuk Suraja

Penyair makin tua makin mantap jejak guratan penanya. Walau sedikit guyuh tapi tak lekang mengungkap daya kreatifnya untuk disodorkan ke pembaca. Puisi yang tercetak tentu sudah layak uji dan siap atau tidak siap menerima tanggapan pembaca. seperti pernah diungkap Sutardji CB bahwa salah cetak mungkin menjadi berkah atau malapetaka. Lebih-lebih jika dalam salah cetak atau unggah dalam dunia maya kesalah cetakan itu menimbulkan kesalahan logika kata. Continue reading “MEMPERTANYAKAN KWALITAS PUISI PENYAIR (ATAS?)”

Saya (bangga) Orang Madura *

Salamet Wahedi **

Syahdan, lelaki itu gugup dan gemetar menginjakkan kakinya di tanah luar tumpah darahnya. Tak hanya keasingan yang menyergap. Seribu bayangan berkelebat. Mereka menyeringaikan gigi tajam. Mereka membisikkan doa dan mantra, serta kutukan. Mereka yang bernama domba-domba kemanusiaan dan kebudayaan.

Bertahun, lelaki itu terkurung dalam seringai domba kebudayaan. Sekadar menyebut nama, apalagi tanah kelahiran, dia begitu gemetaran. Dirinya takut dihujat. Dijauhi. Dipandang sinis. Dan yang paling ditakutinya, dirinya diolok-olok: wuih, para pembunuh. Continue reading “Saya (bangga) Orang Madura *”

RIWAYAT TERBITNYA MAJALAH HORISON *

Kurniawan Junaedhie **

GAGALNYA Gerakan 30 September PKI yang terkenal dengan julukan G-30-S/ PKI, pada tahun 1965, menghancurkan cita-cita dan ambisi Lekra. Setelah melalui keadaan politik yang tak menentu, dan serangkaian demonstrasi KAMI/ KAPPI, pada tanggal 12 Maret 1966—sehari setelah menerima pelimpahan wewenang dari Presiden Soekarno— Letjen Soeharto membubarkan PKI beserta segala ormas-ormasnya. Dengan Surat Perintah yang dikenal sebagai Super Semar itu, Soeharto juga menyatakan PKI sebagai partai terlarang di seluruh Indonesia. Praktis, sejak itu era kepemimpinan Soekarno berakhir. Dengan demikian lahirlah Orde Baru. Continue reading “RIWAYAT TERBITNYA MAJALAH HORISON *”

Bahasa »